Menelisik Sejarah Gedung Joang 45, Dulu Hotel, Bangunan Masih Asli
Jakarta - Gedung Joang 45 di Menteng, Jakarta Pusat, menjadi simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tak cuma itu, ternyata gedung ini memiliki sejarah yang cukup panjang, pernah jadi hotel.Gedung yang berloka...
Jakarta -
Gedung Joang 45 di Menteng, Jakarta Pusat, menjadi simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tak cuma itu, ternyata gedung ini memiliki sejarah yang cukup panjang, pernah jadi hotel.
Gedung yang berlokasi di Jalan Menteng Raya No. 31 itu nggak bisa dipisahkan dari perkembangan kawasan Menteng. Menurut edukator museum Gedung Joang 45, Muslim, kawasan Menteng mulai berkembang pada 1912 ketika pemerintah Hindia Belanda mencari kawasan permukiman baru bagi orang-orang Belanda di Batavia.
Salah satu alasan kawasan ini dipilih adalah akses transportasinya. Di depan kawasan Menteng saat itu terdapat jalur trem yang menghubungkan Batavia dengan sejumlah wilayah lain seperti Cikini hingga Gondangdia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat itu, kawasan Menteng ini cukup strategis, cukup bagus walaupun masih hutan tapi hutan yang cukup asri karena yang sekarang jalan raya di depan dulu itu adalah jalur trem," kata Muslim saat ditemui detikTravel di Gedung Joang 45 pada Jumat (14/08/26).
Konsep kawasan Menteng memiliki perbedaan dari permukiman biasa. Muslim mengatakan Menteng menjadi kawasan perumahan pertama yang mengusung konsep taman. Karena itu, bangunan-bangunan lama di kawasan tersebut umumnya memiliki taman di bagian depan atau belakang.
Seiring berkembangnya Menteng menjadi kawasan hunian elit, seorang pengusaha Belanda bernama L.C. Schomper melihat peluang untuk membuka penginapan.
Pada sekitar 1930, bangunan Gedung Joang 45 didirikan sebagai hotel. Hotel tersebut bukan sekadar tempat menginap. Keluarga L.C. Schomper juga tinggal di bangunan yang sama. Saat itu, terdapat sejumlah kamar di dalam bangunan utama serta kamar tambahan di bagian luar.
"Memang tidak terlalu luas sih. Kita dikelilingi sama tembok itu sekitar 5.000 meter. Kalau bangunannya sendiri ini luasnya 693 meter persegi," kata Muslim.
Hotel itu kemudian berhenti digunakan setelah Jepang mengambil alih aset-aset milik Belanda pada 1942. Bangunan itu lalu diserahkan kepada pemuda Indonesia melalui Gunseikanbu Sendenbu atau jawatan propaganda Jepang.
Alih-alih sekadar menjadi tempat yang mendukung kepentingan Jepang, bangunan tersebut justru dimanfaatkan pemuda Indonesia sebagai tempat pendidikan politik.
Namanya kemudian berubah menjadi Asrama Angkatan Baru Indonesia. Di tempat inilah para pemuda mendapat pendidikan politik dari sejumlah tokoh pergerakan.
Muslim menyebut beberapa tokoh golongan tua yang pernah menjadi guru antara lain Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Soebarjo dan Mohammad Yamin. Memasuki 1943, fungsi gedung kembali berubah. Asrama Angkatan Baru Indonesia diambil alih oleh Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang dipimpin Empat Serangkai, yakni Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur.
Setahun kemudian, Putera digantikan Jawa Hokokai atau Himpunan Kebaktian Jawa. Organisasi tersebut menggunakan gedung itu hingga 1945, sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Setelah Indonesia merdeka, para pemuda yang sebelumnya pernah menggunakan gedung itu kembali mengambil alih bangunan. Kelompok pemuda itu antara lain ada Sukarni, Chaerul Saleh, A.M. Hanafi, Adam Malik, Wikana, hingga Nitimihardjo. Gedung kemudian menjadi tempat berkumpul kelompok pemuda dan sempat digunakan sebagai kantor komando Komite van Aksi.
Perjalanan gedung itu tak berhenti sampai di situ. Pada 1957, bangunan itu pernah digunakan untuk Kementerian Pengerahan Tenaga Kerja Rakyat. Gedung ini kemudian ditetapkan sebagai gedung bersejarah pada 1972.
Setelah direnovasi, bangunan tersebut resmi dijadikan museum pada 19 Agustus 1974 dan dikenal sebagai Museum Joang 45. Menariknya, jejak bangunan lama masih bisa dirasakan ketika traveler berkeliling di dalamnya. Muslim menceritakan sejumlah bagian bangunan, termasuk lantai marmer, masih asli sejak pertama kali dibangun.
"Ini juga semuanya masih asli dari semenjak dibangun," kata dia.
Kini Gedung Joang 45 tak hanya mengandalkan bangunan lawas serta koleksi sejarah untuk menarik pengunjung. Museum tersebut juga memiliki ruang imersif dan video mapping yang menjadi bagian dari pembaruan agar pengalaman berkunjung terasa lebih menarik.
Kalau sedang menjelajahi kawasan Menteng, Gedung Joang 45 bisa menjadi salah satu tempat untuk melihat bagaimana satu bangunan melewati banyak babak sejarah. Dari hotel milik pengusaha Belanda, tempat pendidikan politik pemuda, hingga kini menjadi museum yang menyimpan kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia.