Kalijaran Maos mapan menanam kemandirian dari hulu hingga hilir
Pada hamparan sawah di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, energi matahari tidak sekadar jatuh sebagai cahaya, tapi diubah menjadi tenaga untuk ANTARA News jateng artikel ...
Kalijaran Maos mapan menanam kemandirian dari hulu hingga hilir
Jumat, 2 Oktober 2026 19:38 WIB
Panel surya dan kincir angin digunakan sebagai pembangkit listrik untuk menghidupi pompa air pada lahan pertanian berkelanjutan yang dikelola Gabungan Kelompok Tani Margo Sugih di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. ANTARA/Sumarwoto
Cilacap (ANTARA) - Pada hamparan sawah di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, energi matahari tidak sekadar jatuh sebagai cahaya, tapi diubah menjadi tenaga untuk mengalirkan air, menghidupkan lahan, dan perlahan menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
Di tempat itu, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margo Sugih bersama Kelompok Ternak Mintih Mulia serta Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Jaya Lestari dan KWT Tandur Makmur menjalankan program Kalijaran Mapan atau Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan.
Program unggulan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap itu tidak berhenti pada penyediaan sarana produksi pertanian. Pendekatannya dibangun dari hulu hingga hilir, mulai dari energi, air, budidaya, peternakan, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran.
Pengembangan tersebut bermula dari sebuah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1.050 Wp yang digunakan untuk mendukung pengairan lahan.
Seiring pendampingan dan pengembangan program sejak 2023, kapasitas energi terpasang meningkat menjadi 22.850 Wp yang digunakan untuk mengoperasikan sejumlah pompa irigasi. Luas lahan yang mendapatkan manfaat pengairan pun berkembang dari sekitar dua hektare menjadi 15 hektare.
"Kalau dulu kita hanya punya satu PLTS, sekarang sudah berkembang menjadi delapan PLTS. Satu PLTS untuk satu pompa," kata Priyatno, Ketua Gapoktan Margo Sugih.
Energi terbarukan tersebut menjadi pintu masuk bagi perubahan yang lebih luas. Air yang dipompa untuk mengairi sawah tidak hanya menopang tanaman padi, juga mendukung hortikultura dan peternakan.
Kalijaran Mapan dilengkapi embung yang menampung kelebihan air sekaligus dimanfaatkan untuk budidaya ikan. Di sekitar lahan terdapat pula kandang bebek komunal, demplot pertanian, rumah pembibitan, greenhouse hidroponik, bedeng hortikultura, serta saung edukasi.
Kotoran bebek dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik, sementara tanaman seperti azolla, lemna, dan eceng gondok turut digunakan sebagai bahan tambahan pakan.
Bagi Priyatno, pola tersebut membuat pertanian tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Padi menghasilkan beras dan hasil samping yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, peternakan menghasilkan telur dan pupuk, sedangkan hortikultura membuka pilihan komoditas sekaligus sumber pendapatan.
Kelompok itu ingin pertanian yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Jadi bukan hanya menanam, tetapi bagaimana hasilnya bisa diolah dan mempunyai nilai tambah.
Dari diejek menjadi dicari
Perubahan itu tidak serta-merta diterima masyarakat. Priyatno mengenang ketika program mulai diperkenalkan, sebagian petani justru mempertanyakan dan mengejek konsep yang dianggap berbeda dari kebiasaan mereka.
Kini situasinya berbalik. Masyarakat yang sebelumnya melihat dari kejauhan mulai datang dan bertanya mengenai perkembangan program serta kemungkinan kegiatan baru.
Program tersebut kini tercatat memberikan manfaat kepada 233 orang. Selain petani, penerima manfaat mencakup perempuan tani, buruh tani, dan kelompok masyarakat rentan lainnya.
Aktivitas pertanian juga membuka ruang padat karya, terutama ketika persiapan lahan dan masa panen berlangsung. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh pemilik lahan, juga oleh masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan pertanian.
Di sisi lain, KWT Tandur Makmur membawa hasil pertanian masuk lebih jauh ke dapur pengolahan.
Ketua KWT Tandur Makmur Warsini mengatakan kelompoknya mengembangkan sejumlah produk olahan seperti jamu kunyit asam, sambal pecel, sambal teri dan sambal cumi. Kelompok tersebut juga membudidayakan berbagai tanaman, antara lain selada hidroponik, cabai, tomat dan kembang kol.
Menurut dia, nilai tambah bukan semata-mata ditentukan oleh jenis produk, tetapi juga rasa yang membuat konsumen kembali membeli.
