Karhutla kawasan KKOP Bandara Sampit dapat penanganan ekstra
Sampit (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mendapat penanganan eks...
Sampit (ANTARA) - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mendapat penanganan ekstra karena berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan.
“Kemarin kita kembali melakukan pemadaman karhutla, kali ini lokasinya masuk di kawasan KKOP bandara, di sekitar ujung landasan Bandara Haji Asan Sampit," kata Wakil Bupati Kotim Irawati di Sampit, Kamis.
Tepatnya, karhutla terjadi di sekitar Jalan Tjilik Riwut kilometer 6 arah Sampit-Palangka Raya. Kebakaran terjadi sekitar pukul 13.10 WIB. Api dengan cepat membesar karena lokasi yang terbakar merupakan lahan gambut dan semak belukar yang mengering selama kemarau.
Irawati menyampaikan, dirinya langsung turun ke lokasi setelah mendapat laporan mengenai kebakaran cukup besar di sekitar ujung landasan Bandara Haji Asan Sampit dan minimnya armada pemadaman.
Ia pun langsung menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim agar segera mengerahkan personel serta armada tambahan ke lokasi.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena titik kebakaran berada di kawasan KKOP yang berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan, terlebih pada saat itu dijadwalkan kedatangan pesawat Super Air Jet ke Kota Sampit.
Irawati pun mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur dalam penanganan kebakaran tersebut, termasuk TNI dan Polri yang turut menurunkan personel untuk mempercepat pengendalian api.
Kolaborasi antara Satgas Karhutla dan Kekeringan Kotim, serta personel tambahan dan armada dari Kodim 1015/Sampit, Polres Kotim serta relawan membuat api yang sempat membesar dapat dikendalikan.
Dandim 1015/Sampit Letkol Inf Dwi Candra Setyawan dan Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain juga berada di lokasi untuk memantau proses pemadaman. Selain itu, jajaran Korem 102/Pjg ikut turun memantau penanganan karhutla di lokasi tersebut.
Irawati bahkan turut membantu pengamanan arus lalu lintas ketika kabut asap cukup pekat menyelimuti ruas jalan di sekitar lokasi dan mengganggu jarak pandang pengendara.
Baca juga: Bupati Kotim kerahkan seluruh OPD optimalkan penanganan karhutla
Baca juga: KSOP Sampit keluarkan maklumat pelayaran waspada kabut asap karhutla
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan penanganan karhutla di kawasan KKOP memang membutuhkan upaya lebih dibandingkan lokasi lainnya karena aspek keselamatan penerbangan harus menjadi perhatian utama.
“Penanganan di kawasan KKOP memang agak ekstra karena bagaimana transportasi udara tetap bisa jalan seperti biasanya,” ujar Multazam.
Ia menyebutkan, selain di sekitar Jalan Tjilik Riwut kilometer 6, pihaknya juga memberikan perhatian terhadap kebakaran di Jalan Jaksa Agung yang masih berada dalam kawasan KKOP.
Jarak titik api di Jalan Jaksa Agung dari pinggir jalan saat ini mencapai sekitar 500 hingga 550 meter sehingga menyulitkan pengerahan unit pemadaman. Kondisi tersebut diperparah vegetasi berupa hutan sekunder dan pionir yang membuat pergerakan pasukan darat menjadi terbatas.
“Untuk penanganan itu memang agak panjang, karena di dalamnya ada hutan-hutan sekunder atau pionir-pionir baru hutan, sehingga pergerakan pasukan darat memang kesulitan,” ungkapnya.
Selain akses yang sulit, karakteristik lahan gambut yang cukup tebal menyebabkan api berpotensi menjalar di bawah permukaan sehingga proses pemadaman membutuhkan suplai air dan waktu lebih panjang.
Baca juga: Pakar UMY nilai El Nino perparah karhutla di Kalimantan
Baca juga: Polri-TNI dan Pamhut patroli bersama cegah karhutla di Jambi
Baca juga: Kemenhut kerahkan 1.000 Polhut perkuat penanganan karhutla Kalimantan
Pewarta: Muhammad Arif Hidayat/Devita Maulina
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.