Mampukah Juergen Klopp selamatkan muka tim nasional Jerman?
Kehadiran Klopp saat ini memang dapat menjadi katalisator untuk mengubah cara timnas Jerman bermain dan mengembalikan identitas permainannya. Namun, persoalan fundamental tetap menjadi pekerjaan yang berada di ...
Kehadiran Klopp saat ini memang dapat menjadi katalisator untuk mengubah cara timnas Jerman bermain dan mengembalikan identitas permainannya. Namun, persoalan fundamental tetap menjadi pekerjaan yang berada di tangan DFB.
Jakarta (ANTARA) - Dalam babak 32 besar Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Boston Stadium, Foxborough, pada 30 Juni, borok tim nasional Jerman terbongkar ke publik.
Kala itu, sang kapten, Joshua Kimmich, menghampiri rekan-rekan setimnya untuk mempertanyakan siapa yang akan menjadi penendang keenam dalam adu penalti melawan timnas Paraguay.
Dari barisan pemain yang berderet, Kimmich berharap Leon Goretzka akan mengambil satu langkah ke depan, bersiap menendang bola untuk menaklukkan penjaga gawang Paraguay, Orlando Gill.
Namun, harapan Kimmich bertepuk sebelah tangan. Goretzka, yang notabene merupakan salah satu pemain senior di skuad Jerman, tidak mengambil langkah tersebut.
Justru Jonathan Tah yang maju mengambil langkah berani. Padahal, ia bukan salah satu eksekutor yang telah ditunjuk dalam adu penalti kubu Jerman.
Tah pun gagal menaklukkan Orlando Gill. Tendangannya melambung di atas gawang. Jerman dipastikan pulang lebih awal dari Piala Dunia 2026 setelah disingkirkan Paraguay melalui adu penalti dengan skor 3-4, seusai kedua tim bermain imbang 1-1 dalam waktu normal.
Bagi sepak bola Jerman, kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk. Momen tersebut menjadi gambaran kecil tentang krisis mentalitas yang begitu parah di tubuh tim.
Di panggung sebesar Piala Dunia, Jerman bukan lagi tim yang dikenal garang. Setelah terakhir kali menjadi juara dunia pada 2014, pencapaian terbaik Jerman hanya lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Dalam dua edisi sebelumnya, mereka bahkan terhenti di fase grup.
Kegagalan Jerman di Piala Dunia kembali memunculkan narasi lama tentang perlunya perombakan sistem agar tim kembali kompetitif. Perombakan tersebut hampir selalu dimulai dari pergantian pelatih kepala.
Joachim Loew, yang membawa Jerman mengangkat trofi Piala Dunia 2014 tetapi gagal membawa tim lolos dari fase grup Piala Dunia 2018, kemudian mundur dari kursi kepelatihan.
Korban berikutnya adalah Hansi Flick. Mantan pelatih Bayern Muenchen itu bernasib sial karena tidak mampu membawa Jerman lolos dari fase grup Piala Dunia 2022. Flick, yang merupakan mantan asisten Joachim Loew pada Piala Dunia 2014, kemudian dicopot dari kursi kepelatihan.
Korban terbaru adalah Julian Nagelsmann. Setelah hanya mampu mengantar Joshua Kimmich dan kawan-kawan lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026, Nagelsmann memutuskan mundur dari kursi kepelatihan.
Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) selalu melakukan restrukturisasi tim kepelatihan setiap kali Jerman menemui kegagalan di Piala Dunia.
Terbaru, setelah kehilangan Nagelsmann, DFB langsung membidik mantan pelatih Liverpool, Juergen Klopp.
Klopp mulai didekati DFB di New York sejak 10 Juni lalu. Pendekatan tersebut akhirnya menemui titik temu ketika Head of Global Soccer Red Bull itu menerima pinangan DFB untuk menjadi pelatih kepala timnas Jerman. Penunjukan tersebut kemudian diumumkan secara resmi pada Jumat lalu.
Kehadiran Klopp bisa menjadi satu kepingan penting dalam upaya merestrukturisasi sepak bola Jerman yang melempem dalam beberapa tahun terakhir. Namun, mampukah mantan pelatih Borussia Dortmund itu menghadapi tantangan kompleks di timnas Jerman, terutama dalam menanamkan mentalitas kepada para pemain yang minim pengalaman menghadapi situasi-situasi krusial di level internasional?
Baca juga: Jurgen Klopp dikabarkan sepakat dengan DFB untuk latih timnas Jerman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.