pickleballvnz.com

Pemakaian baju adat Rote jadi cara Gibran diplomasikan budaya RI - ANTARA News Bangka Belitung

Jakarta (ANTARA) - Pengamat Mode Lisa Fitria menyebut dikenakannya pakaian adat Rote dari Nusa Tenggara Timur menjadi cara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mendiplomasikan kekayaan budaya Indonesia. ...

Jakarta (ANTARA) - Pengamat Mode Lisa Fitria menyebut dikenakannya pakaian adat Rote dari Nusa Tenggara Timur menjadi cara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mendiplomasikan kekayaan budaya Indonesia.

"Elemen yang paling ikonik adalah Ti’i Langga, penutup kepala dari anyaman daun lontar dengan bentuk yang menjulang dan melebar," kata Lisa kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Lisa menyoroti sejumlah elemen busana adat yang dikenakan dalam forum kenegaraan tersebut. Busana yang ditampilkan memperlihatkan kekayaan ekspresi fesyen Indonesia melalui identitas budaya dari sejumlah daerah.

Pada busana yang dikenakan Gibran, elemen yang paling ikonik adalah Ti’i Langga, yakni penutup kepala dari anyaman daun lontar dengan bentuk menjulang dan melebar.

Ti’i Langga merupakan identitas yang sangat kuat masyarakat Rote dan secara simbolis dikaitkan dengan keperkasaan, kehormatan, kepercayaan diri, serta jiwa kepemimpinan laki-laki.

Wakil Presiden juga mengenakan kain tenun Rote yang menjadi representasi kemahiran kriya dan tradisi tenun Nusa Tenggara Timur. Kain tersebut membawa motif dan tata nilai budaya masyarakat Rote.

Lisa mengatakan kehadiran kain tenun tradisional dalam forum kenegaraan sekaligus memperlihatkan bahwa tenun memiliki posisi penting sebagai identitas budaya dan aset fesyen Indonesia.

Sementara itu, istrinya, Selvi Gibran Rakabuming, mengenakan busana Ta’a perempuan Dayak Kenyah. Busana tersebut memiliki kekuatan visual pada penggunaan manik-manik, motif geometris, warna merah, serta penutup kepala yang dihiasi ornamen bulu.

Menurut Lisa, busana tersebut memperlihatkan kemahiran kriya masyarakat Dayak Kenyah, terutama melalui teknik beadwork atau pengerjaan manik-manik yang membutuhkan ketelitian tinggi.

"Motif dan ornamen pada busana Dayak bukan sekadar dekorasi, tetapi berkaitan dengan identitas budaya, hubungan manusia dengan alam, leluhur, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat," ujar Lisa.

Ia menjelaskan dominasi warna merah dapat dimaknai sebagai representasi keberanian, kekuatan, semangat hidup, dan keteguhan hati. Sementara itu, penutup kepala dan ornamen bulu memberikan kesan keagungan, kehormatan, dan kekuatan identitas budaya.

Lisa juga melihat adanya perbedaan ekspresi budaya yang ditampilkan melalui busana Presiden Prabowo Subianto dengan keduanya. Presiden membawa tradisi Melayu dan songket, Wakil Presiden membawa tradisi tenun Rote, sedangkan sang istri membawa kekayaan manik-manik Dayak Kenyah.

"Yang menarik bagi saya adalah ketiganya memperlihatkan tiga kekayaan ekspresi fashion Indonesia: Presiden membawa tradisi Melayu dan songket, Wakil Presiden membawa tradisi tenun Rote, sementara Ibu Selvi membawa kekayaan manik-manik Dayak Kenyah," kata Lisa.

Dalam perspektif fesyen, Lisa menilai identitas Indonesia tidak harus ditampilkan melalui satu bentuk pakaian adat saja. Busana kenegaraan dapat mengambil elemen budaya daerah, kemudian ditempatkan dalam konteks modern dan formal.

"Keseluruhannya menurut saya merupakan bentuk diplomasi budaya melalui fesyen. Tiga identitas budaya yang berbeda hadir dalam satu panggung nasional untuk menyampaikan pesan bahwa Indonesia modern tetap berakar pada tradisi dan keberagaman Nusantara," ujar Lisa.

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Uploader : Bima Agustian

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.