pickleballvnz.com

Menilik Sejarah 4 Kota Besar di Jawa Barat Lewat Film Dokumenter Dispusipda Jabar - ANTARA News Jawa Barat

Bandung (ANTARA) - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat (Dispusipda Jabar) menggelar kegiatan nonton bersama film sejarah dan dokumenter kearsipan, salah satu film dokumenter kearsipan yang ditaya...

Bandung (ANTARA) - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat (Dispusipda Jabar) menggelar kegiatan nonton bersama film sejarah dan dokumenter kearsipan, salah satu film dokumenter kearsipan yang ditayangkan mengenai 4 kota-kota besar di Jawa Barat, melalui media audiovisual. 

Film 4 kota-kota besar di Jawa Barat, merupakan informasi yang terekam dalam arsip Dispusipda Jabar bagi generasi muda agar dapat lebih mengenal kisah perjalanan hingga warisan Provinsi Jawa Barat. Kegiatan ini belangsung sejak 15-29 September 2026, di Home Teater Dispusipda Jabar. 

Berikut sejarah 4 kota-kota besar di Jawa Barat yang ada dalam film dokumenter arsip Dispusipda Jabar:

Kota Cirebon

Nama Cirebon berasal dari kata caruban, yang berarti campuran dalam bahasa Jawa, karena banyaknya budaya yang ada di Cirebon dari budaya Sunda, Jawa, Tionghoa, hingga Arab. Sementara itu, dalam bahasa Sunda, Ci berasal dari kata Ciam yang berarti air dan rebon berarti udang. 

Pada 7 Januari 1681, penguasa Cirebon menandatangani perjanjian dengan VOC sehingga secara politik dan ekonomi, Cirebon berada dalam penguasa pihak VOC pada masa kolonial. Pemerintahan Cirebon baru disahkan pada tahun 1906, dengan jumlah penduduk 20.000 jiwa. Kemudian wilayah Cirebon diperluas menjadi 2.450 hektare, pada tahun 1942. 

Kota Cirebon terus mengalami perubahan dan perluasan wilayah. Pada tahun 1957, menjadi kota praja dengan luas 3.300 hektare. Lalu menjadi kota madya, tahun 1965 dengan luas wilayah 3.600 hektare. 

Kota Bogor

Sejarah Kota Bogor berakar dari pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran (Pakuan) yang sempat hilang usai penyerbuan tentara Banten, lalu ditemukan kembali lewat ekspedisi Belanda pada tahun 1687 melalui penelitian Prasasti Batutulis. 

Kota Bogor mulai berkembang pesat setelah Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff membangun Istana Bogor pada tahun 1745 bersamaan dengan pembangunan Jalan Raya Post (Daendels), serta perancangan daerah pertanian dan peristirahatan, hingga masa kekuasaan Inggris. Gubernur Jenderal Thomas Raffles menata kembali Bogor sebagai daerah peristirahatan dengan merenovasi Istana Bogor dan membangun Kebun Raya (Botanical Garden). 

Status pemerintahannya terus bertransformasi, mulai dari Gemeente Buitenzorg pada tahun 1905 di bawah Undang-Undang Desentralisasi Belanda, hingga resmi ditetapkan menjadi Kota Besar Bogor berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 16 Tahun 1950.

Kota Sukabumi

Nama Sukabumi berasal dari kata dalam bahasa Sunda Sukabumen yang bermakna udara sejuk dan nyaman, hingga membuat orang kerasan. Nama ini diajukan oleh Dr. Andries de Wilde, pada 13 Januari 1815 untuk menggantikan nama wilayah awal, yaitu Cikole dan Parungseah. 

Perkembangan Sukabumi tak lepas dari komoditas kopi dan teh VOC, yang memicu pembukaan jalur kereta api penghubung Sukabumi dengan Buitenzorg (Bogor), Batavia, Cianjur, hingga Bandung. Pada 25 Januari 1813, De Wilde membeli tanah di Sukabumi seluas lima perduabelas bagian, seharga 58.000 Ringgit Spanyol. 

Pada 1 April 1914, wilayah ini kemudian diangkat statusnya menjadi Gemeente karena banyaknya pemukim Eropa dan pemilik perkebunan (pribumi planter) yang membutuhkan pelayanan khusus, dan bertepatan dengan kemenangan Belanda melawan Spanyol. Hal inilah yang melatarbelakangi hari jadi Kota Sukabumi, meski pemerintahan kota baru resmi dibentuk pada 1 Mei 1926 dengan Mr. G.F. Rambonet sebagai wali kota pertama.

Kota Bandung

Nama Bandung berasal dari kata bendung, yakni terbendungnya Sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Parahu atau dari Perahu Bandung, dua perahu diikat berdampingan yang digunakan Bupati R.A. Wiranatakusumah II saat melayari Sungai Citarum. 

Bandung mulai dijadikan pemukiman sejak masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan pembangunan sarana dan prasarana pada 25 September 1810, tanggal yang kini diperingati sebagai hari jadi Kota Bandung.

Kota yang dijuluki Paris van Java dan Kota Kembang, resmi mendapat status Gemeente pada 1 April 1906 dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz dengan luas awal 900 hektare. Pertumbuhan penduduk Bandung melonjak tajam seiring dibukanya jalur kereta api penghubung ke Batavia pada tahun 1880, serta peristiwa bersejarah seperti Bandung Lautan Api (1946) dan Long March Siliwangi yang terus menambah daya tarik serta luas wilayah kota ini hingga berkembang pesat seperti sekarang.

Pewarta: Niky Putri
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.