NTB konsolidasi petani kemiri kejar pasar Eropa dan Timteng
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat akan melakukan konsolidasi seluruh petani kemiri hingga vanili di wilayah itu guna mengejar dan memperluas pasar komoditas pertanian ANTARA News mataram 3 ...
Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat akan melakukan konsolidasi seluruh petani kemiri hingga vanili di wilayah itu guna mengejar dan memperluas pasar komoditas pertanian tersebut ke negara-negara Eropa dan Timur Tengah.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB Lalu Wiranata mengakui pasar ekspor saat ini sangat terbuka untuk komoditas kemiri, Jepang sudah menjadi tujuan ekspor, sementara permintaan dari Eropa dan Dubai Timur Tengah belum bisa dipenuhi.
"Jepang sudah ekspor, Dubai belum kita penuhi. Makanya untuk memenuhi itu kita konsolidasikan semua petani kemiri dulu supaya produknya banyak," ujarnya di Mataram, Jumat.
Ia menyebutkan untuk komoditas ekspor, buah kemiri dihargai Rp70 ribu per kilogram. Sedangkan, di pasar lokal dihargai Rp12 ribu per kilogram.
"Jadi, mahal kan (kemiri). Kalau di pasar kita beli Rp12 ribu," sebut Wiranata.
Selain kemiri, komoditas vanili juga menjadi primadona khususnya Amerika Serikat. Ia mencontohkan, sebanyak 5 ton vanili yang telah di ekspor ke Amerika Serikat nilainya mencapai miliaran rupiah dengan harga per kilogram bisa di atas Rp2 juta.
"Kalau kemiri ini sentra kita ada di Lombok Tengah, Dompu, dan Bima. Vanili ini butuh special treatment karena cepat rusak akibat hama," ungkapnya.
Menurut dia, pasar ekspor untuk kemiri ini sangat besar bisa mencapai 25 ton permintaan. Hanya saja yang baru bisa dipenuhi 5 ton. Untuk memenuhi permintaan pasar yang diprediksi mencapai 25 ton, pihaknya perlu melakukan konsolidasi petani sejenis di seluruh NTB.
"Sudah ada Gapoktan tapi belum terkoordinir dengan baik, makanya kita konsolidasi dengan kabupaten kota. Kita pastikan komoditas-nya ada dulu, makanya kita perlu kumpulkan seluruh petani sejenis," tegasnya.
Ia menambahkan, permintaan terbesar datang dari pasar Eropa, Timur Tengah, dan China.
"Khusus China ini sangat detail permintaannya, mereka tahya dulu asal komoditas, termasuk dari hutan mana di tanam," terang Wiranata.
Oleh karena itu, sebagai dukungan jangka panjang, pihaknya juga melakukan perluasan tanam. Sebanyak 12 ribu dan 11 ribu bibit kemiri telah ditanam.
"Sudah kita bagikan bibitnya ke petani, jarak tanam 3 tahun sudah bisa panen, sementara komoditas yang dikirim kemarin masih berasal dari pohon-pohon lama," katanya.
Lebih lanjut, mantan Kepala Bappeda Kabupaten Lombok Tengah ini mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB sudah menjalin kerja sama strategis dengan Kementerian Keuangan untuk mempercepat hilirisasi komoditas unggulan daerah.
Kerja sama tersebut dilakukan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang diluncurkan oleh Sekretariat Jenderal Kemenkeu. Di bawah program itu terdapat sejumlah perusahaan BUMN yang akan menjadi mitra.
"Kita MoU dengan Kemenkeu melalui program TJSL. Di bawahnya itu ada perusahaan-perusahaan. Kita bergabung untuk hilirisasi komoditas NTB seperti kemiri, kakao, mente, dan kopi agar nilai tambahnya meningkat," ujar Wiranata.
Ia menegaskan hilirisasi tersebut tidak lagi berhenti pada proses pengupasan saja. Untuk kemiri, misalnya, akan didorong masuk ke hilirisasi tahap kedua.
"Kalau kemiri masuk hilirisasi tahap kedua, bukan hanya kupas bungkus, tapi sudah jadi minyak kemiri, kosmetik dan sebagainya," tutur Wiranata.
Keuntungan dari kerja sama ini, kata Wiranata, petani dan UMKM akan mendapatkan bantuan permodalan, mesin produksi, bimbingan, pembuatan program melalui pelatihan, hingga akses pasar dan titik ekspor agar devisa masuk ke NTB.
"Jadi, ini beberapa keuntungan yang diperoleh petani kita nantinya dan buat NTB devisa-nya bisa untuk daerah," katanya.