Nezar ingatkan RI jangan sampai tertinggal dalam rantai pasok AI
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan Indonesia tidak boleh terlambat masuk ke rantai pasok industri kecerdasan artifisial (Artificial ANTARA News kalteng 43 ...
Nezar ingatkan RI jangan sampai tertinggal dalam rantai pasok AI
Jumat, 24 Juli 2026 17:19 WIB
Wamenkomdigi Nezar Patria menjadi pembicara dalam Alumni Night: Grab Velocity Ventures (GVV) di, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2026). ANTARA/HO-Kemkomdigi/am.
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan Indonesia tidak boleh terlambat masuk ke rantai pasok industri kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) global.
Menurut dia, persaingan AI tidak lagi hanya soal pengembangan aplikasi, tetapi, telah bergeser menjadi perebutan penguasaan semikonduktor, pusat data, dan mineral kritis yang akan menentukan posisi negara dalam ekonomi digital dunia.
"Yang paling penting lagi adalah, jangan terlambat untuk masuk ke dalam rantai pasok global, termasuk AI," kata Nezar dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Pengembangan startup (perusahaan rintisan) kini mengalami perubahan paradigma. Jika sebelumnya banyak perusahaan rintisan berorientasi pada valuasi dan pertumbuhan yang agresif, kini fokus bergeser kepada pembangunan bisnis yang berkelanjutan dengan fondasi yang kuat.
Dia menilai pengalaman India menunjukkan intervensi pemerintah melalui penguatan ekosistem startup, kebijakan Make in India, dan pembangunan industri semikonduktor mampu mendorong lahirnya inovasi baru berbasis AI.
"AI kali ini menjadi driving process (proses pendorong) untuk bertumbuhnya startup-startup," ujar dia.
Nezar menilai Indonesia memiliki modal besar untuk ikut bersaing dalam industri AI. Tingginya adopsi AI, berkembangnya startup berbasis AI, serta munculnya inisiatif pengembangan large language model (LLM) nasional menjadi fondasi penting menuju AI yang berdaulat.
Namun, dia mengingatkan Indonesia masih berada pada tahap pemanfaatan teknologi sehingga perlu memperkuat kemampuan nasional melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
"Kita masih di level usage. Kita belum menjadi developer untuk soal AI," kata Wamen Nezar.
Menurut Nezar, penguasaan AI juga membutuhkan dukungan infrastruktur digital, terutama pusat data, Graphics Processing Unit (GPU), dan industri semikonduktor.
Selain itu, Indonesia memiliki cadangan mineral kritis seperti nikel dan pasir silika yang perlu dihilirisasi agar memberikan nilai tambah bagi industri teknologi nasional.
Baca juga: Indonesia akan manfaatkan WAICO untuk kejar pengembangan AI terbaru
Dengan memperkuat posisi pada industri semikonduktor, Indonesia dinilai akan memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam persaingan teknologi global.
"Hilirisasi dari mineral kritis yang mentah itu menjadi produk antara yang kira-kira memperkuat posisi kita dalam rantai pasok global di industri semikonduktor," jelasnya.
Pemerintah saat ini juga menyiapkan Peta Jalan AI yang akan menjadi Peraturan Presiden sebagai acuan pengembangan AI nasional.
Regulasi tersebut disusun menggunakan pendekatan berbasis risiko agar mampu menjaga ruang inovasi sekaligus memastikan pemanfaatan AI berlangsung secara bertanggung jawab.
Nezar menegaskan AI harus menjadi teknologi yang membantu manusia meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia.
"Teknologi ini harus dijadikan sebagai companion (pendamping) buat kita. Bukan kita kemudian menyerahkan semuanya kepada artificial intelligence," kata dia.
Pewarta : Farhan Arda Nugraha
Uploader: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.