pickleballvnz.com

Mewujudkan swasembada beras di Bumi Etam

Program ini berdiri di atas satu keyakinan: pertanian butuh wajah baru, semangat baru, dan tangan yang terbiasa dengan teknologi baruSamarinda (ANTARA) - Di hamparan tanah merah yang lebih dikenal sebagai lumbu...

Program ini berdiri di atas satu keyakinan: pertanian butuh wajah baru, semangat baru, dan tangan yang terbiasa dengan teknologi baru

Samarinda (ANTARA) - Di hamparan tanah merah yang lebih dikenal sebagai lumbung energi dan di sela deru ekskavator raksasa pengeruk batu bara, tumbuh harapan besar tentang melimpahnya padi hasil tangan dingin petani.

Ada mimpi baru yang berkembang di balik pohon-pohon raksasa dalam belantara Kaltim yang dikenal sebagai paru-paru dunia. Mimpi bahwa di "Bumi Etam" ada sawah yang menyangga kedaulatan pangan. Mimpi yang dulu terasa jauh kini melangkah mantap mendekati kenyataan, swasembada beras akhir 2026.

"Kalimantan Timur (Kaltim) sudah mengalami peningkatan produksi padi sangat berarti. Saat ini capaian swasembada sudah lebih dari 60 persen. Kami bertekad kuat agar pada akhir 2026 angka ini menjadi seratus persen penuh," ujar Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji di Samarinda, pekan kedua Juli ini.

Perjalanan menuju angka seratus persen itu bukanlah jalan yang rata dan mudah. Kaltim dengan kebutuhan beras tahunan sekitar 350 ribu ton, atau setara 600 ribu ton gabah kering giling, selama ini masih harus mendatangkan hampir separuh kebutuhannya dari luar pulau.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi lokal saat ini baru mencapai 270.867 ton GKG, yang setelah digiling menjadi sekitar 157 ribu ton beras. Artinya, masih ada sekitar 192 ribu ton beras yang harus berlayar dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur untuk memenuhi piring makan warga Kaltim.

Kebergantungan pada daerah lain ini perlahan ingin diakhiri. Pemprov Kaltim dengan tekad bulat melangkah melalui dua pintu utama, memperluas hamparan sawah dan memperbarui nadi pengairan, kemudian melalui teknik bertani.

Memperluas harapan

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.