pickleballvnz.com

Kisah Bigetron Juara FFWS SEA 2026 Fall: Ditekan, Berjuang, Lalu Menang

Jakarta - Perjalanan Bigetron by Vitality dalam meraih gelar juara FFWS SEA 2026 Fall tidak mudah sama sekali. Mereka harus bermain dengan banyaknya tekanan dan emosi yang tertahan.Bukan tanpa alasan, h...

Jakarta -

Perjalanan Bigetron by Vitality dalam meraih gelar juara FFWS SEA 2026 Fall tidak mudah sama sekali. Mereka harus bermain dengan banyaknya tekanan dan emosi yang tertahan.

Bukan tanpa alasan, hal itu datang dari hasil akumulasi sebuah harapan dan perjuangan, yang sudah mereka rasakan sejak bertandang ketiga kalinya ke Surabaya, yang dijuluki sebagai Kota Pahlawan. Arek-arek Suroboyo menjadi saksi bagaimana upaya tim ini membuktikan bahwa Indonesia bisa, menjadi jawara, tanpa drama.

Kerja sama tim luar biasa, mental sekeras baja, dan motivasi membuktikan bahwa Bigetron juga layak menjadi juara, menjadi bahan bakar luar biasa untuk Koja dan teman-temannya membabat habis tim-tim SEA. Hasilnya? Tentu sesuai dengan harapan mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mungkin ini definisi sesungguhnya dari "Hasil Tidak akan Pernah Mengkhianati Usaha". Mereka yang menonton pasti tahu betul, bagaimana Christian Jonathan Pascoal alias Chrisjo selaku pelatih Bigetron, menjajal beragam strategi untuk akhirnya bisa mengangkat piala.

Chrisjo mengaku, perasaan yang timbul dalam dirinya seperti menaiki roller coaster. Bagaimana tidak, dirinya menyebutkan ada saja masalah yang dialami timnya, hingga emosi mereka tersulut karena persoalan bug yang dilaporkan oleh salah satu tim SEA.

Hal tersebut berdampak pada headstart point yang sudah mati-matian diperjuangkan timnya di babak Point Rush. Akibatnya, mereka terkena pengurangan poin dan posisinya turun, sehingga Bigetron memulai grand Final tanpa tambahan poin.

Dampaknya juga menyasar kepada hadiah yang akan mereka terima. Bigetron harus merelakan pengurangan lima persen hadiah akibat pelanggaran terkait pemanfaatan bug.

Bigetron juara FFWS SEA 2026 FallPelatih Bigetron by Vitality, Christian Jonathan Pascoal alias Chrisjo. Foto: Garena Indonesia

"Kami tidak bisa terus membawa kemarahan itu ke pertandingan. Pada akhirnya kami tetap harus bermain dengan kondisi yang ada. Perasaan tidak setuju itu tatap ada, tetapi kami harus mengubahnya menjadi energi untuk membuktikan diri di dalam game," jelas Chrisjo, Rabu (23/9/2026).

Chrisjo menjelaskan bahwa kemenangan ini sangat berarti. Keberhasilan timnya seperti sebuah penebusan yang selama ini dinanti-nantikan.

"Waktu FFWS ID 2024 Spring, kami gagal dan bahkan harus turun ke FFNS. Kami memulai lagi dari grassroots. Kami ikut community tournament di Tangerang, naik kereta, lalu bermain di KFC bersama publik. Rasanya seperti kembali ke masa turnamen offline zaman dulu," ujarnya.

Dari situ hasilnya mulai terlihat. Mereka dapat melaju ke Free Fire Nusantara Series (FFNS), lalu menjadi juara di Bandung. Setelah itu tampil di FFWS SEA 2024 Fall yang berlangsung di Surabaya, meskipun ketika itu belum bisa meraih titel juara.

"Jadi, sejak lama ada satu hal dalam pikiranku: Surabaya harus menjadi tempat untuk redemption. Kami pernah gagal di sini. Ketika kembali untuk ketiga kalinya, kami tidak mau gagal lagi," tegas Chrisjo.

