pickleballvnz.com

Keripik Buah dan Tempe Indonesia Masuk Jaringan Ritel Cili

Pesanan tersebut berasal dari Cencosud Retail S.A., perusahaan ritel asal Cili. Produk yang dipesan merupakan makanan ringan bernilai tambah yang diproduksi oleh CV Pangantama Makmur Abadi dan CV Arva Indonesia...

Pesanan tersebut berasal dari Cencosud Retail S.A., perusahaan ritel asal Cili. Produk yang dipesan merupakan makanan ringan bernilai tambah yang diproduksi oleh CV Pangantama Makmur Abadi dan CV Arva Indonesia.

CV Pangantama Makmur Abadi memasok keripik buah mangga, apel, dan nangka, serta keripik brokoli dan jamur. Sementara CV Arva Indonesia memasok keripik tempe dengan varian truffle, honey butter, dan Himalayan salt basil.

Baca Juga: Sabet 3 Penghargaan, Digitalisasi Bank Sampoerna Bawa Dampak Positif bagi Mitra Pengguna Jasa Keuangan Termasuk UMKM

Masuknya produk tersebut ke jaringan ritel Cili menjadi salah satu perkembangan ekspor produk pangan olahan Indonesia ke pasar Amerika Selatan. Sebelumnya, Kementerian Perdagangan telah mengidentifikasi produk olahan tempe, keripik sayur dan buah, produk kelapa, kopi, serta pangan sehat sebagai sejumlah produk yang memiliki peluang di pasar Cili.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi mengatakan transaksi senilai USD29 ribu tersebut dapat menjadi awal kerja sama yang lebih panjang apabila produk mendapatkan respons positif dari konsumen Cili.

"Transaksi ini dapat menjadi awal keberlanjutan kerja sama jangka panjang dengan buyer setempat," kata Puntodewi melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.

Menurut dia, pemerintah terus mendorong perluasan akses pasar melalui promosi dagang, penjajakan pasar, fasilitasi pameran, serta pendampingan komunikasi bisnis antara eksportir Indonesia dan calon buyer di luar negeri.

Transaksi tersebut merupakan tindak lanjut dari keikutsertaan perusahaan Indonesia dalam Espacio Food & Service 2025 di Cili. Pameran yang berlangsung pada 30 September-2 Oktober 2025 itu menjadi salah satu ajang bisnis industri pangan di Cili. Penyelenggara mencatat lebih dari 50 ribu pengunjung pada penyelenggaraan 2025.

Dari pameran tersebut, komunikasi bisnis antara pelaku usaha Indonesia dan calon pembeli Cili kemudian dilanjutkan melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Santiago bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Santiago.

Pemilik sekaligus pendiri CV Pangantama Makmur Abadi, Irene Hartanto, mengatakan transaksi awal tersebut diharapkan dapat berlanjut sehingga perusahaannya mampu mempertahankan kegiatan ekspor.

"Semoga ke depan kami dapat terus konsisten dalam kegiatan ekspor ini," kata Irene.

Kementerian Perdagangan juga masih memantau peluang transaksi lanjutan dari pasar Cili. Pada 29 Juli 2026, ITPC Santiago dan KBRI Santiago memfasilitasi business matching antara PT Mega Inovasi Organik dengan calon importir Cili, Agro Imagina.

Dalam pertemuan tersebut, Agro Imagina menunjukkan ketertarikan terhadap produk rempah Indonesia. Pembahasan selanjutnya mencakup jenis dan spesifikasi produk, standar kualitas, kemasan, harga, kapasitas pasokan, serta dokumen pendukung.

Wakil Kepala ITPC Santiago Tesa Listva Kusumawardani mengatakan potensi pembelian awal dari Agro Imagina diperkirakan mencapai satu kontainer 20 feet dengan nilai transaksi sekitar USD70 ribu.

Peluang tersebut akan kembali dijajaki melalui keikutsertaan PT Mega Inovasi Organik dalam Espacio Food & Service 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 29 September-1 Oktober 2026.

Baca Juga: Hilirisasi Sawit Buka Peluang UMKM Tembus Pasar Ekspor

Tesa mengatakan ITPC Santiago akan memantau proses komunikasi antara eksportir dan buyer, termasuk pengiriman, pemenuhan persyaratan impor, kedatangan produk, serta perkembangan distribusi dan penjualan di Cili.