Persiapkan peringatan satu abad perlawanan Silungkang Sawahlunto, panitia survei jalur napak tilas
Menjelang satu abad peringatan Perlawanan Silungkang 1927, panitia melakukan survei jalur yang akan digunakan dalam kegiatan napak tilas dengan menelusuri sejumlah ruang yang ANTARA News sumbar 21 ...
Sawahlunto (ANTARA) - Menjelang satu abad peringatan Perlawanan Silungkang 1927, panitia melakukan survei jalur yang akan digunakan dalam kegiatan napak tilas dengan menelusuri sejumlah ruang yang berkaitan dengan rangkaian peristiwa perlawanan masyarakat Silungkang terhadap kekuasaan kolonial Belanda di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.
Wakil Ketua Bidang Acara Peringatan 100 Tahun Perlawanan Silungkang Asrul, di Sawahlunto, Sabtu, mengatakan survei dilakukan untuk memastikan rute, kondisi medan, keselamatan peserta, serta titik pelaksanaan renungan dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Survei dilakukan dengan berjalan kaki melewati Terowongan Lubang Kalam sepanjang sekitar 828 meter, kemudian dilanjutkan menyusuri jalur rel kereta api sekitar satu kilometer hingga kawasan Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Terowongan Lubang Kalam merupakan bagian dari jaringan perkeretaapian peninggalan kolonial yang menghubungkan kawasan Sawahlunto dan Muaro Kalaban. Berdasarkan dokumen nominasi Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto, panjang terowongan tersebut mencapai sekitar 828 meter.
Dari kawasan terowongan, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri jalur rel hingga kawasan Societeit Glück Auf yang kini menjadi Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Gedung Societeit Glück Auf dibangun pada 1910 dan pada masa kolonial digunakan sebagai tempat pertemuan dan hiburan bagi pejabat pemerintah kolonial yang bekerja di kawasan pertambangan Ombilin. Setelah direvitalisasi, bangunan tersebut kini difungsikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.
Asrul mengatakan napak tilas dirancang agar peserta tidak hanya mengenal Perlawanan Silungkang melalui buku dan dokumentasi, tetapi juga melihat secara langsung ruang yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
“Peringatan satu abad bukan sekadar seremoni. Ini momentum untuk kembali melihat sejarah secara lebih dekat, menghormati para pejuang, dan memperkenalkan jejak perlawanan kepada generasi sekarang,” katanya.
Menurut dia, perjalanan nantinya dilanjutkan dengan renungan suci di kawasan Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto untuk mengenang tiga pejuang yang menurut catatan sejarah dimakamkan di lokasi tersebut setelah menjalani hukuman mati oleh pemerintah kolonial Belanda.
Panitia juga merencanakan penggunaan obor dalam kegiatan napak tilas sebagai simbol untuk menjaga ingatan terhadap peristiwa perlawanan masyarakat Silungkang.
Asrul mengatakan peringatan tersebut juga menjadi momentum untuk membaca kembali sejarah secara utuh dan kritis melalui sumber-sumber yang tersedia, termasuk memahami konteks peristiwa pada zamannya.
“Kami ingin peringatan ini menjadi momentum untuk membuka kembali sejarah melalui sumber-sumber yang ada, melihat konteks zamannya, dan tidak sekadar mengulang label atau kesimpulan yang diwariskan. Yang terpenting adalah menghormati fakta, menghormati para pejuang, dan memastikan generasi berikutnya mengetahui bahwa pernah ada perlawanan terhadap kekuasaan kolonial di tanah ini,” ujarnya merinci.
Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra menilai konsep dan kerangka peringatan 100 Tahun Perlawanan Silungkang yang disiapkan panitia menarik karena mengandung nilai edukasi bagi generasi muda, terutama dalam mengenalkan kembali sejarah perjuangan masyarakat di daerah.
Wali Kota mengatakan Pemerintah Kota Sawahlunto siap bersinergi dan memberikan dukungan sesuai peran pemerintah daerah serta kondisi anggaran yang tersedia dalam rangkaian peringatan tersebut.