pickleballvnz.com

Penyiar AI Dikritik karena Busana Seksi, Picu Perdebatan di Industri Penyiaran

Jakarta - Kehadiran penyiar cuaca berbasis AI di Korea Selatan jadi kontroversi. Penyiar AI dengan gender wanita ini memicu perdebatan soal seksisme dalam industri penyiaran.Pasalnya, penampilan karakter ...

Jakarta -

Kehadiran penyiar cuaca berbasis AI di Korea Selatan jadi kontroversi. Penyiar AI dengan gender wanita ini memicu perdebatan soal seksisme dalam industri penyiaran.

Pasalnya, penampilan karakter virtual tersebut dinilai terlalu seksi dan memperkuat stereotip terhadap perempuan di media. Kontroversi ini muncul setelah video ramalan cuaca yang diunggah pada 20 Juli 2026 di kanal YouTube Weather Environment Agency, milik penyedia layanan cuaca dan kualitas udara Kweather.

Video tersebut menampilkan penyiar virtual bernama Kim Si-a yang membacakan prakiraan cuaca. Dalam video juga disertakan keterangan bahwa tayangan tersebut sepenuhnya dibuat menggunakan teknologi AI.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama siaran, Kim Si-a melakukan gestur layaknya presenter cuaca pada umumnya, seperti menunjuk peta meteorologi dan menjelaskan kondisi cuaca. Namun, perhatian publik tertuju pada busana penyiar virtual tersebut. Banyak pihak menilai pakaian yang ketat dan terbuka membuatnya terkesan dijadikan objek visual sekaligus memperkuat stereotip gender yang selama ini melekat di dunia penyiaran.

Perdebatan kemudian meluas ke isu yang lebih besar, yakni bagaimana karakter perempuan berbasis AI dirancang. Para pakar mengingatkan bahwa sistem AI berpotensi mereproduksi bias gender dan standar kecantikan yang sudah ada di masyarakat. Akibatnya, tampilan maupun peran karakter virtual bisa terus memperkuat stereotip terhadap perempuan.

Kontroversi ini muncul di tengah semakin masifnya penggunaan AI oleh stasiun televisi Korea Selatan untuk program berita dan prakiraan cuaca. Pada April lalu, Kweather bersama stasiun televisi MBN bahkan menggelar audisi untuk memilih penyiar cuaca AI yang akan digunakan dalam konten cuaca generasi berikutnya.

Adapun stasiun TV Chosun telah memperkenalkan reporter AI bernama Aion dalam program berita pagi News Parade sejak 8 Juni 2026. Aion mampu memilih berita, menyusun naskah, hingga membuat video, sementara tahap akhir produksi tetap diawasi oleh tim redaksi manusia.

Seperti dilansir Korea Herald, meningkatnya penggunaan AI di industri penyiaran dinilai sebagai upaya perusahaan media untuk menekan biaya produksi sekaligus mempercepat proses pembuatan konten. Setelah dikembangkan, penyiar maupun reporter virtual dapat digunakan berulang kali tanpa perlu proses syuting atau menghadirkan presenter manusia.

Teknologi tersebut dianggap sangat cocok untuk format yang terstruktur, seperti prakiraan cuaca dan berita singkat, karena penyajiannya cenderung mengikuti pola yang sama dan dapat diproduksi dalam jumlah besar.

Meski demikian, penggunaan AI yang semakin luas juga memunculkan kekhawatiran baru. Selain berpotensi menggantikan pekerjaan manusia di industri penyiaran, teknologi ini juga dikhawatirkan mengurangi peran penilaian editorial dan pengawasan manusia dalam praktik jurnalisme.

(hst/hst)