Katarsis demokratis, kegelisahan menjadi energi perubahan
Idealnya, pemerintah tidak perlu menunggu kegelisahan berkembang menjadi ledakan untuk mengetahui bahwa ada persoalanJakarta (ANTARA) - Setiap manusia membutuhkan ruang untuk didengar. Anak membutuhkan orang tu...
Idealnya, pemerintah tidak perlu menunggu kegelisahan berkembang menjadi ledakan untuk mengetahui bahwa ada persoalan
Jakarta (ANTARA) - Setiap manusia membutuhkan ruang untuk didengar. Anak membutuhkan orang tua yang bersedia mendengarkan. Karyawan memerlukan ruang untuk menyampaikan pendapat.
Demikian pula rakyat dalam sebuah negara. Mereka membutuhkan saluran untuk menyampaikan kegelisahan, kritik, harapan, dan aspirasinya.
Sesuatu yang terus dipendam dapat berubah menjadi tekanan. Dalam psikologi ada istilah katarsis, yang secara umum menggambarkan proses mengungkapkan dan mengolah emosi sehingga seseorang memperoleh kelegaan serta mampu melihat persoalan dengan lebih jernih.
Namun, katarsis bukan sekadar pelampiasan. Ekspresi yang sehat membutuhkan pengendalian diri, pemahaman terhadap persoalan, serta arah penyelesaian. Prinsip yang kurang lebih sama dapat dibaca dalam kehidupan demokrasi.
Ketika kegelisahan masyarakat memperoleh ruang untuk disampaikan secara terbuka dan damai, muncul apa yang dapat disebut sebagai “katarsis demokratis”. Keresahan kolektif tidak berhenti sebagai kemarahan, tetapi memperoleh saluran untuk berubah menjadi aspirasi, dialog, evaluasi, dan pada akhirnya perbaikan.
Demonstrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian pendapat di ruang publik. Dalam sistem demokrasi Indonesia, kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat merupakan hak yang dijamin konstitusi.
Pelaksanaannya juga berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap hak orang lain, keamanan, dan ketertiban umum.
Oleh karena itu, ketika masyarakat turun ke jalan membawa poster, menyampaikan tuntutan, atau menyuarakan kritik, pertanyaan yang penting bukan hanya seberapa keras suara mereka. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apa yang sedang mereka sampaikan.
Apa yang membuat sebagian masyarakat kecewa? Apa yang dianggap tidak adil? Perubahan apa yang diharapkan? Apakah sebelumnya tersedia saluran untuk menyampaikan persoalan tersebut dan bagaimana respons yang diperoleh?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena demonstrasi tidak semestinya dilihat semata sebagai kerumunan orang yang menyampaikan kemarahan. Tapi juga dapat menjadi sinyal sosial mengenai persoalan yang dirasakan sebagian masyarakat.
Menjembatani perbedaan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.