Pameran Asrul Sani telusuri perjalanan kreatif maestro film Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” yang mengajak publik menelusuri perjalanan kreatif dan pemikiran salah satu tokoh...
Jakarta (ANTARA) - Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” yang mengajak publik menelusuri perjalanan kreatif dan pemikiran salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra, teater, dan film Indonesia.
Pameran ini menampilkan arsip dan dokumentasi perjalanan Asrul Sani dalam sejarah perfilman Indonesia. Selain itu, turut digelar pemutaran film, sesi diskusi lintas generasi, dan dramatic reading.
"Kami ingin memperlihatkan legasi seorang seniman; bagaimana gagasannya lahir, bagaimana karyanya berkembang, dan bagaimana seorang seniman terhubung dengan zaman serta lingkungan kebudayaan di sekitarnya," kata Ketua Dewan Kesenian Jakarta Dewi Umaya saat pembukaan pameran di Jakarta, Jumat.
Pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di bertempat di Ruang Museum Koleksi, Teater Asrul Sani, dan Teater Sjuman Djaya, Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Baca juga: 101 tahun Asrul Sani, Perpusnas luncurkan buku jejak intelektual

Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, teaterawan, pendidik, penulis skenario, sutradara, sekaligus penggerak institusi kebudayaan.
Di dunia film, Asrul berkiprah sebagai penulis skenario dan sutradara. Garapan pertamanya di bidang film adalah skenario "Pegawai Tinggi" (1953) sedangkan debut pertama penyutradaraan filmnya adalah "Titian Serambut Dibelah Tudjuh" (1959).
Beberapa karya terkenal karya seniman asal Sumatera Barat itu antara lain "Lewat Djam Malam" (1954), "Apa Jang Kau Tjari, Palupi?" (1969), "Kejarlah Daku Kau Kutangkap" (1986), dan "Nagabonar" (1987).
Sedangkan dalam dunia sastra, Asrul dikenal sebagai seorang pelopor Angkatan ’45. Bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, ia menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul "Tiga Menguak Takdir".
"Asrul bergerak antara sastra, teater, film, pendidikan, penerjemahan, dan kerja kelembagaan. Ia menulis, menerjemahkan, mendidik, menyutradarai, sekaligus ikut membangun institusi budaya," ujar Dewi.
Baca juga: Karya Asrul Sani jadi media untuk merawat dan majukan kebudayaan

Selama sepuluh hari, pameran dilengkapi sejumlah program yang mendalami karya dan sisi kreatif Asrul Sani seperti rangkaian diskusi yang menghadirkan sejumlah tokoh dari lintas generasi dan bidang, di antaranya Mutiara Sani, Ratih Kumala, Rebecca Kezia, Riri Riza, Gina S. Noer, serta pegiat arsip dan perfilman.
Selain diskusi, publik juga dapat menyaksikan pemutaran beberapa film karya Asrul seperti "Terimalah Laguku" (1953), "Pagar Kawat Berduri" (1961), "Apa Jang Kau Tjari, Palupi?" (1969), "Jembatan Merah" (1973), "Ibu Sejati" (1973), "Kemelut Hidup" (1977), "Sorta (Tumbuh Bunga Di Sela Batu)" (1982), "Titian Serambut Dibelah Tujuh" (1982), "Kejarlah Daku Kau Kutangkap" (1986), "Nagabonar" (1987), "Omong Besar" (1988), dan "Nada dan Dakwah" (1991).
Perjalanan Asrul dari sastra, teater, hingga sinema juga dihadirkan melalui program dramatic reading oleh Teater Gravitasi dan pembacaan esai oleh aktor, Teuku Rifnu Wikana.
Seluruh rangkaian “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” terbuka untuk publik dan gratis.
Baca juga: Sastrawan sebut perkembangan karya sastra generasi Z maju pesat
Baca juga: Mengenang warisan maestro sastra Pramoedya Ananta Toer
Baca juga: Anugerah Sastra Mastera diharap menginspirasi lahirnya sastrawan baru
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.