Pakar Untad: Keamanan pangan jadi tolok ukur keberhasilan MBG
Pakar Gizi Universitas Tadulako (Untad) Prof Nurudin Rahman mengatakan keamanan pangan bisa menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan dalam menyelenggarakan Makan Bergizi ANTARA News sulteng 1 ...
Pakar Untad: Keamanan pangan jadi tolok ukur keberhasilan MBG
Senin, 24 Agustus 2026 17:03 WIB
Arsip- Pekerja mengangkut ompreng berisi makan bergizi gratis ke dalam mobil back tertutup untuk disalurkan ke sekolah di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (14/8/2026). (ANTARA/Muhammad Izfaldi)
Palu (ANTARA) - Pakar Gizi Universitas Tadulako (Untad) Prof Nurudin Rahman mengatakan keamanan pangan bisa menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan dalam menyelenggarakan Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai program prioritas pemerintah.
"Kehigienisan bahan makanan dan porsi gizi makanan sangat penting dalam penyajian MBG," kata Nurdin Rahman di Palu, Senin, menanggapi penyesuaian kebijakan pemerintah mengenai Program MBG.
Menurut dia, bahan baku pangan untuk diolah menjadi makanan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) perlu mempertimbangkan kualitas, ketahanan, dan kandungan gizi, termasuk kehigienisan dapur serta peralatan penunjang digunakan ketika memasak.
Supaya, lanjutnya, saat disajikan kepada penerima manfaat gizi makanan benar-benar berkualitas dan enak dikonsumsi.
"SPPG wajib menjaga kualitas bahan baku pangan supaya aman dikonsumsi," ujarnya.
Ia mengatakan pangan lokal juga tidak kalah bagus dengan bahan makanan mahal, sepanjang kandungan gizi memenuhi syarat diolah, karena selain menghemat biaya juga dapat menjaga menu MBG yang bervariasi.
Menurut dia, penyesuaian kebijakan Program MBG oleh pemerintah sudah betul, maka implementasi di lapangan harus diikuti dengan pengawasan yang optimal melibatkan pemerintah daerah tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, maupun instansi yang berwenang dalam pengawasan makanan.
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah yang memprioritaskan penerima MBG pada wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) sebagai langkah strategis pemerataan layanan program tersebut.
"Berbicara pemenuhan gizi anak tidak cukup hanya intervensi dari anak usia dini. Intervensi harus dimulai dari masa kehamilan. Oleh karena itu ibu hamil juga perlu diprioritaskan memperoleh gizi seimbang. Tujuannya supaya anak dilahirkan asupan gizinya tercukupi, langkah itu juga bagian dari pencegahan stunting," tutur Nurdin.
Lebih lanjut ia menjelaskan penyelenggaraan SPPG juga perlu melibatkan ahli kesehatan lingkungan untuk melihat sanitasi lingkungan dapur, penjaminan menu, dan keamanan makanan, selain ahli gizi yang sudah terlibat sejak awal.
Termasuk pelibatan tim Hazard Analysis and Critical Cobtrol Poins (HACCP) sebagai tim multidisiplin yang bertanggung jawab mengembangkan, menerapkan, dan mempertahankan sistem manajemen keamanan pangan.
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor:
Muhammad Zulfikar
COPYRIGHT © ANTARA 2026