Pemkab Kotim berkomitmen tuntaskan pemasangan pipa atasi krisis air bersih
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, berkomitmen menuntaskan pemasangan pipa air bersih hingga desa paling ujung di wilayah selatan yang selama ini sering ANTARA News kalteng 1 ...
Pemkab Kotim berkomitmen tuntaskan pemasangan pipa atasi krisis air bersih
Senin, 21 September 2026 10:41 WIB
Pelaksana Tugas Kepala DCKTRP Kotim Rifarna Montazriani (kaos hitam), Kepala Dinas Pendidikan Kotim Yolanda Lonita Fenisia (kaos kuning), Camat Mentaya Hilir Selatan Wahyudah (kaos coklat) dan Pemuda Tani Kotawaringin Timur saat menyalurkan bantuan air bersih di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit, Minggu (20/9/2026). ANTARA/HO-PTI Kotim
Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, berkomitmen menuntaskan pemasangan pipa air bersih hingga desa paling ujung di wilayah selatan yang selama ini sering dilanda krisis air bersih saat kemarau seperti sekarang ini.
"Mungkin tahun depan, sesuai arahan Pak Bupati, mungkin akan kita alokasikan dulu anggaran untuk FS dan DED-nya," kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (DCKTRP) Kotawaringin Timur Rifarna Montazriani di Sampit, Senin.
Komitmen percepatan penuntasan pemasangan pipa air bersih tersebut merupakan instruksi Bupati Halikinnor, sebagai solusi jangka panjang agar krisis air bersih tidak terus terulang setiap musim kemarau, khususnya di wilayah selatan atau pesisir.
Penegasan itu disampaikan bupati saat itu menyalurkan air bersih ke Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit, Kamis (17/9) lalu. Saat ini desa-desa di dua kecamatan tersebut mengalami krisis air bersih lantaran sungai menjadi payau, bahkan asin oleh intrusi air laut akibat kemarau panjang yang terjadi saat ini.
Saat ini pipa induk air bersih Perumdam Tirta Mentaya sebenarnya sudah sampai ke Desa Parebok Kecamatan Teluk Sampit. Namun, Sungai Mentaya yang merupakan sumber air baku untuk pengolahan air bersih di instalasi pengolahan air Sei Lepeh dan Samuda, kini juga menjadi asin sehingga untuk sementara tidak bisa diolah menjadi air bersih yang layak didistribusikan kepada masyarakat.
Untuk itulah Bupati Halikinnor memerintahkan agar pemasangan pipa induk dilanjutkan hingga tuntas ke desa paling ujung di wilayah selatan. Artinya setelah Desa Parebok, pemasangan pipa dilanjutkan melintasi Desa Basawang, Regei Lestari, Kuin Permai, Lampuyang hingga Ujung Pandaran yang merupakan desa paling ujung di batas wilayah selatan Kotawaringin Timur.
Bupati juga memerintahkan dilakukan koneksi instalasi pengolahan air di wilayah selatan dengan instalasi induk di Sampit. Harapannya, jika sumber air baku di wilayah selatan tidak bisa diolah karena asin saat kemarau, maka air bersih masih tetap bisa didistribusikan langsung dari instalasi pengolahan air di Sampit, sehingga tidak perlu lagi dipasok menggunakan puluhan mobil tangki seperti saat ini.
Baca juga: Pemkab Kotim pertimbangan opsi pemasangan pipa bawah air atasi krisis air bersih
Menindaklanjuti instruksi itu, kata Rifarna, pihaknya akan melakukan studi kelayakan atau feasibility study (FS) untuk melihat apakah memang itu layak berdasarkan dari teknis maupun dari sisi ekonominya. Seperti diketahui, Perumdam Tirta Mentaya juga tetap mempertimbangkan dari sisi biaya dan profit.
Jika FS sudah dilakukan, maka akan dilanjutkan ke tahap pembuatan Desain Engineering Detail (DED) yang merupakan dokumen perencanaan teknis detail yang digunakan sebagai acuan utama dalam proses selanjutnya.
Rifarna mengaku belum bisa menyampaikan asumsi anggaran yang diperlukan. Hal itu baru akan terlihat jelas jika nantinya sudah dibuat DED yang memuat rencana kegiatan serta kebutuhan anggaran secara rinci.
Namun sebagai gambaran, saat ini sedang dikerjakan pemasangan pipa distribusi air bersih di Desa Jaya Karet sepanjang 2 kilometer untuk jaringan distribusi dengan anggaran sekitar Rp1,2 miliar. Maka untuk pemasangan pipa utama hingga ke Desa Ujung Pandaran, dipastikan biayanya jauh lebih besar.
Menurutnya, tantangan saat ini adalah masalah klasik yaitu terbatasnya anggaran yang dimiliki pemerintah daerah. Terlebih saat ini anggaran dari pusat dipangkas sehingga berpengaruh terhadap kemampuan daerah dalam menjalankan pembangunan yang sudah diprogramkan.
"Nanti mungkin detailnya kita lebih tahu setelah DED-nya disusun. Tapi sesuai instruksi Pak Bupati tadi, mungkin kita upayakan bisa direalisasikan di tahun 2027," demikian Rifarna.
Sementara itu, penyaluran bantuan air bersih ke desa-desa di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit masih berlangsung. Instansi yang dipimpin Rifarna juga mengerahkan sejumlah mobil tangki dan personelnya untuk membantu menyalurkan air bersih dari Perumdam Tirta Mentaya di Sampit ke desa-desa yang membutuhkan bantuan tersebut.
Baca juga: Pemkab Kotim kerahkan puluhan kendaraan untuk pasok air bersih
Baca juga: Pemuda Tani Kotim turun bantu salurkan air bersih untuk masyarakat
Baca juga: Perumdam: Kadar garam air di wilayah selatan Kotim terlalu tinggi
Pewarta : Norjani
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.