pickleballvnz.com

Mengenal Houthi dan Siapa yang Mendanainya

Liputan6.com, Teheran - Perang saudara yang menghancurkan Yaman kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir. Pertempuran sengit terjadi antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan menguasai sebagian besar w...

Liputan6.com, Teheran - Perang saudara yang menghancurkan Yaman kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir. Pertempuran sengit terjadi antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman, melawan pasukan pro-pemerintah yang mendapat dukungan Arab Saudi.

Dikutip dari BBC, Sabtu (17/10/2026), pada September, Houthi merebut sebagian pesisir Laut Merah di Yaman, dekat Selat Bab al-Mandab. Selat ini merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan global yang terletak di pintu masuk selatan Laut Merah.

Kemajuan Houthi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak lebih lanjut, menyusul perang selama enam bulan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Pada awal Oktober, pasukan pro-pemerintah menyatakan berhasil merebut kembali wilayah yang menghadap Selat Bab al-Mandab. Keberhasilan itu diklaim dicapai setelah mereka melancarkan serangan balasan besar-besaran dengan dukungan serangan udara intensif Arab Saudi.

Houthi merespons serangan tersebut dengan meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer, fasilitas energi, serta bandara di negara tetangganya, Arab Saudi.

Sedikitnya 13 orang tewas ketika sebuah rudal menghantam bandara internasional Riyadh pada 10 Oktober. Serangan itu menjadi yang paling mematikan di Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.

Siapa Houthi?

Houthi merupakan kelompok politik dan keagamaan bersenjata yang berasal dari Yaman utara. Kelompok ini memperjuangkan kepentingan minoritas Zaidi di negara tersebut. Zaidisme merupakan salah satu cabang dalam Islam Syiah.

Houthi menyatakan diri sebagai bagian dari “poros perlawanan” yang dipimpin Iran untuk melawan Israel, AS, dan negara-negara Barat secara lebih luas. Poros tersebut juga mencakup kelompok bersenjata seperti Hamas dan gerakan Hizbullah di Lebanon.

Secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah atau “Pendukung Tuhan”, kelompok ini muncul pada 1990-an. Nama Houthi diambil dari nama pendirinya yang telah meninggal, Hussein al-Houthi. Adiknya, Abdul Malik al-Houthi, menjadi pemimpin de facto kelompok tersebut sejak 2004.

Pada awal 2000-an, Houthi terlibat dalam sejumlah pemberontakan melawan Presiden Yaman saat itu, Ali Abdullah Saleh, yang telah lama memerintah secara otoriter. Kelompok tersebut menginginkan otonomi yang lebih besar bagi wilayah asal mereka di Yaman utara.

Saat gelombang Arab Spring pada 2011, pemberontakan rakyat memaksa Saleh menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abdrabbuh Mansour Hadi.

Pemerintahan Presiden Hadi kemudian menghadapi berbagai persoalan. Houthi merebut kendali Provinsi Saada di utara sebelum menguasai ibu kota Sanaa pada 2014.

Pada 2015, kelompok tersebut merebut sebagian besar wilayah Yaman bagian barat dan memaksa Hadi melarikan diri ke luar negeri. Peristiwa itu mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman.

Pertempuran yang berlangsung sejak saat itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 150.000 orang dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Menurut PBB, lebih dari 22 juta orang membutuhkan bantuan dalam berbagai bentuk.

Kekuatan Houthi terus berkembang. Para pakar PBB memperkirakan kelompok tersebut telah merekrut hingga 350.000 petempur pada 2024.

Saat ini, Houthi menguasai antara seperempat hingga sepertiga wilayah Yaman. Sekitar tiga perempat penduduk negara itu tinggal di wilayah yang berada di bawah kendali mereka.