Kremlin: Ekonomi Jerman Melemah karena Hentikan Impor Gas Murah Rusia
Kremlin menilai penurunan daya saing ekonomi Jerman berkaitan dengan keputusan Berlin menghentikan pembelian gas murah dari Rusia dan beralih ke pasokan energi yang lebih mahal, terutama dari Amerika Serikat.
AKURAT.CO Kremlin menilai penurunan daya saing ekonomi Jerman berkaitan dengan keputusan Berlin menghentikan pembelian gas murah dari Rusia dan beralih ke pasokan energi yang lebih mahal, terutama dari Amerika Serikat.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers pada Senin. Menurutnya, pemerintah Rusia juga mencermati menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Jerman saat ini, seiring melemahnya daya saing ekonomi negara tersebut.
“Kami melihat penurunan daya saing ekonomi Jerman sebagian besar disebabkan karena Jerman berhenti membeli gas murah Rusia dan mulai membeli gas yang jauh lebih mahal di pasar spot dari negara lain, terutama Amerika Serikat,” kata Peskov.
Ia menambahkan, kondisi tersebut mendorong sebagian warga Jerman mencari alternatif kepemimpinan yang dinilai mampu memperbaiki situasi ekonomi.
AfD Menang di Mecklenburg-Vorpommern
Komentar Peskov muncul sehari setelah Partai Alternative for Germany (AfD) kembali meraih kemenangan dalam pemilihan negara bagian Mecklenburg-Vorpommern. Kemenangan itu menjadi yang kedua bagi AfD dalam dua pekan terakhir setelah sebelumnya mencatat hasil bersejarah di Saxony-Anhalt.
Di sisi lain, suara Partai Demokrat Kristen (CDU) yang dipimpin Kanselir Friedrich Merz anjlok hingga di bawah ambang 5 persen, sehingga gagal memperoleh kursi di parlemen negara bagian untuk pertama kalinya dalam sejarah partai tersebut.
Sementara itu, pemilu negara bagian Berlin dimenangkan oleh Partai Kiri (Die Linke) dengan sekitar 25,3 persen suara, mengungguli CDU yang memperoleh sekitar 19 persen.
Kremlin Bantah Ancam Politik Prancis
Dalam kesempatan yang sama, Peskov juga menanggapi pernyataan calon presiden Prancis dari partai sayap kanan National Rally, Marine Le Pen, yang menyebut Rusia tidak lagi mampu memengaruhi politik Prancis melalui ancaman.
Peskov menolak pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa Moskow tidak mengancam maupun memeras Prancis ataupun negara-negara Eropa lainnya.
“Rusia tidak mengancam Prancis maupun negara Eropa mana pun. Kami tidak mengancam atau memeras siapa pun,” ujarnya.
Rusia Klaim Mampu Bertahan dari 30.000 Sanksi
Terkait paket sanksi terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Rusia, Peskov mengatakan Moskow tetap menjalin komunikasi dengan negara-negara mitra dagangnya. Menurutnya, sejumlah mitra tersebut telah menyatakan penolakan terhadap kemungkinan penerapan sanksi sekunder.