pickleballvnz.com

Kursus dan belajar sepanjang hayat menuju kemandirian

Mereka menawarkan pendidikan kedua, ketiga, bahkan keempat, bagi siapa pun yang ingin terus belajar dan meningkatkan keterampilan tanpa harus kembali ke bangku sekolah formal.Jakarta (ANTARA) - "Belajarnya meny...

Mereka menawarkan pendidikan kedua, ketiga, bahkan keempat, bagi siapa pun yang ingin terus belajar dan meningkatkan keterampilan tanpa harus kembali ke bangku sekolah formal.

Jakarta (ANTARA) - "Belajarnya menyenangkan dan sangat berdampak. Ini hal baru bagi saya, dan benar-benar menjadi bekal hidup," tutur Depri Eka Pratama, alumni kursus dan pelatihan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Pemilik empat gerai usaha makanan di Kota Gudeg itu omzetnya mencapai Rp64 juta hingga Rp75 juta per bulan, capaian yang sulit dibayangkan saat ia masih baru menjadi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang bingung mencari arah.

Depri bukan sekadar kisah sukses wirausaha muda. Ia adalah bukti paling konkret dari sebuah konsep yang di Indonesia masih sering terlupakan: pendidikan adalah perjalanan seumur hidup, bukan bekal yang habis di ijazah terakhir.

Konsep pembelajaran sepanjang hayat memang terdengar seperti jargon di dokumen kebijakan. Tapi di negara dengan 9,9 juta anak muda NEET (not in employment, education, or training) pada tahun 2024, dan 7,24 juta penganggur terbuka per Februari 2026, konsep ini bukan lagi kemewahan. Ia adalah kebutuhan darurat.

Data memberi peringatan. Sekitar 30 persen perusahaan di Indonesia kesulitan merekrut talenta berkualitas. Sebanyak 45 persen pengusaha memperkirakan persaingan talenta akan semakin ketat, 35 persen menyebut keterampilan digital sebagai hambatan terbesar, dan hanya 19 persen pekerja muda yang memiliki kualifikasi, sesuai PwC Hopes and Fears Survey 2025.

Di sinilah belajar sepanjang hayat menunjukkan urgensinya. Dunia kerja berubah begitu cepat: otomatisasi, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, sehingga keterampilan yang relevan hari ini bisa usang besok pagi. Tidak ada ijazah yang cukup untuk seumur hidup. Pendidikan formal memberi fondasi, tapi hanya pembelajaran berkelanjutan yang bisa menjaga seseorang tetap relevan.

Data menunjukkan sekitar 40 hingga 45 persen generasi milenial dan Gen Z Indonesia tidak menyelesaikan pendidikan menengah atas (Sensus BPS 2020). Mereka bukan anak-anak malas, sebagian besar terpaksa berhenti sekolah karena ekonomi keluarga, atau memang tidak cocok dengan sistem sekolah formal.

Bagi mereka, pendidikan formal telah menutup pintu. Lalu, ke mana mereka harus berpaling?

Jawabannya ada di lembaga kursus dan pelatihan (LKP), yakni sebanyak 12.949 unit yang tersebar di seluruh Indonesia. LKP adalah infrastruktur belajar sepanjang hayat yang paling dekat dengan masyarakat.

Mereka menawarkan pendidikan kedua, ketiga, bahkan keempat, bagi siapa pun yang ingin terus belajar dan meningkatkan keterampilan tanpa harus kembali ke bangku sekolah formal.

Kursus bukan sekadar pelengkap di sela-sela rutinitas, melainkan denyut dari belajar seumur hidup. Kursus merupakan cara seseorang terus memperbarui pengetahuan, menjaga daya saing, dan tetap relevan di tengah perubahan kerja, teknologi, dan masyarakat.

Badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan (UNESCO) menegaskan bahwa belajar sepanjang hayat mencakup semua usia, semua konteks hidup, dan berbagai bentuk pembelajaran formal maupun nonformal, sehingga kursus menjadi tempat yang konkret agar gagasan itu hadir dalam keseharian.

Kasus Singapura

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.