Kisah Husein Gaza yang Sempat Frustrasi Saat Pulang ke Indonesia |Republika Online
Ketua Koordinator Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) Muhammad Husein melaporkan insiden penyerangan kapal perang Zionis Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla di perairan internasional menuju Gaza, Rabu...
Ketua Koordinator Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) Muhammad Husein melaporkan insiden penyerangan kapal perang Zionis Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla di perairan internasional menuju Gaza, Rabu (1/10/2025).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pendiri International Networking for Humanitarian (INH), Muhammad Husein Gaza, mengajak masyarakat mengubah dukungan emosional terhadap Palestina menjadi gerakan strategis yang berbasis ilmu pengetahuan. Menurut dia, pembebasan Masjid Al-Aqsa tidak cukup hanya dengan solidaritas di media sosial, tetapi membutuhkan peta jalan (blueprint) yang disusun secara sistematis.
Pesan tersebut disampaikan Husein saat memberikan keynote session dalam acara "Baitul Maqdis: The Blueprint" yang digelar di Auditorium Abdulrahman Saleh RRI, Jakarta, Ahad (2/8/2026).
"Selama ini kita masih menjadi masyarakat yang reaktif dan emosional. Ketika emosi itu tidak diarahkan dalam satu struktur yang strategis, kemarahan kita hanya akan berujung menjadi kelelahan dan frustrasi," ujar Husein.
Ia pun mengisahkan pengalamannya tinggal selama 12 tahun di Jalur Gaza. Selama periode itu, ia menyaksikan langsung berbagai agresi militer Israel, kehilangan keluarga besarnya di Palestina, hingga akhirnya dievakuasi ke Indonesia pada 2023 atas permintaan keluarga dan para sahabatnya di Gaza.
Menurut Husein, kepulangannya ke Indonesia bukanlah akhir perjuangan. Justru, warga Gaza memintanya membuka mata masyarakat Indonesia terhadap tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung.
"Mereka mengatakan kepada saya, keberadaanmu di sini tidak lagi strategis. Pulanglah ke Indonesia, bangunkan jutaan manusia yang sedang tertidur. Tugasmu di luar Gaza lebih strategis," ucapnya.
Husein mengaku sempat frustrasi setelah pulang ke Indonesia, Berbagai upaya kampanye yang dilakukannya, baik melalui media sosial maupun berbagai forum, dinilai belum mampu menjaga konsistensi perhatian publik terhadap tragedi di Palestina.
Ia kemudian bertemu dengan akademisi kajian Baitul Maqdis, Prof Abdul Fattah el-Awaisi. Dari pertemuan tersebut, Husein mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pentingnya membangun perjuangan berbasis ilmu.