Peringatan 30 Tahun Kudatuli, Posko Pandegiling Surabaya Jadi Panggung Kesaksian Sejarah
Berita Nasional Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:09 WIB ...
Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:09 WIB
Surabaya, VIVA – Ratusan kader dan simpatisan PDI Perjuangan (PDIP) memadati Posko Pandegiling, Jalan Pandegiling, Surabaya, dalam peringatan 30 tahun Peristiwa Kudatuli atau Tragedi 27 Juli 1996, Jumat malam 24 Juli 2026.
Baca Juga
Acara bertajuk "Merawat Sejarah, Mewariskan Perjuangan" ini didesain seperti semangat awal, yakni mimbar demokrasi dan menghadirkan cucu Bung Karno, Puti Guntur Soekarno, mantan Wali Kota Surabaya Bambang DH, Kepala Badan Sejarah DPP PDI Perjuangan Bonnie Triyana, budayawan Agung Sinta, serta senior kader Promeg (Pro Megawati) Baktiono.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Jagad Hariseno, seorang politisi dan putra sulung dari almarhum Ir. Soetjipto, tokoh inisiator sekaligus mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan membuka rangkaian acara sebagai penjaga posko peninggalan sang ayah.
Baca Juga
Dia mengaku terharu mendengar himne partai dikumandangkan di tempat yang dulu setiap hari dipenuhi kader-kader perjuangan.
"Saya di sini cuma sebagai tunggu tutup, istilahnya menjaga peninggalan dari keluarga yang sekaligus juga saksi bisu sejarah Partai PDI Perjuangan," kata Seno.
Baca Juga
Seno mengenang detik-detik saat Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan diri sebagai ketua umum PDI secara de facto di posko tersebut.
"Di situlah baru saya menyadari bahwa keberanian itu adalah sebuah modal yang harus dipakai sebagai semangat perjuangan," ujarnya.
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Puti Guntur Soekarno menegaskan, peristiwa Kudatuli bukan sekadar sejarah kelam milik PDI Perjuangan atau keluarga Megawati semata.
"Kudatuli ini bukan milik PDI Perjuangan, bukan hanya milik Megawati, bukan hanya milik PDI. Kudatuli adalah satu tragedi, satu pelanggaran berat, yang menjadi milik rakyat Indonesia," kata Puti.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Puti berharap generasi muda, termasuk Gen Z dan Gen Y, turut hadir dan memahami bahwa demokrasi yang dinikmati hari ini lahir dari perjuangan berdarah para senior partai. "Mereka yang harus berterima kasih ketika hari ini mereka bisa bersuara," ujarnya.
Puti kemudian memimpin mengheningkan cipta untuk mengenang para pejuang yang telah wafat. "Mari kita heningkan cipta untuk almarhum Pak Sutjipto, untuk almarhum Pak Sukomo, untuk para sahabat pejuang, senior-senior pejuang yang telah meninggalkan kita," katanya.
Halaman Selanjutnya
Bambang DH mengisahkan kronologi menjelang kerusuhan berdarah itu. Menurutnya, sehari sebelum kerusuhan pecah di Jakarta pada Sabtu, para kader PDI Pro Megawati di Surabaya sempat rapat merencanakan aksi turun jalan pada 28 Juli 1996.