LeafChoco, dari daun salam di halaman rumah hingga melaju ke KMI Expo XVII 2026
Berawal dari tanaman daun salam di halaman rumah nenek, mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ANTARA News jateng peristiwa ...
LeafChoco, dari daun salam di halaman rumah hingga melaju ke KMI Expo XVII 2026
Minggu, 20 September 2026 18:18 WIB
Produk LeafChoco, dari daun salam di halaman rumah hingga melaju ke KMI Expo XVII 2026. ANTARA/HO-UMS
Solo (ANTARA) - Berawal dari tanaman daun salam di halaman rumah nenek, mahasiswa Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengubah bahan yang selama ini identik dengan bumbu masakan menjadi inovasi pangan bernilai ekonomi.
Melalui LeafChoco, camilan berbasis dark chocolate dan daun salam, Tim P2MW Pendidikan Biologi UMS lolos seleksi KMI Expo XVII 2026 kategori Makanan dan Minuman.
Tim yang terdiri atas Laura Hardinantasa, Hermalla Ridho D, Ghendis Anggista, dan Yolanda N. tersebut mengusung inovasi berjudul “LeafChoco: Camilan Dark Chocolate Herbal untuk Kesehatan Darah Berbasis Daun Salam”. Gagasan inovasi tersebut tidak sekadar menghasilkan produk cokelat, tetapi mencoba menghadirkan bentuk pemanfaatan baru dari bahan lokal yang mudah dijumpai masyarakat.
Hermalla Ridho Devara mengatakan ide LeafChoco bermula dari pengamatan sederhana terhadap tanaman daun salam di lingkungan keluarganya.
“Ide LeafChoco sebenarnya berawal dari hal yang sederhana, yaitu dari halaman rumah nenek saya yang terdapat tanaman daun salam. Selama ini, daun salam lebih sering dikenal dan dimanfaatkan sebagai bumbu dalam masakan sehari-hari. Dari situ muncul pemikiran bahwa tanaman yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar tersebut sebenarnya masih memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” ujarnya, Minggu.
Menurut Hermalla, pemilihan dark chocolate sebagai media inovasi dilakukan karena cokelat dekat dengan masyarakat dan memiliki daya tarik sebagai produk pangan. Setelah melalui diskusi, riset, serta sejumlah uji coba formulasi, tim mengembangkan perpaduan dark chocolate dengan daun salam. Tantangan terbesar, kata dia, adalah menemukan formulasi yang mampu menjaga keseimbangan rasa, aroma, tekstur, dan karakteristik produk agar dapat diterima konsumen.
Dosen pendamping Endang Setyaningsih, S.Si., M.Si., menilai kekuatan LeafChoco terletak pada upaya menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan pengembangan produk dan kewirausahaan. Mahasiswa tidak hanya belajar membuat produk untuk dijual, tetapi juga melalui proses evaluasi, perbaikan formulasi, pengendalian produksi, pengujian, hingga validasi awal terhadap penerimaan konsumen.
“Menurut saya, kekuatan akademik LeafChoco dapat diringkas dalam tiga hal: science-based product development, local-resource innovation, dan evidence-based entrepreneurship. Mahasiswa belajar mengubah pengetahuan akademik menjadi produk, kemudian menguji apakah produk tersebut mempunyai peluang diterima oleh pasar,” kata Endang.
Dalam proses pengembangannya, tim mempelajari aspek teknis pengolahan cokelat, termasuk tempering, pembentukan kristal lemak, rheologi, viskositas, karakteristik glossy, snap, dan melting, serta pengaruh stevia terhadap tekstur.
Tim juga telah melakukan uji kandungan dan uji daya terima produk oleh masyarakat. Dari sisi pasar awal, pendampingan mencatat Open Pre-Order Batch 1 menghasilkan 40 pcs dari 16 pembeli, sedangkan Batch 2 menghasilkan 42 pcs dari 14 pembeli, dengan enam konsumen melakukan repeat order.
“Angka tersebut belum dapat dimaknai sebagai bukti pasar dalam skala besar karena jumlahnya masih terbatas, karena skalanya masih terbatas. Tetapi data itu merupakan early market validation yang positif. Produk tidak berhenti sebagai prototipe mahasiswa, tetapi sudah mulai menghasilkan transaksi dan bahkan pembelian ulang,” tambah Endang.
Ia menambahkan pengembangan selanjutnya perlu memperkuat standardisasi bahan baku, konsistensi formulasi, data mutu dan keamanan, shelf life, legalitas, kapasitas produksi, serta branding.
Pendampingan dosen juga diarahkan agar mahasiswa mampu mengambil keputusan secara mandiri. Endang berperan sebagai fasilitator, penasihat ilmiah, critical reviewer, sekaligus memberikan quality control, sementara keputusan dan eksekusi tetap dilakukan mahasiswa. Pendampingan mencakup persoalan stabilitas cokelat, bahan baku, tempering, mixing, HPP, branding, target pasar, kemasan, uji kandungan, uji daya terima, NIB, Hak Cipta, promosi, hingga pemasaran.
Endang berharap KMI Expo bukan menjadi titik akhir, melainkan transisi menuju usaha yang lebih mandiri dan berkelanjutan, dengan pengembangan produk berbasis bukti serta pengelolaan usaha yang semakin matang.
“Kami ingin menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa dapat berangkat dari sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah,” katanya.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.