pickleballvnz.com

Jabar: Permainan tradisional lolorian menarik anak dari layar gawai - BBC News Indonesia

Lolorian adalah permainan semacam roller coaster, dengan rel yang dibuat dengan pelepah pohon aren sepanjang 200 meter. Rel itu sengaja dipasang di jalanan menurun agar memiliki daya luncur. Kampung Ciherang di Garut, Jawa Barat, memiliki topografi dataran tinggi berbukit, cocok untuk permainan ini.

Hana dan keluarga bermain lolorian.

Sumber gambar, Yuli Saputra/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Hana dan keluarga bermain lolorian.

Tak ada bosannya Hana, seorang ibu dua anak, mengunjungi wahana permainan lolorian di Kampung Ciherang, Desa Cihaurkuning, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut.

Hari itu, Sabtu (13/06), dia mengunjungi lokasi yang hanya berjarak satu kilometer dari rumahnya itu bersama suami dan anak-anaknya.

Lolorian adalah permainan semacam roller coaster, dengan rel yang dibuat dengan pelepah pohon aren sepanjang 200 meter. Rel itu sengaja dipasang di jalanan menurun agar memiliki daya luncur.

Kampung Ciherang memiliki topografi dataran tinggi berbukit, cocok untuk permainan ini.

Hana mengangkat papan yang bakal diduduki saat meluncur. Papan yang dibuat dari kayu pohon aren itulah yang disebut "lori" atau "lolorian". Hana memasang lolorian di atas rel dan mendudukinya, bersama suaminya, Adi, dan kedua anaknya.

Saat menduduki lolorian, pemain di urutan kedua dan seterusnya memegang bagian belakang papan lolorian, sehingga membentuk satu rangkaian layaknya rangkaian gerbong kereta api. Saat semuanya sudah tersambung, lolorian pun diluncurkan.

"Hampir setiap hari ke sini karena seru," kata Hana.

Berkat media sosial, lolorian Ciherang kini dikenal jauh melampaui kampung tempat permainan itu berasal di Garut.

Liputan media Malaysia, Jepang, hingga Jerman turut mendatangkan wisatawan yang penasaran mencoba sensasi meluncur di atas rel kayu tersebut.

Awal mula lolorian

Permainan lolorian tidak hanya dikenal di Garut atau Jawa Barat, tetapi juga di sejumlah wilayah pedesaan lain di Jawa.

Menurut pakar permainan rakyat Zaini Alif, permainan ini lahir dari kreativitas anak-anak yang meniru lori perkebunan dan kereta api yang mereka lihat pada masa kolonial.

Nama lolorian berasal dari kata lorrie dalam bahasa Belanda, yakni gerbong kecil yang berjalan di atas rel.

Pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, rel-rel lori Decauville membentang dari perkebunan menuju pabrik di berbagai wilayah Jawa. Pemandangan lori yang meluncur di atas rel itulah yang kemudian akrab bagi anak-anak desa.

"Sama seperti permainan rakyat yang lain yang kemudian mereka mendengar, mereka melihat dan sebagainya, kemudian terjadilah peniruan," kata Zaini.

Menurutnya, anak-anak lalu menciptakan versi permainan mereka sendiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar kampung.

"Kalau lori berjalan karena mesin dan sebagainya, maka lori-lorian yang sekarang ini mencari wilayah yang landai. Mereka tidak usah menggunakan mesin, hanya mereka dorong sendiri, ngegelusur sendiri."

Jembatan Ciherang.

Sumber gambar, Dokumen warga Ciherang

Keterangan gambar, Jembatan Ciherang.

Di Kampung Ciherang, bermula dari kereta. Kampung itu berada di bawah jembatan rel peninggalan kolonial yang dibangun Staatsspoorwegen pada akhir abad ke-19, yang menghubungkan dua sisi perbukitan di wilayah Malangbong, Garut.

Namun, menurut Abah Koko, sesepuh kampung, permainan tersebut baru berkembang di kampungnya ketika gelombang pengungsi datang pada masa pemberontakan DI/TII pada periode 1950-1962.

Para pendatang itu menetap selama beberapa tahun sebelum kembali ke daerah asalnya sekitar tahun 1965. Namun, lolorian sendiri tetap ada di sana.

"Gagasan [membuat lolorian] diteruskan oleh pemuda ABG zaman itu, termasuk Abah. Soalnya dulu banyak penggemarnya," tutur Abah Koko.

Berbekal pengetahuannya soal jaringan rel kereta api yang dipelajari saat menyusuri jembatan rel Ciherang dan bergaul dengan teknisi kereta api Ciherang, Abah Koko remaja memodifikasi rel lolorian agar lebih aman dan nyaman. Materialnya pun diganti dengan bahan yang lebih kuat seperti bambu dan kayu.

