Kesalahan Orang Tua Ini Bikin Anak Tumbuh Jadi Narsistik
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak, tetapi tidak semua bentuk perhatian berdampak positif. Tanpa disadari, gaya parenting tertentu justru bisa membuat anak tumbu...
Jakarta, CNN Indonesia --
Banyak orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak, tetapi tidak semua bentuk perhatian berdampak positif. Tanpa disadari, gaya parenting tertentu justru bisa membuat anak tumbuh dengan sifat narsistik.
Chelsey Cole, psikoterapis yang fokus pada kekerasan narsistik, menyebut bahwa sifat narsistik seseorang, benihnya bisa ditanam sejak masa kanak-kanak. Orang tua yang punya niat baik sekalipun bisa tanpa sengaja membesarkan anak narsistik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Narsisisme cenderung berkembang di lingkungan di mana terdapat campuran antara terlalu memanjakan dan kurang memanjakan," ucap Cole, seperti dilansir USA Today.
Cara orang tua memanjakan, biasanya dengan fokus pada status, uang, hingga pencitraan di mata orang lain. Di sisi lain, kurang memanjakan dalam artian kurang mendidik anak soal kasih sayang dan empati.
Jadi apa saja kesalahan orang tua yang bisa membuat anak tumbuh jadi sosok narsistik? Ini dia beberapa di antaranya.
Pilihan Redaksi
- 3 Penyebab Seseorang Jadi Toxic
- Tak Perlu Khawatir, Ini 5 Cara Mengatasi Anak yang Mudah Cemas
- 5 Manfaat AI Buat Orang Tua, Bantu Parenting jadi Lebih Menyenangkan
1. Selalu menjadikan anak pusat perhatian
Mencintai anak tentu penting, tetapi anak juga perlu belajar bahwa orang lain punya perasaan dan kebutuhan. Menurut Your Tango, jika selalu menjadi pusat perhatian, anak bisa tumbuh kurang peka terhadap lingkungan sosialnya.
Mengajarkan empati dan tanggung jawab sejak dini membantu anak memahami bahwa tidak semua hal harus berpusat pada dirinya.
2. Tidak membiarkan anak gagal
Orang tua yang selalu membela anak dalam setiap situasi, berisiko menanamkan rasa entitlement atau mentalitas hak. Anak jadi merasa berhak mendapat perlakuan khusus setiap saat.
Padahal, kegagalan dan frustrasi justru penting untuk membangun ketahanan mental. Tanpa pengalaman itu, anak lebih rentan mengembangkan perilaku narsistik.
3. Memuji secara berlebihan
Pujian memang penting, tetapi jika terlalu sering dan tidak proporsional, anak bisa merasa dirinya selalu layak mendapat lebih. Memuji secara berlebihan dapat mendorong perilaku narsistik, tetapi pada saat yang sama menurunkan kepercayaan diri.
4. Terlalu fokus pada pencitraan
Jika orang tua lebih menekankan penampilan, status, atau prestasi dibanding hubungan sehat, anak bisa tumbuh dengan orientasi yang salah. Anak perlu belajar membangun relasi yang nyata, bukan sekadar tampil menonjol di depan orang lain.
Hubungan sosial yang sehat membuat anak lebih aman secara emosional dan lebih kecil kemungkinannya bersikap narsistik.
5. Tidak menyadari perilaku buruk diri sendiri
Anak belajar dari contoh. Jika orang tua mudah marah, merendahkan orang lain, atau bersikap kasar, anak bisa menganggap itu sebagai perilaku normal.
Mengutip CNBC Make It, penting bagi orang tua untuk menunjukkan kecerdasan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Saat anak melihat orang tua mampu mengelola emosi, mereka akan lebih mudah meniru hal sama.
6. Tidak memvalidasi emosi anak
Ilustrasi. Salah satu kesalahan orang tua yang bikin anak tumbuh jadi narsistik, yaitu tak memvalidasi emosi anak. (iStockphoto/gahsoon)
Mengabaikan, mengejek, atau meremehkan perasaan anak bisa membuat mereka merasa emosinya salah. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengganggu kemampuan mereka mengatur emosi dan memunculkan perilaku defensif.
Orang tua sebaiknya memantulkan emosi anak dengan membantu mereka menamai apa yang sedang dirasakan, lalu memvalidasi bahwa perasaan itu wajar.
7. Tidak menegur perilaku narsistik sejak dini
Saat anak tantrum atau bertingkah berlebihan di depan umum karena keinginannya tidak terpenuhi, orang tua tidak boleh membiarkannya begitu saja.
Teguran yang tepat akan membantu anak memahami dampak perilakunya terhadap orang lain. Tanyakan apa yang terjadi, bagaimana perasaannya, dan bagaimana reaksinya memengaruhi orang di sekitarnya.
Ketimbang menerima begitu saja disfungsi emosional anak, teguran ini justru membantu mereka melatih kemampuan empati, kesadaran sosial, dan regulasi emosi. Semua aspek ini merupakan hal penting dalam membangun kecerdasan emosional atau EQ.
Itu dia sejumlah kesalahan orang tua yang bisa bikin anak tumbuh jadi sosok narsistik. Kabar baiknya, perilaku narsistik bukan sesuatu yang pasti menetap seumur hidup.
Dengan pola asuh yang lebih sadar dan konsisten, anak tetap bisa belajar empati, tanggung jawab, dan pengendalian diri.
(rti)