pickleballvnz.com

Pemkab Majalengka memanfaatkan DBHCHT untuk pengering tembakau - ANTARA News Jawa Barat

Majalengka (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2026 untuk menyediakan teknologi pengering tenaga surya bagi petani tembakau di Keca...

Majalengka (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, memanfaatkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2026 untuk menyediakan teknologi pengering tenaga surya bagi petani tembakau di Kecamatan Bantarujeg.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka Gatot Sulaeman di Cirebon, Jumat, mengatakan fasilitas solar dryer dome tersebut diberikan, kepada Kelompok Tani Mekar Abadi di Desa Babakansari, Kecamatan Bantarujeg.

Menurut dia, teknologi tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah memperbaiki penanganan tembakau setelah panen, terutama karena selama ini petani masih menghadapi kendala cuaca saat proses pengeringan.

"Solar dryer dome menjadi terobosan dalam penanganan pascapanen karena menggunakan tenaga surya sehingga proses pengeringan lebih efisien dan ramah lingkungan," katanya.

Ia mengatakan penggunaan fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap intensitas matahari dan kondisi cuaca, yang kerap menentukan lama atau tidaknya proses pengeringan.

Selain memanfaatkan energi surya, kata dia, fasilitas itu dilengkapi sistem otomatis untuk mengatur suhu dan kelembapan selama proses pengeringan berlangsung.

"Dengan sistem kontrol suhu dan kelembaban otomatis, petani tidak harus terus-menerus melakukan pengecekan secara manual," ujarnya.

DKP3 Majalengka telah melakukan uji fungsi terhadap fasilitas tersebut, untuk memastikan seluruh peralatan dan sistem dapat bekerja sebelum diserahkan kepada kelompok tani.

Gatot optimis bantuan yang berasal dari DBHCHT itu dapat memberikan manfaat langsung bagi petani, baik dalam meningkatkan mutu hasil maupun mengefisienkan proses pengolahan tembakau.

Pihaknya mendata luas lahan tembakau di Bantarujeg mencapai 582,43 hektare, sedangkan di Lemahsugih 511 hektare, Kertajati 63 hektare, Malausma 8 hektare, dan Panyingkiran 6 hektare.

"Dari sejumlah sentra tersebut, produksi tembakau mencapai 1.022,49 ton rajangan kering," katanya.

Sementara itu, Petani Kelompok Tani Mekar Abadi Asep mengapresiasi fasilitas tersebut karena dapat membantu mengatasi persoalan pengeringan yang selama ini sangat bergantung pada kondisi matahari.

Ia berharap fasilitas tersebut dapat membuat proses pengeringan lebih teratur, sehingga menghasilkan daun tembakau dengan kualitas yang lebih baik dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

"Selama ini kalau cuaca mendung atau hujan, proses pengeringan terganggu sehingga kami harus lebih sering melakukan pengecekan," katanya.

Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.