Pertandingan Grand Final pun berjalan sangat alot. Seluruh tim yang bertanding mengerahkan segala kemampuannya, untuk bisa mengantongi titel tim Free Fire terkuat di Asia Tenggara.

Kejutan selalu datang di setiap game-nya. Bahkan hingga game ke-11, tidak ada yang bisa memprediksi tim yang akan mendapatkan booyah. Hingga pada akhirnya satu tim asal Thailand, Team Falcons, membuat suasana di Tunjungan Plaza, Surabaya, pecah.

Sebagai konteks, saat game ke-11 berlangsung, sudah ada 10 tim yang mendapatkan label champion rush. Label ini merupakan syarat bagi mereka untuk dapat menjadi juara. Jadi, bila salah satu dari 10 tim tersebut mendapatkan booyah di game ke-11, tim itu lah yang menjadi juara.

Hal itu pun tidak terjadi, karena Falcons yang belum memiliki label champion rush berhasil mencuri booyah. Dengan begitu, pertandingannya lanjut ke game ke-12.

Bigetron by Vitality juara FFWS SEA 2026 FallBigetron by Vitality juara FFWS SEA 2026 Fall. Foto: Garena Indonesia

Di game ke-12, Chrisjo mengubah strateginya. Menurutnya, permainan timnya terlalu lambat, lebih banyak berpikir, fokus berlebihan untuk melakukan zoning.

Padahal, dirinya menilai kalau ingin menjadi juara, timnya tidak bisa bermain zone, tetapi juga harus punya insting untuk mencari poin eliminasi. Dari situ, Chrisjo meminta kepada anak-anak asuhnya memberikan tekanan dan melakukan spray terhadap lawan yang datang.

"Bukan Sekadar agresif. Yang paling penting adalah keberanian mengambil keputusan. Berani bergerak berbeda dengan berani melakukan rotasi tanpa tujuan. Yang aku maksud adalah berani ketika ada kesempatan mengambil fight. Jangan ragu terlalu lama karena tim lain akan lebih dahulu mengunci pergerakkan kita," ucapnya.

Puncaknya terjadi ketika sudah memasuki final stage. Di late game ini, hanya menyisakan empat tim, di antaranya GOW, AG.AL, RRQ Kazu, dan Bigetron by Vitality.

Chrisjo merasa, dari empat itu, Bigetron yang paling aktif mendekati dan memberikan tekanan. Kemudian pemain-pemain Bigetron terus bergerak dan memanfaatkan gloo wall, dengan tujuan agar tidak terlalu lama diam di satu tempat dan menjalankan strategi berikutnya.

"Komunikasi pemain pada akhirnya sangat sederhana: ada yang bergerak, tekan; ada di kanan, eliminasi. Mereka tidak lagi terlalu lama mempertimbangkan semua kemungkinan. Mereka tahu bahwa untuk mendapatkan Booyah, kami juga harus memberikan damage dan memenangkan fight" ungkapnya.

Bigetron by Vitality juara FFWS SEA 2026 Fall.Bigetron by Vitality juara FFWS SEA 2026 Fall. Foto: Garena Indonesia

Meski begitu, Chrisjo mengaku bahwa di game battle royale memang faktor keberuntungan ikut mempengaruhi hasil. Kendati demikian, dirinya mengatakan ada perbedaan antara menunggu keberuntungan dan menjemputnya.

"Luck tetap ada, tetapi tim yang menjemput luck itu yang akhirnya menang," kata Chrisjo.

Pada akhirnya, Chrisjo menyampaikan apa yang diperjuangkan anak-anaknya di game ke-12 bukan hanya tentang satu booyah. Ada beragam hal yang membuatnya sangat berarti.

"Ada pemain yang harus keluar dari zona nyaman, mempelajari role baru, dan memaksa dirinya melewati batas. Ada staf dan orang-orang di belakang tim yang terus bekerja meskipun situasinya sulit. Hari itu mereka resmi menjadi juara FFWS SEA 2026 Fall. Namun, bagiku mereka sudah menjadi juara yang sesungguhnya bahkan sebelum trofi itu kami angkat," pungkasnya.

(hps/fyk)

TAGS

LIHAT LAINNYA