Pemprov Jateng beri enam kado prpgram pada HSN 2026
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan enam kado program untuk para santri yang disampaikan pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Jateng. Gubernur Jateng ANTARA News jateng peristiwa ...
Pemprov Jateng beri enam kado prpgram pada HSN 2026
Kamis, 22 Oktober 2026 22:05 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026, di Kota Tegal, Kamis (22/10/2026). (ANTARA/HO-Pemprov Jateng)
Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan enam kado program untuk para santri yang disampaikan pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 tingkat Jateng.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, saat peringatan HSN di Kota Tegal, Kamis, mengatakan bahwa enam program itu menjadi bagian dari komitmen Pemprov Jateng dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia pesantren melalui Program Pesantren Obah.
Enam program yang disiapkan Pemprov Jateng mencakup dukungan kesejahteraan tenaga pendidik, peningkatan akses pendidikan, penguatan sarana prasarana, hingga perlindungan santri.
Pertama, insentif guru agama, yakni sebanyak 230,8 ribu guru agama menerima insentif pada 2025, dan program tersebut dilanjutkan pada 2026 sebagai bentuk dukungan terhadap para pendidik keagamaan.
Kedua, bisyaroh (tali asih) bagi santri penghafal Al Quran yang menjadi bentuk penghargaan atas upaya para santri dalam menjaga dan mengamalkan kalamullah.
Ketiga, beasiswa santri dan pengasuh pesantren untuk menempuh pendidikan tinggi jenjang S1 hingga S3, baik di dalam maupun luar negeri. Pada 2026, sebanyak 73 pendaftar dinyatakan lolos dari total 942 pendaftar.
Keempat, beasiswa mahasantri Ma’had Aly dan santri penggerak yang diarahkan untuk memperkuat tradisi keilmuan pesantren. Saat ini, sebanyak 25 Ma’had Aly di Jateng telah menerima beasiswa.
Kelima, hibah pondok pesantren dan bantuan renovasi pondok serta masjid yang ditujukan untuk membantu menyediakan sarana belajar yang layak, aman, dan nyaman bagi para santri.
Keenam, penguatan sistem Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pesantren (P2KP) melalui penerbitan regulasi dan pembentukan tim koordinasi agar pencegahan serta penanganan kekerasan di lingkungan pesantren berjalan lebih terarah dan melibatkan berbagai pihak.
"Program ini sekaligus menjadi upaya mendorong santri agar tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga unggul dalam pengetahuan, berakhlak mulia, mandiri, dan mampu menjawab tantangan zaman," katanya.
Berdasarkan data yang dihimpun bersama Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU, terdapat 5.451 pondok pesantren dengan sekitar 555 ribu santri yang tersebar di berbagai kabupaten/kota di Jateng.
Menurut dia, potensi tersebut perlu dirawat dan dikembangkan melalui kebijakan yang berangkat dari kebutuhan nyata pesantren sehingga pihaknya melalui Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) terus mendorong berbagai program pemberdayaan pesantren.
Ia menegaskan semangat perjuangan santri yang dahulu diwujudkan melalui perlawanan terhadap penjajahan harus terus dilanjutkan melalui kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.