Pasaman Barat miliki 51 TBM, bakal adakan Festival Literasi 2026 perkuat kolaborasi pemerintah, sekolah, dan komunitas lahirkan generasi gemar membaca-berkarya
Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat menunjukkan komitmen membangun budaya literasi masyarakat dengan memiliki 51 taman bacaan masyarakat (TBM) di daerah ANTARA News sumbar 21 ...
Simpang Empat (ANTARA) - Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat menunjukkan komitmen membangun budaya literasi masyarakat dengan memiliki 51 taman bacaan masyarakat (TBM) di daerah itu.
"Pasaman Barat menjadi daerah dengan jejaring TBM terbanyak di Sumbar . Pada 2030 kita menargetkan ada 900 kantong literasi nantinya," kata Ketua Forum Penggiat Literasi (FPL) / Forum TBM Kabupaten Pasaman Barat Denni Meilizon di Simpang Empat, Selasa.
Menurutnya berdirinya TMB yang menyebar di Pasaman Barat menjadi bukti kuat bahwa literasi di Pasaman Barat tidak hanya berkembang melalui lembaga pendidikan formal, tetapi telah tumbuh sebagai gerakan masyarakat yang melibatkan komunitas, relawan literasi, sekolah, dan berbagai unsur sosial.
Keberadaan TBM yang tersebar di berbagai wilayah menjadi modal besar bagi Pasaman Barat dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.
"TBM tidak lagi hanya dipandang sebagai tempat membaca buku, tetapi berkembang menjadi ruang belajar masyarakat, tempat anak-anak berinteraksi dengan pengetahuan, ruang kreativitas, serta wadah lahirnya gagasan dan karya," kata dia.
Dia mengatakan kekuatan ekosistem literasi tersebut semakin diperkuat melalui penyelenggaraan Festival Literasi Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2026 yang digagas oleh Pemkab Pasaman Barat melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan yang diadakan pada 14-16 September 2026.
Dengan mengusung tema “Membaca Bersama, Bergerak untuk Semua”, festival ini menjadi ruang bertemunya berbagai unsur yang bergerak dalam bidang literasi, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, Forum TBM, komunitas membaca, hingga masyarakat umum.
"Kegiatan ini bertujuan mempromosikan perpustakaan, memperluas budaya baca, serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam gerakan literasi," ujarnya.
Dalam pelaksanaannya nanti Pemkab membuka ruang partisipasi bagi berbagai pihak, termasuk Forum TBM Pasaman Barat, Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, Read Aloud Pasaman Barat, sekolah, dan komunitas kreatif untuk ikut memperkenalkan praktik baik literasi yang telah berkembang di masyarakat.
Dia menyebutkan literasi tidak hanya membaca dan bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang apresiasi dan pengembangan kreativitas.
Berbagai kegiatan disiapkan selama festival berlangsung, mulai dari pertunjukan seni budaya, musikalisasi puisi, membaca puisi, bertutur, membaca nyaring, talk show literasi, hingga bedah buku.
Pada rangkaian pembukaan festival, berbagai unsur pendidikan dan komunitas terlibat, seperti SMA Negeri 1 Pasaman, Sanggar Suryo Manunggal, My Rubel Literacy Center, SMP Negeri 1 Pasaman, Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, Forum TBM, dan komunitas Read Aloud.
Dia menilai keterlibatan siswa menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi tampil sebagai pelaku literasi melalui kemampuan berbicara, membaca, menampilkan karya seni, serta menyampaikan gagasan.
Pada hari berikutnya, festival juga menghadirkan kegiatan seni budaya, musikalisasi puisi, pembacaan puisi, bertutur, membaca nyaring, dan bedah buku yang melibatkan berbagai sekolah serta komunitas literasi.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Pasaman Barat Muharram menambahkan keberadaan 51 TBM menunjukkan bahwa budaya membaca telah memiliki akar yang kuat di tingkat komunitas.
Setiap TBM menjadi simpul kecil yang menghubungkan masyarakat dengan bahan bacaan, pengetahuan, dan kegiatan kreatif.
"Bahkan tidak hanya itu, melalui deklarasi yang dicetuskan tahun 2021 sudah dicanangkan terbentuknya 900 kantong literasi di seluruh Pasaman Barat pada tahun 2030," katanya.
Menurutnya melalui TBM, masyarakat mendapatkan ruang alternatif untuk belajar dan berkembang. Anak-anak dapat mengenal buku sejak dini, remaja memperoleh ruang berekspresi, sementara masyarakat dewasa dapat meningkatkan kemampuan literasi informasi.
Literasi, katanya tidak lagi berhenti pada kemampuan membaca teks, tetapi berkembang menjadi kemampuan membaca persoalan, memahami lingkungan, berpikir kritis, dan menciptakan solusi.
Selain itu penguatan literasi Pasaman Barat juga diarahkan pada peningkatan kapasitas guru dan siswa melalui kegiatan “Seribu Guru Hebat Sejuta Murid Literat” oleh Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, PGRI Pasaman Barat, Pemkab Pasaman Barat melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Pasaman Barat serta Bunda Literasi Pasaman Barat dan Cabang Dinas Pendidkkan Wilayah VI Prov Sumbar.
"Program ini menghadirkan Duta Baca Informasi Gol A Gong pada 10-11 September sebagai narasumber utama dengan target sekitar 1.000 peserta yang terdiri atas guru dan siswa," ujarnya.
Pasaman Barat menunjukkan bahwa ketika masyarakat diberikan ruang untuk bergerak, literasi dapat tumbuh menjadi kekuatan sosial yang nyata.
Dengan 51 TBM yang menjadi fondasi gerakan dan rancangan menuju 900 kantong literasi nantinya pada tahun 2030, menjadi momentum memperlihatkan bahwa Pasaman Barat memiliki energi besar dalam membangun budaya membaca dan menciptakan masyarakat pembelajar.
"Literasi bukan hanya tentang buku, tetapi tentang membangun manusia yang mampu berpikir, berkarya, dan memberi manfaat bagi lingkungannya," kata dia.