Nepal Tolak Tim SAR Asing dalam Penanganan Banjir Bandang, Pilih Bantuan Dana
Liputan6.com, Kathmandu - Nepal menyatakan belum membutuhkan bantuan tim pencarian dan penyelamatan (SAR) dari negara lain setelah banjir bandang dahsyat menghancurkan sejumlah wilayah. Pernyataan itu disampaik...
Liputan6.com, Kathmandu - Nepal menyatakan belum membutuhkan bantuan tim pencarian dan penyelamatan (SAR) dari negara lain setelah banjir bandang dahsyat menghancurkan sejumlah wilayah. Pernyataan itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Nepal pada Jumat (28/8/2026).
"Wajar jika negara lain menawarkan bantuan. Namun, aparat keamanan kami sedang menjalankan operasi pencarian dan penyelamatan. Untuk sementara, kami belum membutuhkan bantuan tersebut," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal Lok Bahadur Chhetri seperti dilaporkan CNA.
Pemerintah Nepal sebelumnya menerima sejumlah tawaran, baik secara resmi maupun tidak resmi, dari negara dan organisasi yang ingin mengirim tim pencarian dan penyelamatan. Hal itu disampaikan seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Nepal, seperti dilaporkan The Kathmandu Post.
Menurut surat kabar tersebut, pemerintah Nepal menanggapi tawaran itu dengan mengatakan bahwa aparat keamanan dalam negeri masih mampu menangani operasi pencarian dan penyelamatan.
Alih-alih menerima tim SAR asing, Nepal memilih meminta bantuan dalam bentuk dana yang disalurkan melalui satu pintu. Seluruh bantuan keuangan akan dihimpun melalui satu saluran resmi pemerintah.
Kementerian Luar Negeri Nepal telah menginstruksikan seluruh perwakilannya di luar negeri agar bantuan keuangan hanya disalurkan melalui Dana Bantuan Bencana Perdana Menteri.
Para pejabat mengatakan pemerintah akan meminta tambahan bantuan keuangan dan dukungan lainnya ketika memasuki tahap rekonstruksi. The Kathmandu Post melaporkan, sejumlah negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris telah menawarkan bantuan dana.
Negara-negara yang telah menawarkan untuk mengirim tim pencarian dan penyelamatan antara lain India, China, AS, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka, dan Bangladesh.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengatakan pihaknya akan terus berunding dengan Nepal mengenai kemungkinan pengiriman tim pencarian dan penyelamatan.
Menurut pernyataan menteri luar negeri Korea Selatan di platform X, Seoul juga telah menjanjikan bantuan kemanusiaan sebesar US$ 1 juta melalui organisasi internasional.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan sebelumnya mengatakan pada Rabu (26/8) bahwa sembilan warga negaranya yang bekerja di sebuah pembangkit listrik tenaga air masih hilang, sementara 10 lainnya terjebak.
Menurut The Kathmandu Post, keputusan Nepal untuk tidak menerima tim pencarian dan penyelamatan asing didasarkan pada pengalaman saat gempa besar melanda negara itu pada 2015.
Ketika itu, kedatangan banyak tim pencarian dan penyelamatan dari luar negeri menimbulkan persoalan besar dalam koordinasi dan pengelolaan operasi di lapangan.
Keputusan tersebut juga diambil berdasarkan rekomendasi Angkatan Darat dan Kepolisian Nepal.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Nepal membentuk tim tanggap darurat atau Emergency Response Team (ERT) untuk membantu warga negara asing yang terdampak banjir di Distrik Rasuwa.
"ERT akan menjadi pusat koordinasi di kementerian untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan, memastikan kebenaran informasi, serta memberikan bantuan konsuler kepada warga negara asing yang terdampak, hilang, atau terkait dengan banjir tersebut," demikian pernyataan yang dimuat di situs Kementerian Luar Negeri Nepal.
Per Jumat, jumlah korban tewas banjir bandang Nepal yang dirilis oleh kepolisian setempat mencapai 475 orang. Sementara itu, di wilayah Tibet, China, tercatat tiga orang.
Berdasarkan pernyataan resmi Otoritas Manajemen Bencana Nepal dan Kementerian Luar Negeri China, hampir 1.500 orang dinyatakan hilang akibat banjir bandang di perbatasan, yang meliputi sekitar 970 orang di sisi Nepal (termasuk 517 warga negara asing) dan 558 orang di wilayah Tibet, China (termasuk 260 warga negara asing).
Bencana banjir bandang Nepal bermula ketika sebuah gletser runtuh pada Rabu pagi. Runtuhan itu memicu terjangan besar batu, es, lumpur, dan puing yang mengalir melalui sungai-sungai di kawasan Pegunungan Himalaya.
Banjir kemudian menerjang desa-desa dan lembah serta menghancurkan pembangkit listrik, jalan, dan jembatan di sepanjang jalur yang menghubungkan Kathmandu dengan Lhasa di Tibet. Jalur tersebut juga populer di kalangan pendaki dan peziarah.
Dewan Pariwisata Nepal mengatakan warga asing yang belum dapat dihubungi antara lain berasal dari Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, dan Korea Selatan.