Megawati menceritakan pengalaman jadi korban rekayasa AI
Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, membagikan pengalaman unik sekaligus menggelitik saat dirinya menjadi korban rekayasa teknologi kecerdasan buatan atau ANTARA News ntt 3 ...
Jakarta (ANTARA) - Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, membagikan pengalaman unik sekaligus menggelitik saat dirinya menjadi korban rekayasa teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Megawati mengaku terkejut ketika mendapati wajahnya dan anggota keluarganya dicatut tanpa izin dalam sebuah video iklan komersial penjualan kue yang dihasilkan oleh teknologi AI.
"Saya juga para hadirin, itu sudah mengalami ini sebuah anekdot juga. Jadi ada iklan itu yang menjual kue yang dijadikan orangnya itu saya, lalu anak saya, dan ada satu juga dari kami yang dibuat," kata Megawati di Jakarta, Jumat.
Cerita tersebut disampaikan Megawati saat memberikan pengantar dalam pertemuan bersama Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta bersama sejumlah peraih Nobel dan Turing Award yang tergabung dalam delegasi Science for Development Summit 2026, di Megawati Institute, Menteng, Jakarta, Jumat.
Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini pun spontan merasa heran saat pertama kali melihat rekaman video tersebut beredar.
"Jadi saya sampai kaget, kapan saya pesan kuenya ya? Itu ternyata dengan AI dilakukan seperti itu," ungkap Megawati disambut tawa para hadirin.
Kendati terdengar menggelitik, ia menegaskan bahwa fenomena tersebut membawa pesan serius terkait ancaman manipulasi teknologi digital jika tidak dibentengi oleh regulasi dan etika moral.
Megawati mengingatkan agar perkembangan pesat AI tidak disalahgunakan untuk kepentingan hegemoni baru, penyebaran hoaks, atau manipulasi yang merugikan martabat kemanusiaan.
"Jangan dengan hal-hal yang lain sampai terjadi sesuatu yang sepertinya tidak sangat diinginkan," tegasnya.
Menurut Ketua Umum PDIP ini, lompatan teknologi AI saat ini bergerak sangat cepat dan melampaui apa yang pernah dibayangkan sebelumnya. Namun, ia menekankan bahwa akal budi manusia yang dianugerahkan oleh Tuhan tidak boleh dikalahkan oleh algoritma buatan.
"Spesial untuk yang namanya kecerdasan buatan, saya sangat memohon meminta attention dari para pintar yang ada di sini. Kita benar-benar harus berpikir supaya kecerdasan buatan ini jangan melampaui atau melebihi otak manusia sendiri. Bagi saya, kecerdasan itu yang utama adalah dibuat oleh yang namanya The God," papar Megawati.
Lebih lanjut, Megawati mendorong para saintis dan pemikir dunia agar memanfaatkan AI untuk tujuan kemanusiaan yang mulia, salah satunya di bidang medis dan rekayasa genetika.
Ia mencontohkan dampak radiasi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang merusak DNA keturunan korban hingga kini.
Bagi Megawati, teknologi mutakhir semestinya diarahkan untuk menyembuhkan dan memperbaiki kualitas hidup manusia, bukan sebaliknya.
"Bagi negara berkembang seperti Indonesia, pertanyaan ini sangat penting untuk dijawab. Kita harus bersikap kritis ketika teknologi dan data dijadikan alat hegemoni baru. Namun kita juga harus memperkuat tanggung jawab kemanusiaan agar kemajuan teknologi termasuk AI berorientasi pada kesetaraan antarbangsa," tutur Megawati.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.