pickleballvnz.com

Maluku buka peluang investasi perikanan hingga rempah bagi investor - ANTARA News Ambon, Maluku

Ambon (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Maluku membuka peluang investasi di sektor perikanan dan rempah sebagai bagian dari upaya mengembangkan potensi ekonomi daerah sekaligus membangun rantai nilai yang terhubun...

Ambon (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Maluku membuka peluang investasi di sektor perikanan dan rempah sebagai bagian dari upaya mengembangkan potensi ekonomi daerah sekaligus membangun rantai nilai yang terhubung dengan pasar nasional dan global.

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa di Ambon, Senin mengatakan karakter Maluku sebagai provinsi kepulauan dengan kekayaan laut dan sumber daya rempah menjadi modal penting untuk menarik investasi yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

"Potensi yang dimiliki Maluku harus ditransformasikan menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja dan memperkuat industri lokal," kata Hendrik.

Menurut dia, Maluku memiliki wilayah sekitar 712.498 kilometer persegi, dengan 93,5 persen merupakan perairan. Wilayah tersebut terdiri atas 1.422 pulau dengan garis pantai sepanjang 10.914 kilometer.

Kondisi geografis tersebut, kata dia, menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu bidang yang memiliki prospek investasi besar.

Maluku berada pada tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), yakni WPP 714, 715 dan 718 yang meliputi Laut Banda, Laut Seram dan Laut Arafura.

Komoditas tuna, cakalang dan tongkol menjadi salah satu kekuatan utama perikanan daerah. Namun, peluang investasi tidak hanya berada pada sektor perikanan tangkap, melainkan juga perikanan budidaya dan industri pengolahan.

Hendrik menyebut potensi lahan budidaya laut di Maluku mencapai sekitar 158 ribu hektare, sedangkan pemanfaatannya baru sekitar 3.816 hektare.

"Ini menunjukkan ruang investasi yang masih sangat besar, terutama pada pengolahan hasil perikanan, cold chain, pengalengan dan penerapan teknologi modern," ujarnya.

Selain perikanan, Pemprov Maluku menawarkan sektor rempah sebagai bagian dari pengembangan ekonomi berbasis komoditas unggulan daerah.

Pala dan cengkih yang menjadi identitas Maluku sebagai Kepulauan Rempah, kata Hendrik, perlu dikembangkan tidak hanya sebagai komoditas mentah, tetapi menjadi produk bernilai tambah melalui standardisasi mutu, branding, hilirisasi dan pengembangan produk turunan.

Pengembangan tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing komoditas rempah Maluku sekaligus memperluas akses pasar, termasuk pasar ekspor.

Dirinya menegaskan investasi yang masuk ke Maluku diharapkan tidak berhenti pada eksploitasi sumber daya alam, tetapi membangun keterkaitan ekonomi dengan masyarakat dan pelaku usaha lokal.

Ia mengatakan pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan sejumlah sektor potensial lain, seperti pariwisata bahari, energi terbarukan dan logistik sebagai bagian dari transformasi ekonomi Maluku.

Sejumlah kawasan dan destinasi seperti Banda Neira, Kepulauan Kei, Pantai Ora, Ngurbloat, Ngurtafur dan Pulau Bair memiliki peluang dikembangkan melalui investasi akomodasi, konektivitas antarpulau serta desa wisata berbasis masyarakat.

Sementara di sektor energi, karakter kepulauan Maluku membuka peluang pengembangan tenaga surya, angin, mikrohidro, biomassa, panas bumi hingga energi laut.

Peluang tersebut diperkuat dengan sejumlah proyek strategis daerah, antara lain pengembangan Blok Masela, Maluku Integrated Logistics Hub (MILH), pengembangan Pariwisata Banda, Bendungan Way Apu, serta hilirisasi pala dan kelapa.

Gubernur menilai pengembangan berbagai sektor tersebut perlu dilakukan melalui kemitraan yang inklusif dan berkelanjutan agar investasi mampu memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.

"Kami ingin investasi yang masuk tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat industri lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.

Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Uploader : Moh Ponting

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.