Musim Ubur-ubur Tiba, Dokter Minta Wisatawan Ekstra Hati-hati dan Bawa Cuka
Jakarta - Musim kemunculan ubur-ubur di pantai selatan Pulau Jawa hingga Bali sedang berlangsung. Dokter spesialis emergensi di RS Permata Depok sekaligus pakar toksinologi Tri Maharani mengimbau wisatawan meni...
Jakarta -
Musim kemunculan ubur-ubur di pantai selatan Pulau Jawa hingga Bali sedang berlangsung. Dokter spesialis emergensi di RS Permata Depok sekaligus pakar toksinologi Tri Maharani mengimbau wisatawan meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di pantai.
Salah satu insiden terbaru sengatan ubur-ubur memakan korban terjadi di kawasan Pantai Selatan (Pansela) Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pantai Sanur di Bali. Dalam beberapa waktu terakhir, petugas SAR mencatat belasan wisatawan tersengat ubur-ubur di sejumlah pantai.
Korban didominasi anak-anak yang tertarik mendekati hewan laut tersebut karena bentuknya menyerupai balon transparan berwarna kebiruan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maha, sapaan karib Tri Maharani, menyebut fenomena itu bukanlah kejadian yang mengejutkan. Dia mengatakan pertengahan tahun memang menjadi periode ketika ubur-ubur banyak bermunculan di pantai selatan Pulau Jawa hingga Bali.
"Juni sampai September itu bulannya ubur-ubur blooming di pantai selatan Pulau Jawa sampai Bali. Akan keluar ubur-ubur biru," kata Maha dalam perbincangan dengan detikTravel, Selasa (4/8/2026).
Maha mengatakan meski pada umumnya tidak mematikan, sengatan ubur-ubur tetap tidak boleh dianggap sepele. Derita terkena racun ubur-ubur bisa bikin trauma.
"Memang ubur-ubur biru itu tidak mematikan, tetapi akan menimbulkan rasa nyeri, rasa panas, dan akan berbayang untuk anak-anak," kata Maha.
Menurut Tri, banyak anak menjadi korban karena penasaran melihat bentuk ubur-ubur yang tampak menarik. Padahal, meski sudah terdampar di bibir pantai, tentakel ubur-ubur masih dapat menyengat ketika bersentuhan dengan kulit.
Karena itu, dia mengimbau wisatawan, terutama orang tua yang membawa anak-anak, untuk tidak membiarkan mereka menyentuh ubur-ubur yang ditemukan di pasir.
Bawa Cuka, Jangan Panik
Tri menyarankan wisatawan menyiapkan perlengkapan sederhana sebelum berwisata ke pantai, salah satunya cuka. Menurutnya, larutan cuka dapat digunakan sebagai pertolongan pertama apabila seseorang tersengat ubur-ubur maupun beberapa hewan laut lainnya.
"Cuka ini positif untuk hewan laut," kata dia.
Namun, cuka yang digunakan sebaiknya tidak dalam kondisi pekat. Dia menjelaskan cuka makanan dengan konsentrasi sekitar 25 persen perlu diencerkan terlebih dahulu hingga menjadi larutan sekitar lima persen.
"Cuka 250 mililiter ditambah air empat bagian sehingga menjadi sekitar satu liter," kata dia.
Larutan tersebut kemudian dapat disiramkan pada bagian tubuh yang tersengat. Cara ini juga dapat digunakan sebagai pertolongan pertama terhadap sengatan beberapa hewan laut lain seperti ikan batu (stonefish), bulu babi, hingga ikan pari.
Selain membawa perlengkapan darurat, Maha juga menyarankan wisatawan mengenakan pakaian yang menutupi kulit saat berenang atau bermain air.
Menurutnya, penggunaan pakaian renang berlengan panjang atau rash guard dapat mengurangi risiko kulit bersentuhan langsung dengan tentakel ubur-ubur.
Dia juga mengingatkan wisatawan agar selalu memperhatikan papan informasi atau peringatan dari petugas pantai, terutama ketika memasuki musim kemunculan ubur-ubur.
Indonesia Perlu Belajar dari Negara Lain
Tri menilai pengelola destinasi wisata juga memiliki peran penting dalam mengurangi risiko sengatan ubur-ubur. Dia mencontohkan sejumlah pantai di Malaysia yang telah menyediakan papan informasi mengenai musim ubur-ubur lengkap dengan botol cuka yang bisa langsung digunakan wisatawan apabila terjadi sengatan.
"Kalau pergi ke pantai di Malaysia, di pinggir pantainya ada papan pengumuman. Di sebelahnya juga disediakan cuka. Jadi kalau ada yang tersengat, tidak usah menunggu petugas, bisa langsung memberikan pertolongan pertama," kata Maha.
Menurut Maha, konsep sederhana seperti itu seharusnya juga diterapkan di Indonesia mengingat pantai merupakan destinasi wisata paling diminati.
"Padahal pantai adalah pariwisata yang paling laris di Indonesia," kata Maha yang juga dikenal sebagai pakar bisa ular itu.
Dia berharap pengelola destinasi tidak hanya fokus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperkuat aspek keselamatan melalui penyediaan informasi bahaya, perlengkapan pertolongan pertama, hingga edukasi kepada pengunjung.
"Keselamatan itu nomor satu. Orang datang berwisata ingin bahagia, jadi mereka juga harus pulang dengan selamat," kata Maha.
(fem/ddn)