"Keunggulannya itu beda. Yang bikin warga sini bisa beli lagi, beli lagi. Keunggulannya itu enak," kata Warsini.
Sementara itu, KWT Mekar Jaya Lestari mengembangkan kegiatan budidaya hortikultura sekaligus pengolahan pangan.
Ketua KWT Mekar Jaya Lestari Jumiati mengatakan anggota kelompok sehari-hari beraktivitas di saung untuk merawat tanaman seperti kangkung dan pakcoi serta mencoba komoditas lain.
Ketika pekerjaan di lahan selesai, aktivitas berlanjut ke dapur produksi yang dibangun melalui dukungan Pertamina.
Saat cuaca panas, lanjut dia, anggota kelompok berpindah dari lahan ke dapur untuk mengolah hasil menjadi makanan ringan, antara lain keripik pisang dan produk olahan lainnya.
Bagi Jumiati, seluruh produk yang dikembangkan memiliki peluang menjadi produk unggulan karena lahir dari kerja keras anggota kelompok.
"Inginnya semua jadi unggulan, karena kita sudah capek mengeluarkan keringat, ingin hasilnya bagus," katanya.
Menanam hingga mengolah
Rangkaian kegiatan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang terhadap pertanian. Sawah tidak lagi sekadar tempat menghasilkan gabah, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan energi, air, pangan, peternakan, perempuan, hingga usaha pengolahan.
Priyatno mengatakan kelompoknya juga mulai mendorong peningkatan produktivitas melalui penggunaan varietas padi dan pengaturan pola tanam.
Salah satu target yang ingin dicapai ialah IP300, yakni tiga kali tanam dan tiga kali panen dalam setahun. Selain menggunakan Inpari 32, kelompok juga melakukan uji coba varietas lain yang dinilai berpotensi meningkatkan produktivitas.
Pada saat bersamaan, hasil panen mulai diarahkan ke pasar yang lebih luas. Beras hasil produksi petani telah masuk tahap pengolahan dan dijual sekitar Rp16.000 per kilogram. Sebagian beras juga diserap koperasi Pertamina.
Bagi Priyatno, proses panjang dari menyiapkan lahan, menanam, merawat hingga memanen semestinya tercermin dalam nilai produk yang diterima petani.
Transformasi Kalijaran juga membuka ruang pembelajaran. Kerja sama dengan perguruan tinggi vokasi membuat mahasiswa bidang kelistrikan terlibat dalam pemeliharaan dan perbaikan perangkat energi.
Sekitar delapan hingga 16 mahasiswa disebut telah mengikuti kegiatan tersebut selama beberapa semester. Kegiatan itu sekaligus menjadi proses belajar langsung mengenai penerapan energi terbarukan di sektor pertanian.
Dari satu teknologi sederhana untuk pengairan, masyarakat kemudian belajar mengelola sistem yang lebih kompleks. PLTS dikombinasikan dengan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) sehingga menjadi teknologi hibrida, sementara pengembangan pertanian diarahkan pada penggunaan air yang lebih efisien, termasuk irigasi tetes pada sejumlah lahan hortikultura.
Priyatno melihat penggunaan energi terbarukan bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Kalau dulu untuk pertanian kita menggunakan Pertalite, Pertamax, solar atau biodiesel. Sekarang kita mulai menggunakan energi matahari dan hybrid. Ini mengurangi penggunaan energi fosil," kata dia.
Bagi Pertamina, keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya sarana yang dibangun atau bantuan yang diberikan. Ukuran penting lainnya ialah kemampuan masyarakat mempertahankan program setelah pendampingan berakhir.
Area Manager Communication Relations and CSR PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap Agustiawan mengatakan evaluasi dan pemetaan sosial terus dilakukan untuk mengetahui dampak program serta kebutuhan masyarakat.
"Program ini terus kita evaluasi, sejauh mana dampaknya kepada masyarakat, khususnya kelompok tani di sini. Kita juga terus melakukan proses social mapping kepada program ini sehingga kalau memang ada yang dibutuhkan tentu kita akan coba dukung," kata dia.
Namun, pendampingan tersebut tidak dirancang untuk berlangsung selamanya.
Pertamina kini memikirkan bentuk kelembagaan yang dapat menjaga keberlanjutan program, termasuk kemungkinan membangun koperasi atau kelembagaan lain yang disepakati para petani.
Dengan demikian, Kalijaran Mapan diarahkan tidak menjadi program yang bergantung pada bantuan, melainkan ekosistem yang perlahan mampu menghidupi dirinya sendiri.
Baca juga: BPBD Cilacap menyiapkan antisipasi musim hujan yang mundur
Oleh Sumarwoto
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.