Organda Jateng dorong opsen pajak untuk subsidi angkutan gratis bagi pelajar
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Jawa Tengah mendorong pemerintah mengalokasikan sebagian anggaran yang bersumber dari opsen pajak untuk mensubsidi ANTARA News jateng peristiwa ...
Organda Jateng dorong opsen pajak untuk subsidi angkutan gratis bagi pelajar
Selasa, 22 September 2026 16:45 WIB
Ketua DPD Organda Jawa Tengah Hadi Mustofa di sela-sela pengukuhan jajaran pengurus DPC Organda Kudus di aula Kantor Dinas Perhubungan Kudus, Jawa Tengah, Selasa (22/9/2026). ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif
Kudus (ANTARA) - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Jawa Tengah mendorong pemerintah mengalokasikan sebagian anggaran yang bersumber dari opsen pajak untuk mensubsidi angkutan pedesaan maupun perkotaan sebagai layanan transportasi gratis bagi pelajar.
"Dukungan anggaran tersebut penting untuk meningkatkan akses transportasi bagi pelajar, terutama mereka yang tinggal di wilayah pelosok dan selama ini memiliki keterbatasan angkutan umum," kata Ketua DPD Organda Jawa Tengah Hadi Mustofa di sela-sela pengukuhan pengurus DPC Organda Kudus di aula Kantor Dinas Perhubungan Kudus, Selasa.
Menurut dia angkutan di pelosok harus bisa digratiskan untuk melayani pelajar, sehingga mereka tidak perlu menggunakan kendaraan karena secara usia juga belum cukup umur.
Jika selama ini alokasi anggaran untuk penanganan stunting atau tengkes cukup besar, kata dia, transportasi juga perlu mendapat perhatian. Mengingat kasus kecelakaan di jalan raya yang melibatkan usia produktif juga cukup banyak.
Untuk itu, kata dia, DPD Organda hadir untuk mendampingi dan mendukung kebijakan tersebut, karena keselamatan lalu lintas juga harus menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan transportasi.
Ia juga berharap terdapat alokasi opsen pajak untuk sektor transportasi sehingga dapat mendukung keberlangsungan usaha angkutan umum sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Mundir mengatakan hasil pendataan dari 22 trayek yang masih hidup dan terdapat angkutan yang beroperasi tidak seluruhnya.
"Bahkan, sopir angkot yang diperkirakan masih mau beroperasi hanya 20-an persen. Karena mereka juga mempertimbangkan keluar beroperasi kalau tidak ada penumpang juga rugi operasional," ujarnya.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Organda Kudus Mahmudun membenarkan bahwa angkutan kota maupun pedesaan yang awalnya beroperasi di 22 trayek, kini menurun menjadi 12-an trayek.
Hal itu, kata dia, disebabkan adanya kemajuan teknologi informasi, masyarakat bisa menggunakan ojek daring. Selain itu, kepemilikan kendaraan roda dua setiap rumah tangga juga cukup banyak sehingga mereka enggan naik angkutan umum.
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.