Penyaluran Kredit Sindikasi Perbankan Tetap Moncer di Tengah Gejolak Global
ILUSTRASI. Nilai kesepakatan kredit sindikasi dari sisi MLA mencapai US$ 16,42 miliar per 21 Juli 2026 atau naik 37,75% secara tahunan (KONTAN/Baihaki) Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari K...
ILUSTRASI. Nilai kesepakatan kredit sindikasi dari sisi MLA mencapai US$ 16,42 miliar per 21 Juli 2026 atau naik 37,75% secara tahunan (KONTAN/Baihaki)
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesepakatan kredit sindikasi menunjukkan pertumbuhan yang signifikan sepanjang tahun ini. Tak hanya mengalir ke badan usaha milik negara (BUMN), pembiayaan sindikasi juga mulai banyak menyasar proyek-proyek swasta di berbagai sektor strategis.
Berdasarkan Bloomberg League Table Reports, nilai kesepakatan kredit sindikasi dari sisi Mandated Lead Arranger (MLA) mencapai US$ 16,42 miliar per 21 Juli 2026. Angka tersebut meningkat 37,75% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 11,92 miliar.
Dalam daftar MLA, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) memimpin dengan nilai partisipasi mencapai US$ 2,78 miliar pada 13 proyek sindikasi. Posisi berikutnya ditempati PT Bank Mandiri Tbk dengan nilai US$ 2,75 miliar pada 13 proyek.
Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) membukukan partisipasi sebesar US$ 1,55 miliar pada 10 proyek, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar US$ 1,47 miliar pada 11 proyek.
Baca Juga: Gandeng Muhammadiyah, CRIF Bantu Bangun Rekam Jejak Kredit Masyarakat
Staf Riset Ekonomi Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Myrdal Gunarto menilai, meningkatnya aktivitas kredit sindikasi didorong oleh kebutuhan perbankan untuk membagi risiko pembiayaan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Menurutnya, melalui skema sindikasi, bank dapat tetap membiayai proyek-proyek bernilai jumbo tanpa melampaui Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK).
"Kebutuhan pembiayaan proyek strategis seperti hilirisasi industri, transisi energi, logistik, hingga ketahanan pangan membutuhkan pendanaan yang sangat besar sehingga pembiayaan dilakukan secara bersama-sama," ujarnya kepada Kontan, Selasa (21/7/2026).
Selain menjadi sarana mitigasi risiko, kredit sindikasi juga dinilai menarik karena mampu meningkatkan fee-based income, khususnya bagi bank yang berperan sebagai Mandated Lead Arranger melalui pendapatan komisi dari proses penataan dan pengelolaan sindikasi.
Myrdal memperkirakan, kredit sindikasi masih akan tumbuh lebih dari 6% hingga akhir tahun dan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan kredit korporasi.
Meski demikian, ia menilai bank akan semakin selektif dalam memilih proyek yang dibiayai. Penyaluran kredit diperkirakan akan terkonsentrasi pada korporasi dengan fundamental kuat serta proyek yang memiliki kepastian arus kas, seperti sektor infrastruktur, pertambangan, telekomunikasi, dan proyek dengan dukungan off-taker yang jelas.
Menurutnya, di tengah ketidakpastian global, perbankan juga akan memperketat proses underwriting, memperkuat klausul perjanjian kredit (covenants), melakukan stress test terhadap arus kas proyek, serta memperkuat pemantauan pasca pencairan kredit guna menjaga kualitas aset.
Baca Juga: Fintech Samir Salurkan Pembiayaan Rp 2,3 Triliun pada Semester I-2026
Sementara, Direktur Utama KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, aktivitas kredit sindikasi tahun ini memang berlangsung lebih moderat seiring pendekatan industri yang semakin prudent menghadapi volatilitas pasar keuangan global.
Meski demikian, KB Bank masih melihat peluang pertumbuhan yang menarik, terutama pada perusahaan dengan fundamental yang kuat.
"Hingga Mei 2026, KB Bank tetap aktif memimpin maupun berpartisipasi dalam sejumlah pembiayaan sindikasi di berbagai sektor strategis," ujar Kunardy.
Beberapa proyek yang telah dibiayai antara lain PT Petro Oxo Nusantara, PT Mining Industry Indonesia (MIND ID), Princeton Digital Group, PT Starone Mitra Telekomunikasi, dan PT Ainul Hayat Sejahtera.
Kunardy menambahkan, skema sindikasi menjadi salah satu strategi mitigasi risiko karena memungkinkan pembagian eksposur pembiayaan di antara sejumlah lembaga keuangan.
Ke depan, KB Bank masih memiliki pipeline pembiayaan sindikasi yang tersebar di sektor utilities, otomotif, manufaktur, infrastruktur digital, hingga jasa pertambangan.
Perseroan juga akan tetap aktif mengambil peran sebagai Lead Coordinator, Lead Bookrunner, Lead Underwriter, Lead Arranger, maupun Escrow Agent.
Baca Juga: Easycash Terapkan Sejumlah Upaya Ini untuk Jaga Tingkat TWP90 Tetap Terkendali
Sementara itu, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan kredit korporasi perseroan tumbuh sekitar 6,5% secara tahunan pada semester I-2026. Sebagian pertumbuhan tersebut berasal dari pembiayaan sindikasi.
Namun, menurut Lani, CIMB Niaga tidak menetapkan target khusus untuk kredit sindikasi karena setiap proyek dievaluasi berdasarkan kelayakan dan profil risikonya.
"Kami melihat project by project untuk assessment-nya, tidak menargetkan secara overall," ujarnya.
Di sisi lain, EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn memastikan BCA akan tetap aktif menyalurkan kredit sindikasi ke berbagai sektor strategis.=
Menurut Hera, sebagai salah satu bank dengan penyaluran kredit sindikasi terbesar, BCA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dengan mempertimbangkan profil risiko, kondisi likuiditas, serta kecukupan modal sebelum bergabung dalam suatu proyek sindikasi.
"Ke depan, tren penyaluran kredit sindikasi diperkirakan akan bergerak sejalan dengan dinamika dan kondisi perekonomian nasional," kata Hera.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag
- kredit bank
- kredit sindikasi
- pinjaman sindikasi
- Sindikasi Pembiayaan