pickleballvnz.com

Musisi muda Maluku tampil di program inkubasi musik Manajemen Talenta Nasional Lab - ANTARA News Ambon, Maluku

Ambon (ANTARA) - Sepuluh musisi muda Maluku tampil di program inkubasi musik Manajemen Talenta Nasional Lab X, untuk menembus keterbatasan infrastruktur industri musik di daerah. Selama lima hari, sejak 21 -25 ...

Ambon (ANTARA) - Sepuluh musisi muda Maluku tampil di program inkubasi musik Manajemen Talenta Nasional Lab X, untuk menembus keterbatasan infrastruktur industri musik di daerah.

Selama lima hari, sejak 21 -25 Juli 2025 sepuluh musisi muda terpilih asal Maluku mengikuti pelatihan intensif yang dirancang untuk memperkuat kapasitas kreatif sekaligus membuka akses ke industri musik yang lebih luas.

Perwakilan penyelenggara Rempah Gunung, Pierre Ajawaila, menjelaskan, program ini dirancang secara khusus untuk merespons minimnya seniman lokal yang memproduksi karya mandiri secara konsisten, meskipun Maluku kaya akan talenta musikal. 

Sepuluh musisi yang memiliki karya awal dibekali materi intensif, mulai dari penulisan lirik, struktur lagu, arah pengembangan karier (trajectory), branding, hingga produksi rekaman kolektif bersama para mentor.

Perwakilan Manajemen Talenta Nasional, Sugi Aryani menjelaskan, keistimewaan musikal masyarakat Ambon menjadi alasan utama hadirnya program inkubasi ini untuk tahun kedua. 

Menurutnya, musik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku, yang terbukti dari fenomena banyaknya karakter vokal kuat serta potensi penulisan lagu (songwriting) yang sangat menonjol sejak tahap seleksi awal.

Sugi menekankan, program MTN Lab bertindak sebagai pembekalan awal agar para peserta dapat tumbuh lebih mandiri dan mampu membangun pijakan karier (trajectory) masing-masing, Mengingat adanya keterbatasan ruang dan durasi program, keberlanjutan proses kreatif serta eksekusi karya selanjutnya sepenuhnya berada di tangan para musisi.

Pihak MTN juga terus berupaya membukakan jalan jejaring yang lebih luas bagi para talenta daerah dengan menghubungkan mereka ke berbagai peluang eksternal, seperti program hibah (grant) hingga festival nasional.

Sugi pun mengimbau para musisi muda Ambon untuk tidak cepat berpuas diri di tingkat lokal dan berani memperluas kolaborasi ke luar daerah.

Sementara itu, musisi sekaligus mentor program, Tesla Manaf, menilai persoalan utama ekosistem musik di Ambon bukan terletak pada kualitas sumber daya manusia, melainkan ketimpangan infrastruktur. Keterbatasan studio rekaman ideal, tingginya biaya transportasi, hingga kendala akses informasi dan internet membuat musisi daerah sering kali tertinggal secara akses dibandingkan mereka yang berbasis di Pulau Jawa.

Untuk menyikapi keterbatasan tersebut, Tesla menekankan pentingnya efisiensi proses produksi dan pemanfaatan peralatan yang ada tanpa harus menunggu fasilitas studio yang ideal. Dalam sesi rekaman intensif selama enam jam, para peserta diajak memproduksi karya secara spontan dari nol hingga menjadi lagu utuh yang siap jahit.

Ia menegaskan, di tengah persaingan industri musik yang ketat, kemahiran teknis saja tidak cukup untuk bertahan. hal paling krusial yang harus dimiliki dan ditonjolkan oleh seorang musisi adalah karakteristik atau ciri khas yang membedakan karyanya dari yang lain.

Mentor penyanyi Grace Sahertian mengaku sangat terkesan dengan tingginya musikalitas serta keberagaman genre yang diusung para musisi muda di Ambon, mulai dari ambient, musik etnik, hingga hip-hop.

Ia menyoroti munculnya talenta musisi perempuan asli daerah yang mahir memainkan instrumen serta menulis lagu dengan diksi yang kaya.

Grace menilai bahwa bakat-bakat besar di Ambon akan terbuang sia-sia jika tidak ditunjang oleh infrastruktur dasar seperti studio latihan, fasilitas rekaman, dan panggung pertunjukan yang memadai. Lewat program ini, para peserta diharapkan dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya untuk kemudian mengambil tanggung jawab penuh atas karier musik mereka sendiri.

Ia juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam berkarya, pembentukan identitas diri (branding), serta pemahaman strategi promosi mandiri bagi musisi yang ingin masuk ke industri. Grace berkomitmen untuk terus menjaga koneksi dan memberikan dukungan moril maupun teknis bagi para peserta agar karya-karya mereka dapat terwujud secara berkelanjutan.

Dampak dari rangkaian pelatihan dan pendampingan intensif tersebut dirasakan langsung oleh para peserta yang terlibat, di antaranya Argon, Lola Abrahams, dan Ardelony Imlabla.

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor : Luqman Hakim

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.