pickleballvnz.com

Kemenkes & BRIN Punya 530 Riset Inovasi Kesehatan, Ini Manfaatnya

Nama Leimena dipilih untuk menghormati Prof. Johannes Leimena yang sejak era 1950-an telah menggagas pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif, bukan hanya kurat...

Nama Leimena dipilih untuk menghormati Prof. Johannes Leimena yang sejak era 1950-an telah menggagas pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif, bukan hanya kuratif.

"Kita menerima hampir 700 abstrak dari seluruh puskesmas, dinas kesehatan maupun akademisi dari seluruh Indonesia. Setelah dikurasi sekitar 530 akan masuk dalam abstract book," ujar Maria dalam konferensi pers Leimena Conference 2026 di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta Selatan, Senin (27/7/2026).

Ia bilang, abstrak yang masuk tidak hanya berasal dari penelitian akademik, tetapi juga praktik terbaik (best practices) yang telah diterapkan tenaga kesehatan di lapangan.

"Apa yang dilakukan puskesmas, perawat maupun dinas kesehatan dengan inovasinya sehingga menghasilkan pelayanan yang lebih baik, semuanya kita kumpulkan agar bisa dipelajari bersama," katanya.

Maria menjelaskan, salah satu fokus utama yang ingin diperkuat melalui berbagai inovasi tersebut adalah penanganan stunting hingga penyakit tidak menular yang kini menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia. Ia mengatakan, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga menjadi salah satu kebijakan yang diharapkan terus disempurnakan melalui berbagai temuan dari lapangan.

"Melalui praktik-praktik baik ini kita ingin mengetahui seperti apa pelaksanaan cek kesehatan gratis yang paling efektif, termasuk strategi terbaik dalam pencegahan stunting," ujarnya.

Maria mengungkapkan prevalensi stunting Indonesia pada 2024 masih berada di angka 19,8%. Sehingga, upaya pencegahan harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian Multiple Micronutrient Supplement (MMS), hingga pemantauan pertumbuhan balita melalui Posyandu.

Saat ini, data yang masuk dari Posyandu mencapai sekitar 12 juta balita setiap bulan, dan pemerintah menargetkan meningkat menjadi 16 juta balita agar pemantauan status gizi anak semakin optimal.

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Prof. Indi Dharmayanti mengatakan, hasil-hasil riset kesehatan akan diselaraskan dengan agenda transformasi kesehatan Kemenkes. BRIN, kata ia, telah menyusun peta jalan penelitian yang sejalan dengan kebutuhan pemerintah.

"Hal itu juga termasuk melalui berbagai skema pendanaan nasional maupun kerja sama internasional agar hasil riset dapat diimplementasikan dalam pelayanan kesehatan," kata ia.

Dukungan juga datang dari WHO Regional Office for the Western Pacific (WPRO). Director of the Division of Health Systems and Services WHO WPRO Lui Vinyal Torres menilai Indonesia berada di jalur yang tepat dengan menjadikan pelayanan kesehatan primer sebagai prioritas reformasi kesehatan.

Ia menyebut antusiasme hampir 700 abstrak menjadi bukti kuat berkembangnya komunitas ilmiah di Indonesia yang siap menghasilkan bukti ilmiah untuk mendukung kebijakan kesehatan.

"Masih banyak kesenjangan riset dan implementasi pelayanan kesehatan primer yang perlu dibuktikan apakah benar-benar efektif di lapangan. Konferensi ini merupakan inisiatif yang sangat baik," ujar Torres.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Indonesia sebenarnya telah menjadi pelopor konsep pelayanan kesehatan primer. Ia bilang, Prof. Johannes Leimena telah menggagas konsep tersebut sejak 1951 dan mulai diterapkan pada 1968, jauh sebelum Deklarasi Alma-Ata pada 1978 menjadikan pelayanan kesehatan primer sebagai strategi utama kesehatan global.

"Yang Indonesia lakukan, inisiasi tahun 1951 itu 27 tahun sebelum Deklarasi Alma-Ata. Eksekusinya tahun 1968, 10 tahun sebelum dunia mengakui bahwa primary care adalah kunci utama inisiatif kesehatan di seluruh dunia," kata Budi.

Budi pun mengajak para peneliti, tenaga kesehatan, hingga puskesmas untuk terus membagikan praktik-praktik terbaik agar bisa direplikasi di berbagai daerah. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bukan hanya menjadi pencapaian akademik.

"Saya tidak pernah peduli dengan gelar. Saya peduli dengan kontribusinya bagi masyarakat. Tolong bekerja terus, bekerja dengan hati seperti yang teman-teman lakukan sekarang," kata Budi.

"Best practices itu sangat penting. Kita ambil dan kita replikasi cepat. Yang paling sukses direplikasi itu harus kita kasih penghargaan," kata Budi menambahkan.