pickleballvnz.com

Pemkot Batu jaga eksistensi komoditasikonik lewat revitalisasi lahan - ANTARA News Jawa Timur

Kota Batu, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kota Batu, Jawa Timur, berupaya menjaga eksistensi apel sebagai komoditas ikonik daerah setempat melalui revitalisasi lahan perkebunan komoditas tersebut. Kepala Dina...

Kota Batu, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kota Batu, Jawa Timur, berupaya menjaga eksistensi apel sebagai komoditas ikonik daerah setempat melalui revitalisasi lahan perkebunan komoditas tersebut.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu Hendry Suseno di Kota Batu, Rabu, menyampaikan program revitalisasi ini dilakukan secara bertahap dan pada 2026 menyasar tiga hektare lahan perkebunan apel.

"Revitalisasi di lahan tiga hektare karena menyesuaikan ketersediaan anggaran, untuk total lahannya  mencapai 300 hektare yang hanya berada di Kecamatan Bumiaji dan ini untuk menjaga apel sebagai ikon Kota Batu," kata Hendry.

Revitalisasi lahan ini difokuskan pada upaya mengembalikan kesuburan tanah pada lahan apel dengan memberikan bantuan pupuk plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dan nitrogen, fosfor, serta kalium (NPK) setelah sebelumnya sempat dilakukan pergantian atau peremajaan tanaman.

Ia menyampaikan Bumiaji memang menjadi wilayah sentra penghasil apel yang tersisa sehingga perlu dijaga agar produksi terus berlanjut.

Berdasarkan uji ekspresi gen oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2023 di Kota Batu, lanjutnya, produksi apel paling baik memang berasal dari Kecamatan Bumiaji, khusus Kelurahan Tulungrejo yang berada di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl).

"Kalau lokasi yang di bawah (Kecamatan Bumiaji) karena kondisi agroklimatologi tidak mendukung banyak petani beralih ke komoditas lain. Sedangkan di Bumiaji petani masih mendapatkan keuntungan," ujarnya.

Harga apel di tingkat petani saat ini sebesar Rp12 ribu per kilogram di tingkat petani dan bisa melonjak signifikan ketika masuk pasar yang mencapai Rp30 ribu per kilogram.

Berdasarkan data produksi tahunan dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan setempat menyatakan produksi apel pada 2023 sebanyak 218.621,79 kuintal atau setara 21.862.179 kilogram dari total 573.595 tanaman produktif dengan tingkat produktivitas 38,11 kilogram per tahun.

Lalu, pada 2024 produksi apel turun menjadi 140.285,41 kuintal atau setara 14.028.541 kilogram dari total 371.622 tanaman produktif dengan tingkat produktivitas 37,75 kilogram per tahun.

Sedangkan, pada 2025 produksi komoditas ikonik asal daerah itu kembali turun menjadi 106.608,47 kuintal atau setara 10.660.847 kilogram dari total 285.721 tanaman produktif dengan tingkat produktivitas 3731 kilogram per tahun.

Selain revitalisasi lahan, dinas terkait juga berupaya merealisasikan bantuan sarana penunjang, seperti rumah kompos, kandang komunal, dan program edukasi guna meningkatkan kapasitas petani.

"Ada yang kami dampingi sebagai penangkar dan ada petani yang membuat pestisida nabati karena 60 persen biaya produksi apel untuk membeli pestisida," ujar dia.

Pemkot Malang berharap serangkaian upaya yang dilakukan ini mampu menjaga keberlanjutan sektor perkebunan apel di Kota Batu.

Pewarta: Ananto Pradana
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.