Ketegangan AS-Iran Memanas, Harga Minyak Melonjak US$3 per Barel
Harga minyak naik sekitar US$3 per barel pada Rabu setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Serangan Amerika Serikat dan Arab Saudi di Irak, pencegatan rudal Iran, serta turunnya stok minyak mentah AS mendorong pasar bergerak naik.
Bagikan:
JAKARTA - Harga minyak naik sekitar US$3 per barel pada Rabu setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. Serangan Amerika Serikat dan Arab Saudi di Irak, pencegatan rudal Iran, serta turunnya stok minyak mentah AS mendorong pasar bergerak naik.
Arab News dikutip Rabu, 29 Juli, melaporkan, harga kontrak berjangka Brent, acuan minyak global, naik US$3,15 atau 3,8 persen menjadi US$87,24 per barel pada pukul 08.20 waktu Arab Saudi. West Texas Intermediate atau WTI, acuan minyak AS, naik US$2,73 atau 3,4 persen menjadi US$81,99 per barel.
Analis ING mengatakan penguatan harga terjadi setelah AS menyatakan berhasil menggagalkan serangan mendadak terhadap pasukannya. Perkembangan itu memperkecil harapan bahwa ketegangan di kawasan Teluk akan cepat mereda.
AS dan Arab Saudi pada Rabu menyerang kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak. Kedua negara menuding kelompok tersebut berada di balik serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.
Iran memperingatkan bahwa menyalahkan Teheran atas serangan itu merupakan “kesalahan perhitungan besar”.
Serangan di Irak berlangsung beberapa jam setelah militer AS menyatakan telah menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukan Amerika di kawasan.
BACA JUGA:
Ketegangan turut menekan lalu lintas di Selat Hormuz. Hanya lima kapal pengangkut komoditas yang melintasi jalur itu pada Selasa. Pergerakan kapal tanker masih rendah.
Sebelum perang, sekitar seperlima pengiriman minyak mentah dan gas alam dunia melewati Selat Hormuz.
Oman menawarkan rencana pengelolaan jalur tersebut yang didukung negara-negara Teluk. Usulan itu mencakup pungutan sukarela bagi kapal yang melintas, menurut seorang sumber di kawasan Teluk dan seorang diplomat Barat kepada Reuters.
Namun, Iran menolak pengelolaan bersama Selat Hormuz oleh negara-negara kawasan. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa penolakan tersebut menutup peluang keberhasilan usulan Oman.
Kepala Riset Energi DBS Bank Suvro Sarkar memperkirakan harga Brent akan bergerak tajam di kisaran US$80 hingga US$100 per barel dalam waktu dekat. Pergerakannya akan mengikuti naik-turunnya konflik di Timur Tengah.
Sarkar mengatakan eskalasi terbaru terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memberi isyarat untuk kembali menempuh jalur diplomasi pada pekan ini.
Menurut Sarkar, perundingan yang tersendat membuat blokade Selat Hormuz belum sepenuhnya berakhir. Bahkan bila ketegangan mereda, harga minyak diperkirakan tetap memiliki batas bawah sekitar US$80 per barel.
Di sisi pasokan, data industri dari American Petroleum Institute atau API menunjukkan stok minyak mentah AS turun sekitar 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli.
Data resmi persediaan minyak dari Badan Informasi Energi AS atau EIA dijadwalkan terbit pada Rabu.
Perhatian pasar juga tertuju pada OPEC+, kelompok OPEC dan negara produsen mitranya. Sumber kepada Reuters menyebut kelompok itu kemungkinan menghentikan kenaikan produksi selama tiga bulan mulai Oktober setelah menuntaskan pengembalian pasokan yang sebelumnya dipangkas secara sukarela.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+