Penanganan stroke yang cepat dan terintegrasi jadi kunci kurangi risiko cacat pasien - ANTARA News Bali
Denpasar (ANTARA) - Penanganan stroke yang cepat dan terintegrasi menjadi faktor penentu dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien sekaligus menekan risiko kecacatan. Direktur Siloam Hospitals Bali, dr. Ni G...
Denpasar (ANTARA) - Penanganan stroke yang cepat dan terintegrasi menjadi faktor penentu dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien sekaligus menekan risiko kecacatan.
Direktur Siloam Hospitals Bali, dr. Ni Gusti Ayu Putri Mayuni di Denpasar, Bali, Kamis (16/7) mengatakan pelayanan stroke harus mengutamakan kecepatan diagnosis, pengambilan keputusan medis, serta koordinasi lintas disiplin agar pasien memperoleh terapi sesuai kondisinya.
Pasalnya, pasien stroke iskemik memiliki golden period sekitar 4,5 jam sejak munculnya gejala untuk mendapatkan terapi yang sesuai.
Di Indonesia, stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan menyumbang sekitar 18,5 persen dari total angka kematian.
Kondisi itu menurutnya, membuat kesiapan sistem layanan stroke, mulai dari penanganan di instalasi gawat darurat hingga rehabilitasi, menjadi kebutuhan penting dalam pelayanan kesehatan.
"Yang terpenting adalah bagaimana standar tersebut diterjemahkan menjadi pelayanan yang cepat, aman,terkoordinasi, dan memberikan peluang pemulihan yang lebih baik bagi setiap pasien," katanya.
Menurut, dr. Ni Gusti Ayu Putri Mayuni, standar pelayanan stroke yang baik bukan hanya soal pengakuan atau sertifikasi, tetapi bagaimana sistem tersebut mampu diterapkan menjadi layanan yang cepat, aman, dan terkoordinasi sehingga memberikan peluang pemulihan yang lebih baik bagi pasien.
Layanan stroke yang komprehensif umumnya mencakup penanganan sejak pasien tiba di instalasi gawat darurat, pemeriksaan radiologi dan laboratorium, pemberian terapi reperfusi sesuai indikasi, perawatan intensif, rehabilitasi medik, hingga edukasi kepada pasien dan keluarga.
Seluruh tahapan dilakukan berdasarkan pedoman klinis berbasis bukti serta dievaluasi secara berkala.
Seperti, data layanan stroke di Siloam Hospitals Bali menunjukkan sepanjang Agustus 2025 hingga Januari 2026 terdapat 44 kasus stroke yang ditangani.
Sebanyak empat pasien memperoleh terapi trombolisis intravena, satu pasien menjalani trombektomi mekanik, dan sekitar 93 persen pasien dilaporkan mengalami perbaikan kondisi.
Baru-baru ini, sistem layanan stroke di rumah sakit tersebut juga memperoleh Clinical Care Program Certification (CCPC) for Stroke dari Joint Commission International (JCI).
Pewarta: Rolandus Nampu
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.