pickleballvnz.com

Kemenperin Bidik Potensi Industri Fermentasi RI Tembus Pasar Global

Bagikan: JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mendorong pengembangan industri produk ferme...

Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mendorong pengembangan industri produk fermentasi berbasis bahan baku lokal seiring besarnya peluang pasar global. Kekayaan produk fermentasi Indonesia dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk industri bernilai tambah dan berdaya saing di pasar internasional.

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan bahan baku dan keragaman produk yang dapat menjadi modal pengembangan industri specialty dan artisan, termasuk produk hasil fermentasi.

Menurut dia, tantangan yang dihadapi industri nasional bukan hanya bagaimana memanfaatkan kekayaan sumber daya alam, melainkan juga mengolahnya menjadi produk berkualitas, memiliki identitas kuat serta mampu memberikan nilai ekonomi lebih tinggi.

"Kami memiliki kekayaan bahan baku dan keragaman produk yang menjadi kekuatan industri Indonesia. Tantangannya adalah dari potensi tersebut kami olah menjadi produk bernilai tambah, berkualitas, memiliki identitas kuat serta mampu bersaing di pasar global" ucap Faisol saat membuka Specialty Indonesia 2026 di Jakarta, Senin, 10 Agustus.

Faisol menilai, pengembangan industri fermentasi menjadi salah satu peluang untuk memperluas hilirisasi berbasis sumber daya lokal. Indonesia disebut memiliki beragam produk fermentasi yang lahir dari kearifan lokal dan penggunaan bahan baku dalam negeri. Akan tetapi, potensinya belum sepenuhnya berkembang menjadi sebuah ekosistem industri nasional terintegrasi.

Padahal, peluang pasar global menunjukkan tren menjanjikan. Berdasarkan data Fortune Business Insights, pasar pangan fermentasi pada 2025 mencapai 788,33 juta dolar AS dan diproyeksikan naik menjadi 1,24 miliar dolar AS pada 2034.

Besarnya potensi tersebut membuka ruang bagi pelaku industri nasional untuk mengembangkan berbagai produk fermentasi berbasis bahan baku lokal. Pengembangan tidak hanya bertujuan untuk memenuhi pasar domestik, tetapi juga menciptakan produk dengan standar kualitas dan identitas yang mampu bersaing di pasar global.

"Karena itu, kami tidak ingin kekayaan komoditas Indonesia hanya dipasarkan sebagai bahan baku. Kami ingin semakin banyak produk yang diolah di dalam negeri, memiliki merek kuat, memperoleh nilai tambah lebih tinggi dan kemudian dikenal oleh konsumen dunia," katanya.

Untuk memperkuat potensi tersebut, Specialty Indonesia 2026 menghadirkan Indonesian Fermentation Forum Experience. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi fermentasi Indonesia sekaligus mendorong pengembangan produk fermentasi dari warisan lokal menjadi bagian dari industri modern.

Pengembangan industri fermentasi juga sejalan dengan strategi Kemenperin dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui inovasi, kualitas, desain, pengemasan, branding dan strategi pemasaran.

Selain fermentasi, Specialty Indonesia 2026 turut menampilkan berbagai produk berbasis sumber daya lokal, seperti kopi, teh, kakao, hortikultura, olahan susu dan cerutu. Produk-produk tersebut dinilai memiliki karakteristik dan keunggulan yang dapat dikembangkan menjadi produk specialty dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Kemenperin memandang, penguatan ekosistem menjadi penting agar potensi tersebut tidak berhenti pada tahap produksi. Pelaku industri perlu terhubung dengan pasar, calon pembeli, jaringan distribusi hingga mitra bisnis internasional, agar keunggulan produk dapat dikonversi menjadi transaksi dan peningkatan ekspor.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menyebut, Specialty Indonesia 2026 menjadi salah satu upaya pemerintah membuka peluang pengembangan usaha sekaligus memperluas akses pasar bagi produk specialty berbasis bahan baku lokal.

BACA JUGA:


"Kami berharap, ajang ini dapat membuka lebih banyak kolaborasi antara pelaku usaha specialty Indonesia dengan pelaku bisnis pengguna seperti hotel, restoran, kafe dan ritel internasional, sehingga brand image produk-produk kami semakin kuat dan dikenal di pasar global," tuturnya.

Adapun Specialty Indonesia 2026 berlangsung pada 10–13 Agustus 2026 dengan rangkaian kegiatan berupa pameran, business matching, seminar dan kompetisi. Sebanyak 48 perusahaan terkurasi mengikuti pameran, sedangkan 30 perusahaan berpartisipasi dalam business matching.

Melalui kegiatan tersebut, pelaku usaha dipertemukan dengan potential buyer dari perwakilan perdagangan kedutaan besar negara sahabat serta sektor hotel, restoran, kafe dan ritel. Kemenperin berharap, pertemuan bisnis tersebut tidak berhenti pada promosi, tetapi dapat berlanjut menjadi transaksi dan kemitraan konkret.

Pengembangan industri fermentasi pun diharapkan menjadi bagian dari agenda hilirisasi industri nasional. Dengan menggabungkan kekayaan bahan baku lokal, inovasi, standardisasi, teknologi dan penguatan merek, produk fermentasi Indonesia berpeluang naik kelas dari produk berbasis kearifan lokal menjadi komoditas industri bernilai tambah yang mampu menembus pasar global.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+