pickleballvnz.com

Keluarga Berperan Penting Membentuk Pola Makan Sehat

Bagikan: JAKARTA - Pola makan sehat bukan hanya soal makanan yang tersaji di meja, tetapi juga kebiasaan dan...

Bagikan:

JAKARTA - Pola makan sehat bukan hanya soal makanan yang tersaji di meja, tetapi juga kebiasaan dan pilihan yang dibuat keluarga setiap hari. Mulai dari memilih bahan makanan, menentukan menu, mengolahnya, hingga mengelola sisa makanan, semuanya menjadi bagian dari kebiasaan pangan yang terbentuk di rumah.

Keluarga menjadi lingkungan penting untuk mengenalkan kebiasaan makan sehat sejak dini. Peran ini tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga melibatkan ayah dan anak sesuai peran masing-masing.

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) bersama Buibu Baca Buku (BBB) Book Club mengadakan Family Fun ‘Food’ Day. Kegiatan ini mengajak keluarga memahami pentingnya pola makan sehat sekaligus mengenal pangan lokal melalui berbagai aktivitas edukatif.

Kepala Sekretariat KSPL, Gina Karina, mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mendorong perubahan sistem pangan dengan melibatkan keluarga.

“Kenapa kita membuat acara seperti ini? Karena ini merupakan salah satu upaya transformasi sistem pangan yang kami coba lakukan. Salah satu program kami adalah Food and Family. Kami percaya bahwa setiap hari, selama 24 jam, dalam satu minggu, hingga sepanjang tahun, selalu ada keputusan terkait makanan yang dibuat di dalam keluarga,” ujar Gina di Paviliun Selatan, Tebet Eco Park pada Sabtu, 25 Juli 2026.

Menurutnya, setiap anggota keluarga memiliki peran dalam menentukan sistem pangan di rumah, mulai dari memilih makanan hingga mengelola sisa makanan.

“Keputusan terkait makanan, baik yang dibuat oleh ibu maupun ayah, termasuk cara mengolah makanan dan mengelola sampah, semuanya merupakan bentuk kontribusi keluarga. Kami sangat mendorong keterlibatan seluruh anggota keluarga. Setiap orang memiliki peran masing-masing dalam menentukan sistem pangan di keluarganya," lanjut Gina.

Gina berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memberikan pengalaman menyenangkan yang dapat diterapkan keluarga dalam kehidupan sehari-hari.

“Kompetisi mungkin adalah satu hal, tetapi yang tidak kalah penting adalah have fun bersama keluarga. Semoga kegiatan ini bisa menjadi waktu yang menyenangkan bersama keluarga dan pembelajaran yang didapat hari ini, nantinya dapat diterapkan di rumah,” kata Gina.

Pola makan sehat sendiri dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti memasak lebih sering di rumah, memperbanyak pilihan pangan lokal, memperhatikan komposisi makanan dalam satu piring, serta mengurangi konsumsi makanan ultra-proses secara bertahap.

Gina menjelaskan Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mewujudkan sistem pangan yang sehat, beragam, berkeadilan, dan lestari, salah satunya pergeseran pola makan yang semakin jauh dari pangan lokal.

“Indonesia kini masih menghadapi beragam tantangan dalam mewujudkan sistem pangan yang sehat, beragam, berkeadilan, dan lestari. Salah satu tantangan terbesarnya adalah adanya pergeseran pola makan yang semakin jauh dari pangan lokal dan lebih mengarah ke makanan ultraproses (UPF)," imbuh Gina.

Gina mengatakan ini tercermin dari tingginya tingkat obesitas yang pada tahun 2023 mencapai 23,4 persen. Berdasarkan riset biaya tersembunyi yang telah dilakukan, obesitas sendiri merugikan negara hingga lebih dari 200 miliar dolar AS atau Rp3,6 kuadriliun.

"Melihat urgensinya, dibutuhkan aksi kolektif dari semua lini, termasuk yang sangat penting adalah dari keluarga, di mana keputusan tentang makanan dibuat setiap hari dalam seminggu sepanjang tahun,” beber Gina.

Sementara itu, Meita Eryanti, Partnership and Community Lead BBB Book Club menilai perubahan kebiasaan dapat dimulai dari lingkungan keluarga.

“Berkolaborasi dengan KSPL dalam acara Family Fun 'Food' Day, BBB ingin menunjukkan bahwa aksi iklim tidak harus rumit atau jauh dari keseharian kita. Sebagai komunitas yang percaya bahwa ibu adalah agen perubahan terkuat di dalam keluarga, kami yakin bahwa perubahan sistem pangan yang nyata dimulai dari dapur, dari pilihan-pilihan sederhana yang dibuat setiap hari oleh seorang ibu dan keluarganya," jelas Meita.

Dalam acara tersebut, 15 keluarga mengikuti berbagai permainan edukatif. Para ibu ditantang menyusun menu berdasarkan prinsip Isi Piringku, para ayah mengenal rempah dan pangan lokal, sedangkan anak-anak bermain puzzle bertema pangan lokal.

Melalui kegiatan ini, keluarga diajak memahami bahwa keberagaman pangan dan pola makan sehat dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana di rumah. Kegiatan juga diisi dengan sesi Cerdas Cermat tentang pangan lokal yang dimenangkan oleh kelompok keluarga Garang Asem.

Ketua Tim Garang Asem, Dhenny Ajie mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi keluarganya.

“Melalui acara ini, kami jadi lebih memahami betapa pentingnya pangan lokal dalam pola makan keluarga sehari-hari. Semoga ke depannya, acara seperti ini bisa terus hadir dan menjangkau lebih banyak keluarga Indonesia sehingga semakin banyak keluarga yang sadar akan pangan lokal. Dengan begitu, semakin kuat pula sistem pangan Indonesia yang tidak bergantung pada produk impor." tutur Dhenny.

Membangun pola makan sehat dimulai dari rumah. Dengan melibatkan seluruh anggota keluarga dalam memilih, mengolah, dan menikmati makanan, kebiasaan baik dapat terbentuk secara perlahan.

Keluarga pun menjadi agen perubahan dengan mengenalkan makanan beragam dan bergizi, memanfaatkan pangan lokal, serta mengajarkan anak mengenal makanan sehat sejak dini.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+