Penjualan Konsol Game Anjlok, Harga Makin Mahal Bikin Pembeli Kabur
Jakarta - Pasar konsol game di Amerika Serikat mencatatkan kinerja penjualan terburuk dalam 13 tahun terakhir. Kombinasi dari kenaikan harga hardware, jenuhnya pasar, hingga tidak adanya pengumuman kons...
Jakarta -
Pasar konsol game di Amerika Serikat mencatatkan kinerja penjualan terburuk dalam 13 tahun terakhir. Kombinasi dari kenaikan harga hardware, jenuhnya pasar, hingga tidak adanya pengumuman konsol generasi baru membuat minat beli konsumen merosot tajam sepanjang Agustus 2026.
Berdasarkan data riset pasar dari Circana, konsumen di AS hanya membeli sebanyak 559.000 unit konsol pada Agustus 2026. Angka tersebut turun 15% dibanding periode yang sama tahun lalu sekaligus menjadi total penjualan Agustus terendah sejak tahun 2013.
Di saat yang sama, rata-rata harga jual konsol melonjak dari USD 476 (sekitar Rp 7,4 juta) pada 2025 menjadi USD 541 (sekitar Rp 8,4 juta) pada 2026, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Selasa (13/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Strategi Konsol Premium: Unit Turun, Pendapatan Justru Naik
Tingginya harga jual menjadi penyelamat keuangan bagi sejumlah produsen. Sony, misalnya, mencatatkan kenaikan pendapatan hardware PlayStation sebesar 17% secara tahunan (YoY), meskipun total unit konsol yang terjual sebenarnya turun 11%.
Penjualan varian premium berspesifikasi tinggi, seperti PS5 Pro yang dibanderol seharga USD 900 (sekitar Rp 14 juta), menjadi penopang utama lonjakan pendapatan tersebut.
Namun, penurunan unit terjadi merata di seluruh produsen konsol utama:
- Xbox: Penjualan unit anjlok 31% YoY, menyentuh rekor terendah untuk bulan Agustus sejak 2020.
- Nintendo: Penjualan unit mengalami penurunan sebesar 15% dibanding Agustus 2025.
- Kejenuhan Pasar: Konsol PS5 dan Xbox Series X|S kini telah memasuki usia siklus sekitar 6 tahun sejak diluncurkan pada 2020, memicu kejenuhan pasar.
Beda Situasi dengan Tahun 2013
Penurunan penjualan kali ini menyajikan kondisi yang berbeda jika dibandingkan dengan lesunya pasar pada Agustus 2013 (saat itu terjual 423.000 unit). Pada 2013, penurunan terjadi karena konsumen sengaja menahan pembelian untuk menunggu peluncuran konsol generasi baru, yakni PS4 dan Xbox One, yang rilis pada November tahun tersebut.
Sebaliknya pada 2026, penurunan penjualan terjadi tanpa ada pengumuman penerus konsol generasi baru di depan mata. Pembelian yang sempat melonjak di awal tahun akibat panic buying sebelum kenaikan harga berlaku juga membuat potensi pembeli di musim panas menyusut.
PC Gaming Melonjak, Pasar Mobile Terjun Bebas
Secara keseluruhan, total pengeluaran konten game di AS pada Agustus 2026 turun 10% YoY menjadi USD 3,8 miliar (sekitar Rp 59,3 triliun). Total pengeluaran sepanjang tahun berjalan menyentuh USD 32,2 miliar atau turun 2%.
Pergeseran tren antar-platform terlihat cukup mencolok:
- Sektor Mobile: Mengalami penurunan paling drastis, yakni merosot hingga 18%.
- Konten Konsol: Turun sebesar 7%.
- PC Gaming: Justru mencatatkan pertumbuhan positif dengan kenaikan 13%.
- Layanan Layanan Berlangganan (Subscription): Tumbuh tipis 3%.
Game-Key Card Switch 2 Selamatkan Pasar Fisik
Di sektor perangkat lunak, pengeluaran untuk game fisik baru naik 5% menjadi USD 738 juta. Namun, format fisik tradisional sebenarnya turun 3%.
Penyelamat segmen fisik adalah kehadiran Game-Key Cards untuk platform Nintendo Switch 2, yang mencatatkan lonjakan penjualan hingga 631%. Format kartu kunci digital ini diadopsi secara luas oleh penerbit game (publisher) besar sepanjang 2026.
Kehadiran port Switch 2 juga mengubah peta terlaris game Agustus:
- NBA 2K27: Menjadi game terlaris nomor satu di bulan Agustus dan menduduki peringkat ketiga terlaris sepanjang tahun 2026.
- Madden NFL 27: Menempati posisi kedua game terlaris Agustus.
- Elden Ring: Melesat naik dari urutan ke-41 pada Juli ke posisi ke-7 di bulan Agustus berkat peluncuran versi port untuk Switch 2.
(asj/rns)
TAGS
LIHAT LAINNYA