Mengapa Dieng Bisa Panen Tiga Kali Setahun? Ini Penjelasan BRIN
Berdasarkan karakteristik agroklimat yang dimiliki, Dieng dinilai memiliki potensi untuk melakukan budi daya pertanian hingga tiga kali musim tanam dalam setahun, terutama untuk komoditas sayuran dan tanaman pe...
Berdasarkan karakteristik agroklimat yang dimiliki, Dieng dinilai memiliki potensi untuk melakukan budi daya pertanian hingga tiga kali musim tanam dalam setahun, terutama untuk komoditas sayuran dan tanaman perkebunan dataran tinggi.
Baca Juga: Cara Dapat Bansos Beras 10 Kg Juli 2026 Secara Online dan Offline, Lengkap dengan Syarat dan Cara Cek Penerima
BRIN Sebut Iklim dan Ketinggian Jadi Faktor Utama
Dikutip dari situs resmi BRIN, Aris Pramudia menjelaskan bahwa Dataran Tinggi Dieng berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Kawasan ini memiliki ketinggian sekitar 1.200 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut dengan bentang alam yang didominasi lahan pertanian dan kawasan hutan.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Dieng memiliki iklim sedang yang sangat mendukung kegiatan pertanian, terutama untuk tanaman yang membutuhkan suhu udara lebih sejuk dibandingkan daerah dataran rendah.
Curah Hujan Tinggi Mendukung Intensitas Tanam
Lebih lanjut, Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN memaparkan bahwa pola curah hujan di Dataran Tinggi Dieng termasuk tipe monsunal, yakni memiliki perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau.
Curah hujan tahunan di kawasan ini mencapai sekitar 3.644 milimeter dengan delapan bulan basah dan sekitar tiga bulan kering setiap tahunnya. Kondisi tersebut membuat ketersediaan air relatif mencukupi untuk mendukung aktivitas pertanian sepanjang tahun.
Aris menambahkan bahwa periode kering dengan intensitas hujan kurang dari 50 milimeter per dasarian hanya berlangsung sekitar 11 dasarian. Kondisi ini dinilai masih mendukung keberlangsungan berbagai komoditas pertanian dataran tinggi.
Baca Juga: Cara Buat Akun SIAPKerja Kemnaker Mudah, Bisa Lewat HP dan Laptop
Potensi Pertanian Dijelaskan Melalui Klasifikasi Junghuhn
Dalam pemaparannya, Aris turut menjelaskan bahwa potensi pertanian suatu wilayah dapat dianalisis menggunakan klasifikasi iklim J.W. Junghuhn.
Klasifikasi tersebut membagi wilayah berdasarkan ketinggian tempat dan suhu udara sehingga dapat diketahui jenis tanaman yang paling sesuai untuk dibudidayakan.
Pada wilayah dengan ketinggian 600 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut, tanaman yang direkomendasikan antara lain teh, stroberi, kol, sawi, dan selada. Karena berada dalam rentang tersebut, Dieng dinilai sangat cocok untuk pengembangan komoditas hortikultura dataran tinggi.
Selain menggunakan klasifikasi Junghuhn, BRIN juga mengacu pada atlas klasifikasi sumber daya agroklimat yang mempertimbangkan suhu udara, curah hujan, bulan basah, dan bulan kering untuk menentukan potensi budi daya berbagai komoditas pertanian.
Kemiringan Lereng Juga Menentukan Pemanfaatan Lahan
Aris menjelaskan bahwa wilayah dengan kemiringan lereng lebih dari 40 persen sebaiknya dipertahankan sebagai kawasan konservasi dengan vegetasi alami. Lereng dengan kemiringan 16 hingga 40 persen lebih sesuai dimanfaatkan sebagai kawasan perkebunan.
Sementara itu, lahan dengan kemiringan antara 8 hingga 15 persen dapat dikembangkan sebagai sistem wanatani atau agroforestri, sedangkan lahan yang relatif datar hingga kurang dari 8 persen lebih sesuai untuk pertanian lahan kering maupun lahan basah.
Pendekatan tersebut bertujuan menjaga keseimbangan antara produktivitas pertanian dan kelestarian lingkungan.
Baca Juga: Magang Kemnaker 2026 Dibuka Besok, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
Kajian BRIN Jadi Dasar Pengembangan Pertanian Berkelanjutan
Melalui kajian agroklimat tersebut, BRIN menilai bahwa pemanfaatan lahan pertanian perlu disesuaikan dengan karakteristik iklim, suhu udara, curah hujan, kondisi tanah, serta kemiringan lereng.
Pendekatan ilmiah tersebut diharapkan mampu membantu petani menentukan komoditas yang paling sesuai dengan kondisi wilayah sehingga hasil pertanian lebih optimal sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem di kawasan dataran tinggi seperti Dieng.
Temuan BRIN ini tidak hanya bermanfaat bagi petani, tetapi juga menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengembangan pertanian dataran tinggi. Pemetaan agroklimat memungkinkan pemilihan komoditas yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan sehingga produktivitas dapat meningkat tanpa mengabaikan aspek konservasi lahan.
Baca Juga: KPK Periksa Tiga Perusahaan Jasa Iklan dalam Kasus Korupsi Bank BJB
Baca Juga: Kuota Nikel Dilonggarkan, ANTM dan INCO Berpeluang Tarik Investor
FAQ
Mengapa Dieng cocok untuk pertanian sayuran?
Dataran Tinggi Dieng memiliki iklim sedang, suhu udara yang sejuk, curah hujan tinggi, serta berada pada ketinggian sekitar 1.200 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut. Menurut BRIN, kondisi agroklimat tersebut sangat mendukung pertumbuhan berbagai jenis sayuran dataran tinggi sehingga wilayah ini berpotensi melakukan budidaya hingga tiga kali musim tanam dalam setahun.
Apa saja tanaman yang cocok ditanam di Dieng?
Berdasarkan penjelasan BRIN yang mengacu pada klasifikasi iklim J.W. Junghuhn, tanaman yang cocok dibudidayakan di kawasan seperti Dieng antara lain kol, sawi, selada, stroberi, teh, serta berbagai tanaman perkebunan dataran tinggi. Pemilihan komoditas disesuaikan dengan suhu udara dan ketinggian wilayah.
Berapa curah hujan di Dataran Tinggi Dieng?
Menurut data yang dipaparkan BRIN, Dataran Tinggi Dieng memiliki curah hujan sekitar 3.644 milimeter per tahun. Wilayah ini mengalami sekitar delapan bulan basah dan tiga bulan kering, sehingga ketersediaan air relatif mencukupi untuk mendukung aktivitas pertanian sepanjang tahun.
Apa itu klasifikasi iklim Junghuhn?
Klasifikasi iklim Junghuhn adalah sistem pengelompokan wilayah berdasarkan ketinggian tempat dan suhu udara. Metode ini digunakan untuk mengetahui jenis tanaman yang paling sesuai dibudidayakan di suatu daerah. Hingga kini, klasifikasi tersebut masih menjadi salah satu acuan dalam kajian agroklimat dan pengembangan pertanian.
Sumber: BRIN