pickleballvnz.com

Orang tua anak neurodivergen diminta cermat pilah informasi di medsos - ANTARA News Kalimantan Barat

Jakarta (ANTARA) - Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog menyarankan orang tua yang memiliki anak neurodivergen lebih cermat memilah informasi yang beredar di media so...

Jakarta (ANTARA) - Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog menyarankan orang tua yang memiliki anak neurodivergen lebih cermat memilah informasi yang beredar di media sosial dan tidak melakukan diagnosis sendiri.

"Jika terlalu banyak mendapatkan informasi, dikhawatirkan informasi-informasi yang kita serap dengan sendirinya itu menjadi self-diagnose, jika dibiarkan itu akan berbahaya bagi kita," kata Erna dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
 

Lead Psychologist Atelier of Minds itu menyoroti pada masa kini informasi tidak hanya bisa didapat dari internet, tetapi juga media sosial seperti Instagram dan TikTok. Informasi kian masif disebarkan dengan kehadiran pemengaruh (influencer) dari tiap platform yang pendapatnya dapat memengaruhi orang tua dalam mengambil keputusan.

Terkait hal itu, Erna meminta agar orang tua bersikap bijak dengan mencari tahu apakah informasi yang disampaikan oleh tokoh pemengaruh yang diikuti di media sosial itu merupakan hal yang benar dan mencantumkan sumber akurat.

Hal itu dapat membantu tiap orang tua untuk menyaring informasi serta terhindar dari hoaks yang tidak relevan dengan kondisi anak neurodivergen.

Orang tua, katanya, diharapkan juga memilih pemengaruh yang diikuti sesuai dengan bidang atau kemampuannya, agar tidak terjadi kesalahpahaman ketika menyerap informasi yang disampaikan oleh tokoh tersebut.

"Misalnya dia membahas suatu topik yang sangat sensitif, apakah dia sudah dalam bidangnya, kemudian dari mana dia mengutip sumber itu? Misalkan apa bacaan yang telah dia dapatkan, biasanya kalau kontennya kredibel mereka akan mencantumkan referensinya," ujar Erna.

Hal lain yang Erna sampaikan yakni orang tua diminta untuk tidak mudah membuat diagnosis sendiri karena mendapat bantuan dari Artificial Intelligence/AI.

Menurutnya, kecerdasan buatan itu merupakan ciptaan manusia yang hanya merangkum seluruh informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya.

Diharapkan orang tua yang ragu dan mulai membutuhkan bantuan untuk segera mencari bantuan tenaga medis atau berkonsultasi dengan profesional seperti dokter anak atau psikolog, guna mendapatkan penanganan yang tepat.

Dikarenakan kondisi anak neurodivergen membutuhkan cara yang berbeda dibandingkan anak-anak neurotipikal (anak pada umumnya), dia menekankan orang tua harus memaksimalkan waktu konsultasi dan banyak bertanya untuk mengonfirmasi tiap informasi yang sudah didapatkan dari media sosial sebelumnya.

Dengan demikian, orang tua dapat mengetahui langkah-langkah yang tepat serta cara memantau tumbuh kembang anak tersebut sebagaimana mestinya.

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.