MUI dan LAZ memetakan kebutuhan pemulihan penyintas gempa NTT
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama sejumlah lembaga amil zakat (LAZ) mulai memetakan kebutuhan jangka menengah dan panjang proses pemulihan bagi para penyintas gempa di NTT ANTARA News ntt 1 ...
MUI dan LAZ memetakan kebutuhan pemulihan penyintas gempa NTT
Rabu, 26 Agustus 2026 11:21 WIB
Sejumlah anak bermain gawai di depan tenda pengungsian di Pota, Sambi Rampas, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Minggu (23/8/2026). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/kye
Jakarta (ANTARA) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama sejumlah lembaga amil zakat (LAZ) mulai memetakan kebutuhan jangka menengah dan panjang proses pemulihan bagi para penyintas gempa di NTT agar tepat sasaran.
“Insya Allah kerja sama dengan lembaga-lembaga amil zakat ini akan kita lanjutkan pada tahap recovery yang saat ini MUI, dalam hal ini lembaga advokasi penanggulangan bencana, sudah mengirim tim asesmen dua orang untuk ke lapangan selama lima hari,” ujar Wasekjen MUI Bidang Penanggulangan Bencana Mabroer MS dikonfirmasi dari Jakarta, Rabu.
Kiai Mabroer mengatakan MUI telah menyalurkan kebutuhan darurat tak lama pascagempa mengguncang wilayah tersebut. Kini pemberian bantuan mulai bergeser pada kebutuhan jangka menengah dan panjang.
MUI menerjunkan sejumlah tim penilai (asesmen) demi memastikan program pemulihan yang akan dijalankan MUI bersama lembaga amil zakat sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Hasil asesmen nantinya menjadi dasar bagi MUI dan lembaga amil zakat dalam menentukan program pemulihan yang dibutuhkan dan tentu tepat sasaran.
“Mereka melakukan survei, melakukan pemetaan, dan akan memastikan jenis kegiatan atau program yang akan dilakukan MUI bersama lembaga amil zakat ke depan seperti apa,” kata dia.
Menurutnya, bencana di NTT tidak hanya berdampak terhadap tempat tinggal masyarakat, tetapi juga terhadap sejumlah sarana yang selama ini menjadi pusat aktivitas keagamaan dan pendidikan masyarakat. Salah satu prioritas MUI, yakni fasilitas keagamaan dan pendidikan Islam yang mengalami kerusakan.
“Apakah akan merenovasi atau membangun ulang masjid yang ada di sana, karena banyak masjid maupun mushalla dan ada satu pesantren juga yang mengalami kerusakan akibat gempa di NTT,” ujarnya.
Ia menegaskan penanganan bencana tidak cukup berhenti pada pemenuhan kebutuhan logistik. Pemulihan kehidupan masyarakat menjadi pekerjaan lanjutan yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.
Selain itu, pemulihan pascabencana diharapkan tidak hanya mengembalikan kondisi fisik lingkungan, tetapi juga memastikan anak-anak dapat kembali menjalani aktivitas pendidikan
“Kita berharap para korban bisa bangkit kembali untuk menata ulang kehidupan mereka, termasuk khususnya anak-anak bisa sekolah kembali seperti sedia kala,” kata dia.
Pewarta : Asep Firmansyah
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.