Kisah Wanita Idap Tumor Otak Ganas, Gejala Awalnya Sering Dikira Anxiety
Jakarta - Seorang wanita didiagnosa dokter mengalami anxiety atau kecemasan. Namun ternyata dirinya mengidap tumor otak.Dikutip dari laman New York Post, wanita bernama Lea Marie mulai sering pingsan sejak d...
Jakarta -
Seorang wanita didiagnosa dokter mengalami anxiety atau kecemasan. Namun ternyata dirinya mengidap tumor otak.
Dikutip dari laman New York Post, wanita bernama Lea Marie mulai sering pingsan sejak duduk di bangku kuliah sekitar 10 tahun lalu. Dia mengira kondisi tersebut hanya disebabkan oleh kelelahan. Meski demikian dia tetap memeriksakan diri ke dokter dan didiagnosa anxiety.
"Saat berusia 22 tahun, Anda benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya sakit," kata wanita yang kini berusia 33 tahun itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anda merasa semuanya mudah diatasi, kan? Jadi mereka bilang, minum obat ini, Anda akan merasa lebih baik. Dan saya langsung berpikir, bagus sekali."
Namun, kondisi kesehatan Lea semakin memburuk. Serangan yang dialaminya berubah menjadi kejang.
Suatu hari saat sedang hamil dan berjalan bersama putrinya, dia mengalami penglihatan seperti terowongan serta kesemutan di mulut dan lidah. Lea mulai berkeringat dan merasakan jantungnya berdebar-debar. Pandangannya pun menjadi gelap. Dia juga terbangun di tengah malam untuk muntah.
"Ada banyak hal aneh yang terjadi, bisa saja apa saja," kenangnya.
Saat gejalanya semakin memburuk, Lea mencoba mencari akar penyebabnya. Dia menjalani MRI seluruh tubuh. Hasilnya menunjukkan adanya lesi, yaitu jaringan abnormal di otaknya, meski ukurannya belum cukup besar untuk dianggap sebagai kondisi darurat.
Ketika menjalani MRI untuk kedua kalinya, ditemukan lesi yang sama dan Léa diminta kembali tiga bulan kemudian. Saat itu, lesi tersebut telah membesar.
"Mereka langsung menjadwalkan saya untuk menemui dokter spesialis onkologi dan ahli bedah saraf karena tumor otak dapat tumbuh sangat cepat begitu mulai berkembang," katanya.
Dia didiagnosis mengidap glioma tingkat rendah, yaitu tumor ganas yang tumbuh lambat dan terutama menyerang anak-anak serta dewasa muda berusia 20-40 tahun. Meski mengejutkan, Lea justru merasa lega mendengar diagnosis tumor pada tahun 2024 tersebut.
"Saya sangat beruntung karena ini bukan glioblastoma atau tumor otak stadium empat," katanya. "Saya sangat beruntung karena bukan itu, dan berdasarkan bagaimana pertumbuhannya, kecil kemungkinan akan menjadi seperti itu."
Saat ini, pengangkatan tumor bukan menjadi pilihannya. Dalam kasus yang dialaminya, tumor berada di lokasi yang sulit dijangkau, yaitu lobus temporal, area di belakang telinga pada kedua sisi otak. Sisi kiri berperan penting dalam fungsi bahasa dan memori verbal, seperti mengingat kata, nama, dan fakta.
Para dokter yang menanganinya menggunakan strategi "pantau dan tunggu". Artinya, dia menjalani pemantauan ketat dan rutin melalui pemindaian MRI serta pemeriksaan klinis.
Kini, dia mengelola epilepsinya dengan pengobatan. Léa mengaku merasa "hidup kembali" sejak menjalani terapi tersebut.
"Sejak saat itu saya telah mengikuti beberapa maraton. Saya sangat aktif."
Dia mengunggah video tentang pengalamannya menghadapi tumor otak, perjalanan pengobatan, dan kehidupannya sehari-hari. Menurutnya, hal itu penting untuk membantu orang lain yang mungkin merasa kesepian.
"Sangat menyenangkan membangun komunitas yang berbagi pengalaman. Hanya untuk memiliki perasaan bahwa kita mengenal seseorang yang setidaknya memahami sebagian dari apa yang kita alami," katanya.
Halaman 2 dari 2
(elk/kna)