Kisah Maryoto, Purnawirawan TNI yang Jadi ‘Raja Singkong’ Sukabumi
Sukabumi - Purnawirawan TNI asal Sukabumi ini dikenal sebagai 'raja singkong' dari Sukabumi. Ia mengelola kebun singkong seluas puluhan hektar yang hasilnya diserap rutin oleh produsen camilan singkong kemasan....
Sukabumi -
Purnawirawan TNI asal Sukabumi ini dikenal sebagai 'raja singkong' dari Sukabumi. Ia mengelola kebun singkong seluas puluhan hektar yang hasilnya diserap rutin oleh produsen camilan singkong kemasan.
Maryoto adalah seorang purnawirawan TNI asal Kabupaten Sukabumi yang selama 3 dekade terakhir mengelola sekitar 52 hektar perkebunan singkong di Kecamatan Cikembar.
Perjalanannya bertransformasi dari seorang prajurit menjadi "raja singkong" bermula dari sebuah kejelian sederhana saat ia masih aktif berdinas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu, Maryoto melihat ada sekitar 31 hektare lahan di sekitar asrama tentara yang terbengkalai dari total luas 40 hektare. Naluri produktifnya terusik. Ia tak tega membiarkan lahan seluas itu hanya ditumbuhi semak belukar tanpa manfaat.
"Awalnya dari lahan asrama sekitar 40 hektar yang baru terpakai 9 hektar. Sisanya tanah terbengkalai, daripada menganggur saya manfaatkan untuk tanam singkong," ujar Maryoto saat berbincang dengan detikJabar di lokasi garapannya belum lama ini.
Langkah kecil yang dimulai dari lahan satu hektare itu kini telah menggurita. Berkat ketekunan yang ditempa disiplin militer, luas kebunnya melonjak drastis hingga mencapai 52 hektare. Namun, mengelola lahan seluas itu tentu membutuhkan strategi matang agar dapur produksi tetap mengepul dan efisiensi terjaga.
Maryoto menerapkan sistem rotasi dengan membagi lahan menjadi plot-plot kecil berukuran 3 hektare untuk dipanen secara bergantian. Tak hanya itu, ia juga menggunakan teknik tumpangsari dengan menanam jagung manis yang memiliki masa panen singkat, hanya 70 hari. Strategi ini menjadi kunci "napas" finansial perkebunannya.
"Singkong ditanam bersisian dengan jagung manis. Jagung manis ini kan masa panennya cepat, sekitar 70 hari. Hasil panen dan pemupukan jagung inilah yang kita pakai untuk menopang biaya perawatan awal singkong, jadi beban biaya operasional tidak terlalu berat," terangnya.
Purnawirawan TNI di balik renyahnya keripik singkong. Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar
Ketangguhan sistem ini diuji oleh cuaca. Meski kemarau panjang sempat menyusutkan volume panennya dari angka normal 17 ton menjadi kisaran 15 hingga 16 ton per hektare, Maryoto tetap tegak berdiri. Melonjaknya harga singkong di pasaran akibat tingginya permintaan industri makanan ringan menjadi penyelamat yang menyeimbangkan neraca pendapatannya.
Kini, dedikasi Maryoto telah membuahkan ekosistem ekonomi yang nyata. Seluruh hasil panennya diserap secara rutin oleh produsen makanan ringan papan atas di Indonesia. Lebih dari itu, kebunnya menjadi sandaran hidup bagi 40 warga lokal, yang terdiri dari komposisi pekerja pria dan wanita secara seimbang.
Meski telah sukses menjaga rantai pasok pangan selama 30 tahun secara mandiri, Maryoto masih menyimpan satu asa yang belum terwujud. Di tengah modernisasi zaman, ia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk membantu modernisasi alat pertanian di lahannya yang luas.
"Selama 30 tahun bertani ini tidak pernah ada bantuan alat traktor. Semuanya masih manual. Harapan ke depan ada dukungan traktor dari Dinas Pertanian supaya pengolahan lahan bisa jauh lebih efisien," pungkas Maryoto.
Walaupun raga tak lagi muda dan masih harus bergelut dengan cangkul secara manual, semangat sang purnawirawan tak sedikit pun memudar. Tiga puluh tahun membanting tulang di ladang adalah bukti nyata bahwa pengabdian seorang prajurit tak pernah usai saat seragam dilepas. Pengabdian itu kini mewujud dalam setiap gigitan renyah keripik singkong yang kita nikmati hari ini.
Artikel ini sudah tayang di detikjabar dengan judul "Jejak Juang Purnawirawan TNI di Balik Gurihnya Keripik Singkong"
(adr/adr)