Perang Harga Mobil Bisa Jadi Bumerang bagi Industri Otomotif RI
Otomotif Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:28 WIB Tangerang Selatan, VIVA - Persa...
Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:28 WIB
Tangerang Selatan, VIVA - Persaingan di industri otomotif Indonesia semakin sengit seiring masuknya banyak merek dan model baru, terutama di segmen kendaraan elektrifikasi. Kondisi tersebut memicu perang harga yang menguntungkan konsumen dalam jangka pendek, namun di sisi lain dinilai berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi keberlangsungan industri.
Baca Juga
Ekonom Josua Pardede, mengingatkan bahwa kompetisi yang hanya mengandalkan pemangkasan harga bukanlah strategi yang sehat. Menurutnya, industri otomotif nasional membutuhkan persaingan yang mampu menciptakan nilai tambah, bukan sekadar saling menjatuhkan harga jual kendaraan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Josua menjelaskan bahwa tingkat persaingan di pasar kendaraan roda empat semakin ketat. Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya pemain baru yang masuk serta bertambahnya pilihan model di berbagai segmen.
Baca Juga
"Pasarnya akan semakin terfragmentasi dan semakin kompetitif," ujarnya di ICE BSD, Tangerang Selatan.
Ia menilai pertumbuhan kendaraan elektrifikasi di Indonesia tidak hanya didorong oleh meningkatnya minat masyarakat, tetapi juga dipengaruhi masuknya banyak model baru dengan harga yang agresif. Penurunan harga baterai di pasar global turut membuat produsen lebih leluasa menawarkan kendaraan listrik dengan harga yang semakin kompetitif.
Baca Juga
"Pertumbuhan elektrifikasi Indonesia bukan semata-mata cerita permintaan saja, tetapi juga shock dari supply. Masuk belasan model baru dengan harga agresif ditambah penurunan harga baterai global," katanya.
Menurut Josua, kondisi tersebut memang membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan. Namun apabila seluruh produsen hanya berlomba memberikan harga termurah, maka risiko yang muncul justru dapat mengganggu keberlangsungan industri dalam jangka panjang.
Ia mengingatkan agar kompetisi tidak berubah menjadi perang harga yang menimbulkan dampak kerugian. Sebab pada akhirnya hanya perusahaan yang memiliki modal besar yang mampu bertahan, sementara pemain lain berpotensi kesulitan menjaga profitabilitas.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Jaminan nilai jual kembali dan garansi baterai dapat dijadikan standar untuk menghindari perang-perang harga yang destruktif," ujarnya.
Josua juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada pelaku industri. Bagi produsen asal Jepang, ia menilai percepatan pengembangan kendaraan hybrid dapat menjadi strategi untuk menjawab kebutuhan pasar Indonesia yang masih beragam.
Halaman Selanjutnya
Sementara itu, bagi para pendatang baru, khususnya produsen asal China, ia mendorong percepatan pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar kontribusinya terhadap industri otomotif nasional semakin besar.