Menurut Abah Koko, sesepuh Ciherang, awalnya lolorian kembali dihidupkan di kampung tersebut untuk menghibur anak-anak yang sedang berpuasa pada Ramadan.

"Jadi ngabuburit menurut bahasa Sunda, menghibur anak-anak," ujar sesepuh kampung berusia 76 tahun itu.

Selain itu, ia mengaku jengah melihat anak-anak menghabiskan waktu dengan gawai.

"Abah kalau nanya-nanya, enggak nyahut, begini-begini [main HP] saja. Bilang permisi juga tidak dijawab. Dilihat, oh, lagi pada bermain HP," katanya.

"[Ada lolorian], ya sedikit-sedikit ada pengaruhnya," sambungnya.

Tak disangka, permainan itu menarik banyak pengunjung, terutama pada akhir pekan. Warga kemudian mengembangkan lolorian menjadi wahana wisata yang memberi nilai ekonomi bagi kampung.

"Membuat rel jadi tidak sia-sia. Ada manfaat, dimanfaatkan oleh semua," katanya.

Permainan rakyat versus gawai

Permainan anak memang kian bergeser ke layar digital. Data Badan Pusat Statistik (BPS) atahun 2025 menunjukkan 42% anak usia dini telah menggunakan telepon seluler.

Sementara itu, Save The Children Indonesia mencatat 40% anak usia SMP menghabiskan tiga hingga enam jam sehari di depan layar, melebihi dua jam waktu layar yang direkomendasikan World Health Organization (WHO).

Menurut dokter spesialis kejiwaan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat, Lina Budiyanti, penggunaan gawai yang berlebihan masih bisa memicu berbagai masalah kesehatan mental.

"Menggunakan gadget atau internet yang berlebihan itu bisa menimbulkan suatu masalah psikiatri tertentu," katanya.

Dalam praktik klinis, Lina masih menemukan kasus penggunaan internet bermasalah (problematic internet use) yang berdampak pada fungsi sosial seseorang, sering kali disertai gangguan penyerta atau komorbid.

Di sisi lain, Lina menilai permainan tradisional dapat membantu perkembangan anak.

Hana dan keluarga bermain lolorian.

Sumber gambar, Yuli Saputra/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Hana dan keluarga bermain lolorian.

"Anak dengan bermain permainan tradisional bisa terlatih problem solving-nya, regulasi emosinya, bagaimana dia harus menunggu, dan berbagi dengan teman-temannya. Jadi saya setuju kalau dikatakan permainan tradisional dampaknya lebih baik dibandingkan bermain internet atau game," ujarnya.

Pemerintah juga mendorong pemanfaatan permainan tradisional sebagai alternatif aktivitas anak di luar gawai.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, mengatakan anak-anak tidak cukup hanya dilarang menggunakan gawai, tetapi juga perlu diberikan alternatif kegiatan yang menarik.

Menurut pakar permainan rakyat Zaini Alif, permainan tradisional dan gawai tidak perlu dipertentangkan. Permainan digital membantu anak memahami teknologi, sementara permainan rakyat melatih aktivitas fisik dan interaksi sosial secara langsung.

"Mereka bergerak, tangannya bekerja, kakinya meloncat dengan permainan loncat galah burulu misalkan, atau engklek, dan sebagainya," kata Zaini.

Sementara dalam konteks permainan masa kini, seperti game online, Zaini mengatakan, anak-anak menjadi paham tentang teknologi.

"Jadi pemahaman dan kemampuan mereka terhadap teknologi, kesadaran mereka tentang diri, alam, lingkungan, dan budayanya melalui permainan tradisional dan kesadaran teknologi melalui permainan gadget dan sebagainya, maka itu menjadi paripurna menurut saya," pungkas Zaini.

Bisakah lolorian mengalihkan perhatian anak dari gawai?

"Saya enggak suka main HP, lebih suka main lolorian sama teman-teman. Lebih seru sambil ketawa-ketawa. Ah pokoknya seru main lolorian sampai Azka berani main lolorian sambil berdiri," ucap Azka Firmansyah, siswa sekolah dasar, warga Kampung Ciherang.

Azka Firmansyah.

Sumber gambar, Yuli Saputra/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Azka Firmansyah, di atas lolorian.

Ibu dua anak, Hana, juga merasakan manfaat dari adanya permainan Lolorian di kampungnya.

Kedua anaknya menyukai bermain lolorian dan durasi bermain gawainya menjadi berkurang.

Sebagai orang tua, Hana lebih memilih anaknya bermain lolorian dibanding gawai.

"Tentu lebih baik bermain lori ya. Kan melatih motorik, juga olahraga sedikit," ucapnya.