pickleballvnz.com

Masyarakat Diimbau Persiapkan Cadangan Air Hadapi Kekeringan |Republika Online

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Masyarakat dan pemerintah diajak bersama-sama mempersiapkan cadangan air menghadapi kekeringan yang diperkirakan berlangsung hingga Mei 2027, dengan puncaknya pada Oktober-Novembe...

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Masyarakat dan pemerintah diajak bersama-sama mempersiapkan cadangan air menghadapi kekeringan yang diperkirakan berlangsung hingga Mei 2027, dengan puncaknya pada Oktober-November. Masyarakat dinilai perlu kembali menghidupkan budaya memanen air hujan melalui embung desa, penampungan air rumah tangga, serta pemanfaatan air hujan untuk mengisi kembali cadangan air tanah.

Dosen Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Agus Maryono, mengatakan perubahan iklim membuat persoalan kekeringan perlu diantisipasi secara lebih serius karena sejumlah wilayah masih mengalami kesulitan mendapatkan air.

“Tidak perlu takut, ini kita harus bekerja bersama-sama. Mumpung ada momen 17 Agustus, ayo kita mencari air bersama-sama dan berupaya belajar bagaimana masih bisa mendapatkan air ke depan,” kata Agus dalam kegiatan Sekolah Wartawan di Yogyakarta, pekan lalu.

Ia mendorong masyarakat di DIY untuk kembali menerapkan budaya memanen air hujan. Menurutnya, kebiasaan tersebut sebenarnya telah dilakukan masyarakat di berbagai wilayah seperti Sleman, Gunungkidul, dan Kulonprogo.

“Kalau di DIY yang perlu didorong itu adalah memanen air hujan. Harus didorong semaksimal mungkin, memanfaatkan air hujan itu adalah budaya kita,” ujarnya.

Salah satu langkah yang ditawarkan yakni melalui program embung desa. Agus menilai setiap desa perlu memiliki tempat penampungan air, tidak harus dalam ukuran besar, tetapi dapat memanfaatkan lahan yang lebih rendah sebagai tempat penampungan. Ia bahkan menyebut idealnya setiap desa memiliki sekitar 10 embung untuk meningkatkan keamanan ketersediaan air. Embung tersebut berfungsi menahan air hujan agar tidak langsung keluar dari wilayah resapan, sekaligus membantu mengisi cadangan air dan mencegah kekeringan.

Agus mengatakan dirinya pernah melakukan penelitian di Bantul dan menemukan sekitar 20 embung yang tidak digunakan dalam waktu dua pekan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki budaya menyimpan air yang sudah dilakukan sejak dahulu.

Selain embung desa, ia mendorong setiap rumah tangga memiliki tempat penampungan air hujan. Air yang ditampung dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti menyiram tanaman dan keperluan rumah tangga lainnya.

Air hujan yang berlebih juga dapat dimasukkan kembali ke dalam tanah melalui sistem injeksi. Pemanfaatan sumur tua juga dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga ketersediaan air.

“Air hujan yang berlebih dapat diinjeksikan ke dalam tanah. Sistem ini harus dilakukan ke depan untuk menuju keberlanjutan air,” katanya.

Ia menilai upaya konservasi air tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga perlu diberikan edukasi mengenai pentingnya menampung air hujan dan memperbesar kapasitas kolam atau tempat penampungan air.

Menurut Agus, harga air yang relatif murah di Indonesia turut membuat sebagian masyarakat kurang memperhatikan penggunaan air. Berbeda dengan Jerman, di mana biaya air setelah digunakan lebih mahal sehingga mendorong masyarakat lebih berhati-hati dalam menggunakan air.