Parkiran Depan Masjid Sheikh Zayed Kini Steril, Warga Sempat Menolak
Solo - Area parkiran di depan masjid Sheikh Zayed Solo kini sudah steril. Warga setempat awalnya sempat menolak kebijakan tersebut.Pemerintah Kota Solo akhirnya mensterilkan area parkir di depan Masjid Zayed ya...
Solo -
Area parkiran di depan masjid Sheikh Zayed Solo kini sudah steril. Warga setempat awalnya sempat menolak kebijakan tersebut.
Pemerintah Kota Solo akhirnya mensterilkan area parkir di depan Masjid Zayed yang sebelumnya sempat mendapat penolakan dari warga Rejosari RW 13 Gilingan, Banjarsari, Solo. Sterilisasi itu dilakukan di Jalan Mentawai 1 sisi barat.
"Intinya kita cari titik tengahnya. Kita menegaskan supaya parkir lebih tertib lagi, yang beribadah, UMKM sekitar bisa hidup, dan ketimpangan di Masjid Zayed bisa selesai. Intinya mensterilkan ini agar tidak ada yang parkir," kata Wali Kota Solo, Respati Ardi di Masjid Raya Sheikh Zayed.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sterilisasi ditandai dengan dibukanya penutup rambu larangan parkir di depan pintu masuk sisi timur masjid. Pemkot memastikan penataan dilakukan dengan tetap memperhatikan nasib warga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terdampak.
"Jadi Pemkot hadir untuk supaya parkir lebih tertib lagi, orang ingin beribadah jangan sampai terbebani masalah parkir, dan dari yang seharusnya untuk keluar parkir bisa mayoni pedagang dan UMKM sekitar. Saya berdoa dan berharap UMKM sekitar bisa hidup, bisa ramai, dan ketimpangan di Masjid Zayed bisa terselesaikan dengan baik," ungkapnya
Respati mengatakan pengunjung bisa memanfaatkan fasilitas parkir gratis di halaman Masjid Raya Sheikh Zayed, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
Dengan demikian, uang yang sebelumnya digunakan untuk membayar parkir diharapkan bisa dialihkan untuk berbelanja di warung atau UMKM sekitar.
"Saat ini ada parkir gratis di halaman parkir Masjid Zayed hingga kapasitas yang cukup untuk roda empat maupun roda dua," ucapnya.
Respati juga memastikan Pemkot tidak akan meninggalkan warga yang terdampak kebijakan tersebut. Bantuan untuk pengembangan UMKM akan disiapkan sebagai salah satu upaya menjaga penghidupan masyarakat.
"Intinya tidak ada yang kami tinggalkan," ujarnya.
Respati mengatakan pengunjung kini dapat memarkirkan kendaraannya di halaman Masjid Raya Sheikh Zayed tanpa dipungut biaya.
"Supaya parkir lebih tertib lagi, orang mau beribadah jangan sampai terbebani masalah parkir. Yang seharusnya uangnya untuk parkir bisa untuk melarisi UMKM sekitar," terangnya.
Ia menyebut area parkir di dalam masjid memiliki kapasitas sekitar 60 mobil dan 100-an sepeda motor. Pemkot juga berupaya memperhatikan warga sekitar yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari aktivitas parkir di sisi barat Jalan Mentawai 1.
"Kapasitas 60 kendaraan roda empat dan roda dua bisa sampai 100," tuturnya.
Warga Masih Ada yang Kecewa
Sementara itu, Ketua Paguyuban Warga Rejosari, Lanyono, mengakui masih ada kekecewaan dari warga. Namun, pihaknya memilih mengikuti kebijakan penataan sambil menunggu solusi yang dijanjikan pemerintah.
"Kalau dibilang ya tetap ada rasa kecewa. Tetapi karena kami wajib mengikuti penataan ini kami harus berpikir positif. Beliau menjanjikan solusi, kami koordinasikan dulu," ujar Lanyono.
Dia mengatakan pendataan akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi para jukir, termasuk usia produktif maupun warga yang sudah berusia lanjut.
"Yang usia produktif, usia tua, dan lainnya akan kita koordinasikan dengan wali kota agar ada penanganan yang cepat. Kalau kelamaan kan kasihan juga," pungkasnya.
Sebelumnya, Warga Rejosari RW 13 menolak adanya sterilisasi parkir di Jalan Mentawai atau timur Masjid Raya Sheikh Zayed. Warga memasang sejumlah sepanduk sebagai bentuk penolakan.
Lanyono mengatakan saat masjid Raya Sheikh Zayed dibangun, pihak pengelola masjid menyerahkan ke warga.
"Karena kami sebagai warga terdampak. Janjinya dari pihak Sheikh Zayed dulu seperti apa, intinya kan dikembalikan ke masyarakat. Paguyuban ini warga, bukan ormas," ungkapnya.
--------
Artikel ini telah naik di detikJateng.
(wsw/wsw)